Sukses

Pengertian

Sleep apnea adalah gangguan tidur serius berupa kondisi pernapasan yang terganggu saat seseorang tidur. Jika tidak ditangani dengan baik, penderita akan berulang kali mengalami kondisi berhenti napas ketika tidur. Hal tersebut dapat berbahaya, karena artinya tubuh terutama otak tidak mendapatkan oksigen secara memadai sebagaimana mestinya.

Gangguan tidur sleep apnea juga dapat menyebabkan komplikasi gangguan metabolik. Beberapa gangguan yang umum dialami orang dengan kondisi ini adalah tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan pembuluh darah seperti gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, serangan jantung, stroke, dan gangguan kejiwaan seperti depresi, ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), dan nyeri kepala. Selain itu sleep apnea dapat menyebabkan masalah pada aktivitas rutin seperti bersekolah dan bekerja, serta kecelakaan saat berkendara.

Gangguan tidur ini dapat menyerang siapa saja. Namun demikian ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko sleep apnea, yaitu:

  • laki-laki
  • memiliki berat badan berlebih
  • usia lebih dari 40 tahun
  • memiliki lingkar leher besar (lebih dari 42 cm pada laki-laki dan 40 cm pada wanita)
  • memiliki tonsil yang besar, lidah yang besar, atau tulang rahang bawah yang kecil
  • memiliki riwayat keluarga dengan sleep apnea
  • memiliki gastroesophageal reflux atau GERD
  • kerap mengalami hidung tersumbat karena septum deviasi, alergi, atau masalah sinus

Sleep Apnea

Penyebab

Berdasarkan penyebabnya terdapat dua macam sleep apnea, yaitu:

  • Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Tipe ini merupakan jenis gangguan yang paling sering terjadi. OSA terjadi karena adanya sumbatan pada jalan napas. Biasanya disebabkan oleh jaringan lunak pada tenggorokan belakang yang terjatuh saat seseorang tidur.

  • Central sleep apnea

Pada tipe ini tidak terjadi sumbatan pada jalan napas. Akan tetapi otak gagal memberikan sinyal ke otot untuk bernapas. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan pusat pengendali pernapasan.

Diagnosis

Dokter dapat menduga adanya gangguan tidur sleep apnea dari riwayat kondisi penderita dan gejala yang terjadi. Pemeriksaan terhadap sleep apnea, yaitu polisomnogram akan dilakukan untuk memastikan masalah gangguan tidur. Tes polisomnogram atau studi tidur adalah menguji beberapa komponen yang secara elektronik mentransmisikan dan merekam aktivitas fisik tertentu saat tidur.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan meliputi:

  • EEG (electroencephalogram) untuk merekam gelombang aktivitas otak
  • EMG (electromyogram) untuk merekam aktivitas otot seperti gerakan kaki, kedutan wajah dan menentukan adanya tahap tidur REM saat terjadinya mimpi intens sering muncul
  • EOG (electro-oculogram) untuk merekam gerakan mata
  • EKG (elektrokardiogram) untuk merekam detak dan irama jantung
  • Sensor aliran udara hidung
  • Mikrofon dengkuran untuk merekam aktivitas mendengkur

Gejala  

Gejala sleep apnea yang umumnya dialami penderita meliputi:

  • bangun tidur dengan tenggorokan terasa kering atau nyeri
  • mendengkur kencang
  • sesekali terbangun dengan rasa tercekik atau terengah engah
  • mengantuk atau kurang berenergi pada siang hari
  • mengantuk ketika berkendara
  • nyeri kepala pada pagi hari
  • tidur yang gelisah
  • pelupa, mood mudah berubah, dan kurangnya hasrat seksual
  • insomnia atau terbangun berkali-kali

Pengobatan

Penanganan terhadap gangguan tidur sleep apnea sangat bervariasi meliputi:

  • perubahan gaya hidup seperti penurunan berat badan, perubahan posisi tidur, menghindari alkohol dan pil tidur, berhenti merokok, dan menghindari tidur dengan posisi terlentang.
  • terapi CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), yaitu pemberian aliran udara ke hidung secara terus-menerus sehingga saluran napas tetap terbuka agar napas berlangsung lancar.
  • pemasangan perangkat sleep apnea dan gigi, dilakukan untuk membuat saluran napas tetap terbuka saat tidur.
  • pembedahan, dilakukan untuk deviasi septum, tonsil yang membesar, atau rahang bawah yang kecil

Pencegahan

Upaya pencegahan terhadap gangguan sleep apnea dapat dilakukan dengan menghindari hal-hal yang dapat meningkatkan risiko. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan seperti:

  • menjaga berat badan ideal
  • menghindari konsumsi alkohol, obat tidur, dan tidak merokok
  • menghindari makanan pencetus asam lambung naik