Sukses

Pengertian

Persistent vegetative state merupakan kondisi penurunan kesadaran yang ditandai dengan keadaan penderita yang terkesan dalam keadaan terbangun, tetapi tidak dapat memberikan respons terhadap orang lain dan lingkungan di sekitarnya.

Penderita bisa membuka dan mengedipkan mata, kadang bisa juga menguap atau mengeluarkan suara tak jelas. Namun demikian penderita tidak bisa menggerakkan anggota tubuh dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Gangguan kesadaran ini terjadi secara jangka panjang, umumnya lebih dari empat minggu. Sebagian besar kasus persistent vegetative state tidak bisa pulih.

Kondisi persistent vegetative state harus dibedakan dengan jenis penurunan kesadaran lainnya, seperti:

  • Koma, yaitu jenis penurunan kesadaran yang ditandai dengan penderitanya yang sama sekali tidak sadar. Mata tertutup, tidak ada respons saat dipanggil, juga tidak memberi reaksi saat diberi rangsang nyeri. Koma biasanya berlangsung selama 2–4 minggu. Jika lebih dari itu, koma umumnya berkembang menjadi vegetative state atau minimally conscious state.
  • Minimally conscious state, yaitu gangguan kesadaran yang ditandai dengan kesadaran yang naik turun. Kadang kala penderitanya sadar penuh, kadang tidak dapat merespons lingkungan sekitarnya. Kondisi ini bisa merupakan kondisi permanen, namun dapat pula terjadi sementara waktu.

Penyebab

Penyebab persistent vegetative state sangat bervariasi. Namun pada prinsipnya, kondisi ini terjadi karena gangguan pada otak. Gangguan tersebut dapat berupa:

  • Cedera kepala berat

  • Keracunan zat yang mempengaruhi otak, misalnya keracunan alkohol atau narkotika

  • Stroke sumbatan (stroke iskemik)

  • Perdarahan otak

  • Gangguan otak lainnya

Diagnosis

Kondisi persistent vegetative state dapat diketahui dengan melakukan observasi dan pemeriksaan fisik pada penderita. Adanya persistent vegetative state dipastikan oleh dokter spesialis saraf.

Selanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab persistent vegetative state, di antaranya adalah pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan ginjal, pemeriksaan gula darah, serta CT-scan atau MRI otak.

Gejala

Penderita persistent vegetative state sepintas tampak seperti orang normal. Penderita dapat membuka mata, bernapas spontan layaknya orang normal, memiliki waktu tidur dan bangun, melakukan gerakan secara tak sadar dan tak bertujuan (misalnya menggerakkan lengan atau kaki), mengeluarkan suara yang tak jelas (misalnya mengeluarkan suara “aaah”, “oooh”, dan sejenisnya).

Namun demikian, penderita tidak dapat memberikan respons terhadap lingkungan sekitarnya. Jika diajak bicara, penderita tidak akan bisa menanggapi, serta tidak bisa menunjukkan emosi. Selain itu, penderita persistent vegetative state juga hanya dapat berbaring atau duduk di tempat tidur, tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari.

Pengobatan

Pengobatan persistent vegetative state membutuhkan waktu yang lama, tak jarang seumur hidup. Penderita gangguan ini tidak selalu dapat pulih. Sebagian kasus persistent vegetative state akan terjadi permanen.

Pengobatan kondisi ini bersifat suportif. Artinya penanganan dilakukan untuk mendukung pasien agar bisa hidup seoptimal mungkin.

Penderita persistent vegetative state tidak bisa mengunyah dan menelan makanan. Oleh karena itu, perlu dipasang selang makanan (feeding tube) yang dimasukkan dari hidung atau mulut ke lambung sebagai sarana untuk memberi makanan untuk penderita. Makanan yang dimasukkan ke dalam selang berupa makanan yang diblender atau susu.

Selain itu, untuk mencegah terjadinya luka di punggung dan bokong yang bisa terjadi akibat berbaring lama, penderita harus dimiringkan ke kiri dan ke kanan setiap dua jam sekali. Untuk menjamin kecukupan kalsium dan vitamin D, sebisa mungkin penderita gangguan ini dipaparkan pada sinar matahari di pagi hari selama setidaknya 30 menit.

Penderita juga membutuhkan fisioterapi yang bertujuan untuk menggerakkan sendi-sendinya. Hal ini penting dilakukan secara rutin untuk mencegah sendinya mengalami kontraktur (kekakuan sendi).

Selain itu, perawatan sehari-hari penderita seperti mandi, sikat gigi, buang air besar, buang air kecil juga perlu dibantu.

Meskipun tak memberi respons pada orang di sekitarnya, namun rangsang suara (dengan mengajak bicara), sentuhan (menyentuh atau memijat penderita), penciuman (menaruh bunga yang harum di ruangan, menggunakan aromaterapi), visual (menunjukkan foto-foto penderita) harus tetap dilakukan untuk mendukung pemulihan otak.

Pencegahan

Hingga saat ini belum ada hal yang dapat dilakukan untuk mencegah persistent vegetative state.