Masalah Pernapasan

Parainfluenza

dr. Marsita Ayu Lestari, 01 Sep 2023

Ditinjau Oleh

Memiliki gejala yang mirip, apa perbedaan parainfluenza dengan pilek biasa? Simak gejala dan cara pengobatan parainfluenza selengkapnya di sini.

Parainfluenza

Parainfluenza

Dokter spesialis 

Spesialis Paru; Spesialis Anak; Spesialis Penyakit Dalam; Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan

Gejala

Demam, batuk menggonggong, suara serak, bersin, pilek, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, sesak napas, mengi, mata merah, nyeri telinga, nafsu makan menurun

Faktor risiko

Gizi buruk, imunisasi tidak lengkap, kekurangan vitamin A, hunian yang padat, lahir prematur

Cara diagnosis

Wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang

Pengobatan

Istirahat yang cukup, terpapar dengan sinar matahari di pagi atau sore hari, mengonsumsi makanan bergizi dan suplemen; terapi untuk meringankan gejala, terapi suportif, fisioterapi dada

Obat 

Analgesik, kortikosteroid, dekongestan, antibiotik dan oksigen (bila perlu)

Komplikasi 

Gangguan pernapasan berat, periode henti napas berulang

Kapan harus ke dokter?

Gejala yang memberat, seperti sesak napas, kulit membiru, demam tinggi, suara serak, atau termasuk pada kelompok berisiko

Pengertian Parainfluenza

Parainfluenza adalah penyakit yang disebabkan oleh kelompok virus human parainfluenza (HPIVs) yang dapat menyerang anak-anak dan dewasa. Terdapat empat golongan virus yang masuk dalam kelompok ini. Masing-masing virus akan memberikan gejala dan penyakit yang berbeda. Akan tetapi, semua jenis virus ini dapat menyebabkan infeksi baik di saluran napas bagian atas maupun bawah.

Meskipun terlihat sama, terdapat perbedaan influenza dan parainfluenza. Diantaranya dilihat dari gejala dan cara penularannya. Bedanya, parainfluenza disebabkan oleh virus Paramyxoviridae, sedangkan influenza disebabkan oleh famili virus Orthomyxoviridae. 

Vaksin dan obat antivirus untuk influenza sudah tersedia, sedangkan untuk parainfluenza belum tersedia. Pada umumnya parainfluenza tidak membutuhkan pengobatan khusus dan dapat berangsur sembuh dengan sendirinya pada mereka yang memiliki daya tahan tubuh cukup baik. Namun, jika penderita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, maka serangan parainfluenza dapat berisiko menjadi infeksi yang mematikan.

Penyebab Parainfluenza

Terdapat empat golongan virus yang dapat menyebabkan parainfluenza, yaitu:

1. HPIV-1

HPIV-1 adalah penyebab utama batuk rejan (croup) pada anak-anak. Croup merupakan penyakit saluran napas yang menyebabkan peradangan pada pita suara dan saluran napas atas lainnya. 

2. HPIV-2

HPIV 2 juga kerap menjadi penyebab croup pada anak-anak. Meski demikian, jenis yang satu ini tidak sesering HPIV-1.

3. HPIV-3

HPIV-3 sering berhubungan dengan penyebab pneumonia dan bronkiolitis. Pneumonia adalah infeksi pada salah satu paru atau keduanya. Sedangkan, bronkiolitis merupakan peradangan pada ranting tenggorokan. Ranting tenggorokan ini menghubungkan antara cabang tenggorokan (bronkus) dengan kantong udara di paru (alveolus).

4. HPIV-4

HPIV-4 merupakan tipe yang paling jarang ditemui. Virus ini dikelompokkan menjadi 2, yaitu HPIV-4a dan HPIV-4b.

Adapun cara penularan parainfluenza dapat melalui:

  • Kontak langsung dengan percikan ludah (droplet) yang terinfeksi HPIV yang tersebar di udara ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. 
  • Secara tidak langsung dengan permukaan benda yang terkontaminasi dengan percikan ludah (droplet) yang terinfeksi. Virus ini dapat bertahan selama > 1 jam bergantung pada kondisi lingkungan. 

Gejala Parainfluenza

Gejala parainfluenza biasanya muncul pada hari kedua hingga tujuh setelah terinfeksi. Gejala-gejalanya dapat berupa:

1. Demam

Menurut Harrison's Principles of Internal Medicine, dikatakan demam bila suhu inti (dubur) 37,5°C–38,3°C, suhu kulit (ketiak) >37,2°C, suhu oral pagi hari >37,2°C, atau suhu oral sore hari >37,7°C, dengan ambang batas yang lebih rendah berlaku untuk orang lanjut usia yang lemah. 

2. Batuk Menggonggong

Batuk menggonggong (barky cough) ditemukan pada croup (laringitis akut). Selain itu, juga ditemukan suara mengorok (stridor) dan suara serak (hoarseness) pada croup. 

3. Suara Serak

Suara serak (disfonia) dapat dipengaruhi oleh ketidakteraturan tonus otot osilasi pita suara, penutupan glotis yang tidak sempurna pada vokalisasi, atau peningkatan massa pita suara.

4. Bersin

Bersin merupakan refleks normal berupa semburan udara yang tiba-tiba dan tidak terkendali melalui hidung. Kondisi ini disebabkan oleh iritasi di rongga hidung, dan pemicunya seperti serbuk bunga, bulu hewan, debu, dan lain-lain. 

5. Pilek 

Pilek merupakan keadaan ketika hidung mengeluarkan lendir yang diproduksi oleh kelenjar di hidung

6. Hidung Tersumbat 

Hidung tersumbat merupakan persepsi berkurangnya aliran udara hidung atau rasa penuh pada wajah, yang disebabkan oleh peradangan mukosa, peningkatan sekresi dan pembengkakan selaput lendir hidung.

7. Nyeri Tenggorokan

Nyeri tenggorokan (faringitis) adalah radang tenggorokan (orofaring), yang dapat disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus, jamur, dan lain-lain) dan non-infeksi (merokok, kelembapan/AC, polusi, dan lain-lain).

8. Sesak Napas

Sesak napas (dyspnoe) merupakan sensasi tidak nyaman saat bernapas dan hasil interaksi dari faktor fisik, jiwa, sosial, dan lingkungan. 

9. Mengi

Mengi (wheezing) merupakan suara seperti siulan sebagai akibat penyempitan saluran napas. 

10. Mata Merah

Mata merah merupakan tanda peradangan mata, yang sering disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah di bagian depan mata. 

11. Nyeri Telinga

Nyeri telinga dapat disebabkan oleh peradangan membran timpani dan peningkatan tekanan telinga bagian tengah yang menyebabkan membran timpani membengkak.

12. Nafsu Makan Menurun

Nafsu makan menurun dapat dipengaruhi oleh terganggunya indra penciuman saat flu akibat hidung tersumbat, ingus, dan sebagainya, yang mempengaruhi indra perasa. 

Artikel lainnya: Amankah Nebulizer untuk Bayi? Ini 7 Cara Menggunakannya

Faktor Resiko Parainfluenza

Seseorang dapat terinfeksi HPIV beberapa kali selama hidupnya (infeksi berulang). Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko parainfluenza:

1. Gizi Buruk

Gizi buruk dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga memudahkan terjadinya parainfluenza

2. Imunisasi Dasar yang Tidak Lengkap

Bayi dan batita merupakan kelompok dengan daya tahan tubuh yang rentan terhadap penyakit, termasuk ISPA dan organ pernapasannya belum mencapai kematangan yang sempurna. Imunisasi dasar yang tidak lengkap akan mempengaruhi daya tahan tubuh.

3. Kekurangan (defisiensi) Vitamin A

Mengonsumsi vitamin A dapat memelihara sel dan meningkatkan respons antibodi terhadap kuman. Kekurangan vitamin A memudahkan terjadinya parainfluenza.

4. Hunian yang Padat

Hunian yang padat mempermudah penularan parainfluenza.

5. Lahir Prematur

Bayi yang lahir prematur mempunyai organ pernapasan yang belum matang secara sempurna dan dapat lahir dengan berat badan lahir sangat rendah. Penelitian menunjukkan bahwa wabah parainfluenza tipe 3 ditemukan pada bayi yang dirawat di unit perawatan intensif neonatus (bayi baru lahir).

Artikel lainnya: Yuk, Ketahui Jarak dan Jadwal Imunisasi Anak

Diagnosis Parainfluenza

Dokter dapat menentukan diagnosis parainfluenza dari wawancara medis dan pemeriksaan fisik, terutama untuk parainfluenza yang disebabkan oleh HPIV-1, dengan gejala yang menonjol adalah batuk rejan. Sedangkan, untuk jenis HPIV lainnya memerlukan pemeriksaan penunjang.

Adapun pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan:

  • Saturasi oksigen
  • Rontgen dada
  • Pemeriksaan darah lengkap
  • Uji usap (swab test) tenggorokan dan hidung
  • Kultur virus
  • Analisis gas darah

Artikel lainnya: Langkah Cepat Atasi Gangguan Pernapasan anak di Rumah 

Pengobatan Parainfluenza

Berikut beberapa cara untuk mengobati parainfluenza:

  • Sebagian besar kasus dapat sembuh dengan sendirinya. Penderita dianjurkan untuk istirahat yang cukup, terpapar dengan sinar matahari di pagi atau sore hari, dan mengonsumsi makanan bergizi dan suplemen terutama vitamin C dan D.
  • Terapi suportif seperti pemberian oksigen dapat diberikan pada penderita dengan saturasi oksigen yang rendah (SpO2 <92%). 
  • Mengobati sesuai gejala, seperti analgesik, kortikosteroid, dan antibiotik bila parainfluenza disertai infeksi bakteri, misalnya pada radang telinga (otitis) dan radang sinus (sinusitis). 
  • Fisioterapi dada.

Pencegahan Parainfluenza

Upaya mencegah parainfluenza, antara lain:

  • Menjaga kebersihan diri sendiri dengan mencuci tangan yang rajin dan teratur.
  • Menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan membersihkan permukaan yang dapat menjadi tempat tinggal virus.
  • Sedapat mungkin untuk menghindari kontak langsung dengan penderita parainfluenza atau memakai masker bila berkomunikasi dengan penderita parainfluenza.
  • Penting juga untuk memerhatikan kebersihan anak-anak atau orang lanjut usia yang berada di bawah pengawasan mu sebagai orang dewasa yang sehat.

Komplikasi Parainfluenza

Meskipun dapat sembuh dengan sendirinya, parainfluenza yang tidak tertangani dengan baik dapat berisiko komplikasi, seperti:

Obat Terkait Parainfluenza

Perlu diingat untuk menghindarkan pemberian aspirin terhadap anak-anak dan remaja. Dikhawatirkan, pemberian obat ini dapat menyebabkan sindrom Reye yang membahayakan.

Kapan Harus ke Dokter?

Secara umum, gejala parainfluenza tidak parah sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran pada orang dewasa dan anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang baik. Namun, gejala dapat berisiko menimbulkan kematian bila parainfluenza menginfeksi bayi, orang lanjut usia, atau dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. 

Segera periksakan dirimu atau mereka yang ada dalam pengawasan mu, bila terdapat gejala yang memberat, seperti:

  • Sesak napas atau sulit bernapas
  • Bibir dan kulit membiru
  • Demam tinggi di atas 41°C
  • Termasuk dalam kelompok berisiko

Ingin tahu lebih banyak tentang parainfluenza dan cara mengatasinya? yuk #JagaSehatmu dengan download aplikasi KlikDokter dan manfaatkan layanan konsultasi kesehatan 24 jam langsung dengan dokter melalui fitur Tanya Dokter online.

[LUF]

  1. Branche AR, Falsey AR. Parainfluenza Virus Infection. Seminars in Respiratory and Critical Care Medicine. 2016;4(37):538-54.
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis 2009. Diakses 14 April 2023.
  3. Waghmare A, Wagner T, Andrews R, Smith S, Kuypers J, Boeckh M, et al. Successful Treatment of Parainfluenza Virus Respiratory Tract Infection With DAS181 in 4 Immunocompromised Children. Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society. 2015;2(4):114–18.
  4. Gul A, Khan S, Arshad M, Anjum SI, Attaullah S, Ali I, Rauf A, et al. Peripheral Blood T Cells Response in Human Parainfluenza Virus-Associated Lower Respiratory Tract Infection in Children. Saudi Journal of Biological Sciences. 2020;27:2847–52.
  5. JAMA. Croup. JAMA Patient Page. 2019;16(321).
  6. Parija SC. Human Parainfluenza Viruses (HPIV) and Other Parainfluenza Viruses Medication. Medscape. 2020.
  7. Pecchini R, Berezin EN, Souza MC, Vaz-de-Lima BA, Sato N, Salgado M, et al. Parainfluenza Virus as a Cause of Acute Respiratory Infection in Hospitalized Children. BRAS J INFECT DIS. 2015;19(4):358–62.
  8. Fathima S, Simmonds K, Invik J, Scott AN, Drews AN. Use of Laboratory and Administrative Data to Understand the Potential Impact of Human Parainfluenza Virus 4 on Cases of Bronchiolitis, Croup, and Pneumonia in Alberta, Canada. BMC Infectious Diseases. 2016;402(16).1-8. 
  9. Lewandowska-Polak A, Brauncajs M, Paradowska E, Jarzębska M, Kurowski M, Moskwa S, et al. Human Parainfluenza Virus Type 3 (HPIV3) Induces Production of IFNγ and RANTES in Human Nasal Epithelial Cells (HNECs). Journal of Inflammation. 2015;16(12).1-7.
  10. CDC. Human Parainfluenza Viruses (HPIVs). https://www.cdc.gov/parainfluenza/index.html Accessed 14 April 2023.
  11. CDC. Human Parainfluenza Viruses (HPIVs). https://www.cdc.gov/parainfluenza/hcp/clinical.html Accessed 14 April 2023.
  12. Mackowiak PA, Chervenak FA, Grünebaum A. Defining Fever. Open Forum Infect Dis. 2021;8(6).
  13. Reiter R, Hoffmann TK, Pickhard A, Brosch S. Hoarseness-causes and treatments. Dtsch Arztebl Int. 2015;112(19):329-37.
  14. Ramvikas M, Arumugam M, Chakrabarti SR, Jaganathan KS. Nasal Vaccine Delivery. Micro and Nanotechnology in Vaccine Development. 2017:279–301.
  15. Naclerio RM, Bachert C, Baraniuk JN. Pathophysiology of nasal congestion. Int J Gen Med. 2010;3:47-57.
  16. Renner B, Mueller CA, Shephard A. Environmental and non-infectious factors in the aetiology of pharyngitis (sore throat). Inflamm Res. 2012;
  17. Coccia CB, Palkowski GH, Schweitzer B, Motsohi T, Ntusi NA. Dyspnoea: Pathophysiology and a clinical approach. S Afr Med J. 2016;106(1):32-6.
  18. Sambominanga PS, Ismanto AY, Onibala F. Hubungan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Penyakit ISPA Berulang pada Balita di Puskesmas Ranotana Weru Kota Manado. Jurnal Keperawatan UNSRAT. 2014;
  19. Maeda H, Haneda K, Honda Y. Parainfluenza virus type 3 outbreak in a neonatal intensive care unit. Pediatr Int. 2017;59(11):1219-22.