Sukses

Pengertian

Hipomagnesemia merupakan suatu kondisi ketika kadar magnesium dalam darah jumlahnya jauh di bawah normal (< 1,8 mg/dL). Kondisi ini tergolong sangat jarang terjadi pada orang normal. Mereka yang kurang asupan magnesium dan menggunakan obat diuretik adalah kelompok yang rentan mengalami hipomagnesemia.

Magnesium merupakan salah satu jenis elektrolit yang memegang berbagai fungsi penting pada proses kerja tubuh. Di antaranya adalah menjaga kesehatan tulang, produksi protein dalam tubuh, menunjang kerja saraf, jantung, otot, dan menjaga kestabilan gula darah serta tekanan darah. Bila kadar magnesium dalam darah jumlahnya tidak mencukupi, seluruh proses kerja tubuh inilah yang akan dipertaruhkan.

Penyebab

Hipomagnesemia dapat disebabkan karena beberapa hal, seperti:

  • Kurangnya asupan makanan yang kaya akan magnesium. Ini terutama terjadi pada kasus malnutrisi, kecanduan alkohol, dan kelompok lansia.
  • Berkurangnya kemampuan usus dalam menyerap magnesium dari makanan.
  • Terbuangnya magnesium dari tubuh melalui urine pada penggunaan obat diuretik dan melalui feses pada kasus diare.
  • Penggunaan obat protein pump inhibitor (PPI) dalam jangka waktu lama, yaitu > 1 tahun yang dibarengi dengan penggunaan diuretik.
  • Penggunaan obat amfoterisin B.
  • Diabetes melitus tipe 2, ketika terjadi peningkatan frekuensi buang air kecil.
  • Kecanduan alkohol.
  • Penggunaan obat kemoterapi tertentu.

Seluruh kondisi ini dapat menyebabkan merosotnya kadar magnesium dalam darah yang berujung pada hipomagnesemia.

Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis hipomagnesemia, diperlukan serangkaian wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan penunjang. Diagnosis ini kemudian bisa dikonfirmasi dengan pemeriksaan elektrolit darah.

Pada pemeriksaan elektrolit darah akan didapatkan kadar magnesium yang jumlahnya < 1,8 mg/dL. Normalnya, kadar magnesium darah ada di kisaran 1,8–2,2 mg/dL. Seseorang dianggap mengalami hipermagnesemia berat bila kadarnya sudah menyentuh angka < 1,25 mg/dL.

Gejala

Pada tahap awal, hipomagnesemia dapat menunjukkan beberapa gejala berikut:

  • Mual dan muntah
  • Tubuh terasa lemah
  • Penurunan nafsu makan

Bila kondisi hipomagnesemia terus terjadi dan bertambah berat, maka gejala yang akan muncul kemudian adalah:

  • Baal pada tubuh
  • Kedutan
  • Kram otot
  • Kejang
  • Kaku otot
  • Perubahan pola tingkah laku
  • Detak jantung tidak teratur

Pengobatan

Pada tahap awal, hipomagnesemia umumnya dapat dikoreksi dengan beberapa tahap pengobatan, seperti:

  • pemberhentian obat yang mendorong pembuangan magnesium dari dalam tubuh
  • pemberian suplementasi magnesium dalam bentuk obat minum
  • menganjurkan penderita untuk mengonsumsi makanan yang tinggi magnesium, seperti bayam, almon, kacang mete, kacang tanah, kacang kedelai, roti gandum, alpukat, pisang, salmon dan kentang yang diolah beserta kulitnya
  • pada kasus hipomagnesemia berat, pengobatan juga dilakukan dengan pemberian suplementasi magnesium melalui infus

Komplikasi

Hipomagnesemia yang tidak segera ditangani dapat berujung pada berbagai komplikasi seperti:

  • kejang
  • detak jantung tidak teratur
  • kekakuan pembuluh darah koroner di jantung
  • kematian mendadak

Pencegahan

Hipomagnesemia dapat dicegah dengan menghindari berbagai faktor risikonya, yaitu:

  • Menjaga kecukupan asupan makanan yang kaya akan magnesium.
  • Tidak sembarangan menggunakan obat-obatan seperti diuretik dan protein pump inhibitor. Pastikan selalu di bawah pengawasan dokter.
  • Menghindari konsumsi alkohol.
  • Menjaga kadar gula darah tetap stabil pada penderita diabetes melitus tipe 2.