Sukses

Pengertian

Angina pektoris merupakan salah satu jenis penyakit jantung yang disebabkan karena otot jantung kekurangan pasokan oksigen dan darah. Angina pektoris terjadi karena adanya sumbatan pada pembuluh darah arteri koroner di jantung.

Secara umum, terdapat dua jenis angina pektoris, yaitu:

  • Angina pektoris stabil, yaitu angina pektoris yang terjadi akibat sumbatan kronis pada pembuluh darah koroner. Pada jenis ini, penderitanya biasanya mengeluh nyeri dada bila beraktivitas terlalu berat (misalnya berolahraga), dan nyeri dadanya akan berkurang jika penderitanya beristirahat.
  • Angina pektoris tidak stabil, yaitu angina pektoris yang terjadi akibat sumbatan mendadak pada pembuluh darah koroner. Secara awam, kondisi ini sering disebut serangan jantung.

Gejalanya berupa nyeri dada yang terjadi mendadak, tidak membaik meskipun sudah beristirahat, bahkan tidak membaik walaupun sudah minum obat-obatan.

Tulisan ini akan membahas angina pektoris yang stabil.

Penyebab

Angina pektoris dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:

  • Paparan asap rokok
  • Diabetes melitus
  • Kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia)
  • Hipertensi
  • Obesitas
  • Anemia berat (hemoglobin kurang dari 8 mg/dl)
  • Hipertiroidisme
  • Aritmia (irama jantung tidak teratur)
  • Ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga

Diagnosis

Pada pemeriksaan awal, dokter akan melakukan wawancara lengkap dan pemeriksaan fisik menyeluruh. Setelah itu, dapat dilakukan pemeriksaan rekam jantung (elektrokardiografi) dan pemeriksaan rontgen dada.  Namun demikian, kadang hasil kedua pemeriksaan tersebut menunjukkan hasil yang normal.

Untuk memastikan ada tidaknya angina pektoris, perlu dilakukan pemeriksaan exercise stress testing atau sering disebut treadmill test. Pada pemeriksaan ini, penderita akan dipasangi alat rekam jantung sambil menjalani treadmill.

Treadmill test akan dilakukan bertahap –mulai dari berjalan, jalan cepat, hingga berlari. Saat itu, akan rekam jantung dilakukan terus menerus. Dokter akan mengamati apakah ada perubahan rekam jantung atau keluhan nyeri dada selama olahraga dengan treadmill dilakukan.

Selain itu, jarang perlu dilakukan pula pemeriksaan ekokardiografi untuk mengetahui fungsi pompa jantung dan kondisi katup-katup jantung.

Pada kasus angina pektoris yang berat dan tidak membaik dengan berbagai obat-obatan, kadang perlu dilakukan angiografi koroner, atau secara awam dikenal dengan istilah kateterisasi. Pada pemeriksaan angiografi koroner, semacam kamera akan dimasukkan melalui pembuluh darah sampai ke jantung. Lalu akan dapat dilihat bagaimana struktur anatomi pembuluh darah jantung dan apakah terdapat sumbatan di dalamnya.

Gejala

Gejala utama dari angina pektoris adalah nyeri dada. Nyeri dada terutama dirasakan di sisi kiri atau di dada tengah. Sensasi nyerinya seperti ditekan oleh barang yang sangat berat, atau seperti diremas-remas, atau seperti terbakar. Tak hanya di dada, nyeri juga bisa dirasakan di ulu hati, punggung, leher, bahu, dan rahang bawah.

Pada angina pektoris, nyeri dada muncul setelah dipicu oleh aktivitas berat (misalnya olahraga), setelah makan, kedinginan, atau mengalami emosi berlebihan. Nyerinya biasanya terjadi selama 1-5 menit, dan akan membaik setelah beristirahat atau setelah mengonsumsi nitrogliserin.

Pengobatan

Terdapat dua pengobatan utama untuk angina pektoris, yaitu:

  • Menghindari paparan asap rokok (berhenti merokok dan menjauhi orang yang merokok)
  • Mengendalikan penyakit-penyakit yang mencetuskan angina pektoris pada si penderita, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas

Mengenai kolesterol, pasien yang memiliki angina pektoris dianjurkan untuk menjaga kadar kolesterol low density lipoprotein (LDL) kurang dari 70 mg/dl. Hal itu bisa dicapai dengan berolahraga 4–5 kali per minggu dengan lama minimal 30 menit tiap kali olahraga, mengatur pola makan dengan memperbanyak sayuran dan buah, serta mengonsumsi obat penurun kolesterol sesuai petunjuk dokter bila diperlukan.

Selain itu, penderita angina pektoris juga membutuhkan obat pengencer darah seperti aspirin atau klopidogrel untuk mencegah sumbatan pada pembuluh darah koroner lebih berat.

Bila penderita angina pektoris mengalami hipertensi, umumnya obat antihipertensi yang akan diberikan dokter adalah obat antihipertensi yang juga bermanfaat untuk mengurangi beban jantung. Misalnya obat jenis beta bloker (propranolol, bisoprolol, atenolol, dan sebagainya), jenis angiotensin-converting enzyme inhibitor (captopril, ramipril, dan sebagainya), atau antagonis kanal kalsium.

Terapi revaskularisasi dengan pemasangan stent pada jantung atau dengan operai by-pass juga kadang diperlukan, terutama pada kondisi:

  • Pembuluh darah tersumbat total atau hampir total
  • Pembuluh darah yang mengalami sumbatan lebih dari satu
  • Penderita mengalami gejala yang sangat mengganggu meski sudah diberi berbagai macam obat oleh dokter

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya angina pektoris, lakukan gaya hidup sehat berupa:

  • Jauhkan diri dari paparan asap rokok
  • Pertahankan berat badan ideal
  • Olahraga teratur sebanyak 4–5 kali per minggu
  • Jika mengalami hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi, konsumsilah obat dengan teratur sesuai petunjuk dokter