Sukses

Pengertian Acetylcysteine

Acetylcysteine adalah obat generik golongan obat keras. Acetylcysteine tersedia dalam bentuk kapsul, cairan inhalasi, dan cairan infus. Obat ini dapat digunakan untuk mengencerkan dahak serta mengatasi keracunan paracetamol. Acetylcysteine bekerja dengan cara menurunkan kekentalan dahak. Pada kasus keracunan paracetamol, Acetylcysteine bekerja sebagai stimulan sintesis Glutathione. Glutathione diperlukan dalam metabolisme paracetamol sehingga tidak sampai menyebabkan hepatotoksisitas pada hati.

Keterangan Acetylcysteine

  1. Acetylcysteine Kapsul
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Sediaan Batuk dan Pilek / Sediaan Mata Lainnya / Antidot dan Agen Detoksifikasi
    • Kandungan: Acetylcysteine 200 mg
    • Bentuk: Kapsul
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 6 Strip @ 10 Kapsul; Box, 10 Strip @ 10 Kapsul
    • Farmasi: Pyridam Farma; Yarindo Farmatama; Indofarma; Nulab Pharmaceutical; Guardian Pharmatama; Etercon Pharma; Mahakam Beta Farma.
  2. Acetylcysteine Cairan Inhalasi
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Sediaan Batuk dan Pilek / Sediaan Mata Lainnya / Antidot dan Agen Detoksifikasi
    • Kandungan: Acetylcysteine 100 mg/ mL
    • Bentuk: Cairan Inhalasi
    • Satuan Penjualan: Ampul
    • Kemasan: Box, 5 Ampul @ 3 mL
    • Farmasi: Dexa Medica
  3. Acetylcysteine Cairan Infus
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Sediaan Batuk dan Pilek / Sediaan Mata Lainnya / Antidot dan Agen Detoksifikasi
    • Kandungan: Acetylcysteine 200 mg/ mL
    • Bentuk: Cairan Infus
    • Satuan Penjualan: Vial
    • Kemasan: Box, 1 Vial @ 25 mL
    • Farmasi: Pratapa Nirmala.

Merk dagang yang beredar di Indonesia:
Alstein, Fluimucil, N-Ace, Mucylin, Pectocil, Simucil.

Kegunaan Acetylcysteine

Acetylcysteine digunakan untuk mengencerkan dahak dan juga mengatasi keracunan Paracetamol.

Dosis & Cara Penggunaan Acetylcysteine

Acetylcysteine termasuk dalam golongan obat keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus sesuai anjuran dan resep dokter. 

  • Cairan Inhalasi
    Mukolitik
    Dewasa: Sebagai larutan 10%: 6-10 mL, diberikan 3-4 kali sehari, dosis dapat di tingkatkan menjadi 2-20 mL diberikan tiap 2-6 jam jika diperlukan.
    Sebagai larutan 20%: 3-5 mL, diberikan 3-4 kali sehari, dosis dapat di tingkatkan menjadi 1-10 mL diberikan tiap 2-6 setiap jam sesuai kebutuhan.
    Anak: Sama seperti dosis orang dewasa.
  • Intravena
    Keracunan parasetamol
    - Dewasa: Awalnya, diberikan 150 mg / kg (Maksimal: 16,5 g) dalam 200 mL pengencer lebih dari 1 jam, dilanjutkan dengan dosis 50 mg / kg (Maksimal: 5,5 g) dalam pengencer 500 mL selama 4 jam, kemudian diberikan dosis 100 mg / kg (Maksimal: 11 g) dalam 1 L pengencer selama 16 jam ke depan.
    - Anak dengan berat badan <20 kg: Awalnya, diberikan dosis 150 mg / kg berat badan dalam 3 mL / kg berat badan pengencer selama 1 jam, dilanjutkan dengan dosis 50 mg / kg berat badan dalam 7 mL / kg berat badan pengencer selama 4 jam, kemudian diberikan dosis 100 mg / kg dalam 14 mL / kg pengencer lebih 16 jam;
    - Anak dengan berat badan 20-39 kg: Awalnya, diberikan dosis 150 mg / kg berat badan dalam 100 mL pengencer selama 1 jam, dilanjutkan dengan dosis 50 mg / kg berat badan dalam pengencer 250 mL selama 4 jam, kemudian diberikan dosis 100 mg / kg dalam 500 mL pengencer selama 16 jam;
    - Anak dengan berat badan ≥40 kg: Sama seperti dosis dewasa.
  • Oral
    - Keracunan parasetamol
    Dewasa: Sebagai tablet effervescent: Awalnya, 140 mg / kg berat badan diikuti dengan 17 dosis pemeliharaan 70 mg / kg berat badan diberikan setiap 4 jam.
    Anak: Sama seperti dosis orang dewasa.
    - Mukolitik
    Dewasa: Sebagai bubuk untuk larutan oral: 200 mg diberikan 3 kali sehari. Maksimal: 600 mg setiap hari. Sebagai tablet effervescent: 600 mg sekali sehari.
    Anak: Sebagai bubuk untuk larutan oral:
    Anak usia 2-6 tahun: 100 mg, diberikan 2-4 kali sehari
    Anak usia > 6 tahun: 200 mg, diberikan 2-3 kali sehari.
    Sebagai tab effervescent: Anak usia > 6 tahun: diberikan dosis 600 mg sekali sehari.

Cara Penyimpanan:

  • Tablet Effervescent dan cairan yang belum dibuka: disimpan pada suhu 20-25°C.
  • Cairan oral dan cairan inhalasi: setelah terpapar udara, simpan pada suhu 2-8°C dan gunakan dalam 96 jam.
  • Cairan oftalmik: simpan dibawah suhu 25°C.

Efek Samping Acetylcysteine

Efek samping penggunaan Acetylcysteine yang mungkin terjadi adalah:

  • Mual, muntah
  • Gatal, kemerahan
  • Gangguan fungsi hati
  • Nyeri sendi
  • Demam, berkeringat
  • Henti napas.

Kontraindikasi:
Bubuk oral untuk larutan dan tablet effervescent tidak boleh diberikan pada anak usia di bawah 2 tahun.

Interaksi obat:

  • Penumpukan sekresi bronkial akibat berkurangnya refleks batuk dengan obat antitusif.
  • Mengurangi efek jika diberikan bersamaan dengan arang aktif.
  • Dapat meningkatkan efek vasodilatasi nitrogliserin.
  • Dapat mengurangi efek farmakologis antibiotik.

Kategori kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Acetylcysteine ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Overdosis:

  • Pada pemberian oral, gejala overdosis Acetylcysteine yang timbul adalah mual, muntah, diare dan reaksi anafilaktoid (reaksi alergi berat yang dapat mengancam jiwa).
  • Jika terjadi overdosis, dapat diberikan pengobatan simtomatik dan suportif (oleh tenaga medis). Dapat diberikan antihistamin dan steroid untuk anafilaksis.
Artikel
    Penyakit Terkait