Saraf

Mengenal Bagian dan Fungsi Batang Otak untuk Tubuh

Fatin Nur Jauhara, 24 Okt 2022

Ditinjau Oleh dr. Adeline Jaclyn

Batang otak berfungsi untuk mengatur berbagai fungsi tubuh. Cedera pada bagian ini dapat mengakibatkan kondisi fatal. Yuk, simak ulasannya pada artikel di bawah ini.

Mengenal Bagian dan Fungsi Batang Otak untuk Tubuh

Otak merupakan sistem saraf pusat. Organ ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu otak besar, otak kecil, dan batang otak. Nah, batang otak merupakan bagian dari otak yang menghubungkan otak dengan sumsum tulang belakang. 

Fungsinya mengatur beberapa aktivitas tubuh, seperti pernapasan dan detak jantung. Dengan kata lain, kehadiran batang otak sangat penting untuk tubuh manusia.Yuk, simak fungsi, cara kerja, dan risiko kesehatan yang mungkin terjadi pada batang otak berikut ini!

Mengenal Fungsi Batang Otak

Fungsi batang otak untuk tubuh sangat penting, karena bagian otak ini termasuk ke dalam sistem saraf pusat manusia. Batang otak bertugas dalam mengirim informasi antara otak dan bagian tubuh yang diperintah. Itu sebabnya, batang otak juga berperan penting dalam fungsi inti otak, seperti kesadaran dan pergerakkan.

Batang otak berfungsi untuk mengatur sebagian besar pekerjaan otomatis tubuh, seperti:

  • Keseimbangan
  • Tekanan darah
  • Pernapasan
  • Pendengaran
  • Detak jantung
  • Menelan

Artikel lainnya: Penting, Ini Cara Menjaga Kesehatan Otak

Bagian-Bagian Batang Otak yang Perlu Diketahui 

Di dalam batang otak terdapat 10 dari 12 saraf kranial atau saraf yang dimulai dari otak. Saraf-saraf tersebut berguna untuk mengontrol ekspresi wajah, rasa, dan sensasi. Saraf-saraf tersebut terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu:

1. Midbrain

Midbrain adalah bagian otak tengah yang terdiri dari neuron, jalur saraf, dan lain-lain. Bagian ini berada di bagian atas batang otak yang penting untuk mengatur gerakan mata, pendengaran, sensasi wajah, dan memproses informasi visual dan suara yang diterima oleh otak.

Pada bagian ini terdapat dua saraf, yaitu oculomotor nerve (saraf kranial III) dan trochlear nerve (saraf kranial IV).

2. Pons

Pons terdapat di bagian tengah batang otak. Pada bagian ini terdapat kumpulan saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak, dan terdapat ujung awal saraf kranial.

Saraf kranial berperan dalam mengatur pergerakan wajah, pendengaran, keseimbangan, dan mengantarkan informasi sensorik ke otak. Pada bagian ini terdapat empat saraf yang bekerja, yaitu:

  • Trigeminal nerve (saraf kranial V)
  • Abducens nerve (saraf kranial VI). 
  • Facial nerve (saraf kranial VII)
  • Vestibulocochlear nerve (saraf kranial VIII)

3. Medulla Oblongata

Bagian ini terdapat di paling bawah batang otak, yakni bagian otak yang bertemu dengan sumsum tulang belakang. 

Fungsi medulla oblongata antara lain, mengatur pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dan menelan. Bagian ini memiliki empat saraf, yaitu:

  • Glossopharyngeal nerve (saraf kranial IX)
  • Vagus nerve (saraf kranial X)
  • Accessory nerve (saraf kranial XI)
  • Hypoglossal nerve (saraf kranial XII)

Selain ketiga bagian di atas, batang otak juga memiliki reticular activating system (RAS) atau jaringan sel saraf yang bisa mengendalikan waktu tidur dan bangun kamu. RAS juga membantu kamu untuk tetap waspada di lingkungan sekitar tubuh. 

Artikel Lainnya: Penyebab Perdarahan Otak atau Hemoragik

Gangguan Batang Otak yang Mungkin Terjadi

Gangguan Batang Otak yang Mungkin Terjadi

Batang otak terletak di bagian bawah otak dan berada di dekat tulang sehingga rentan mengalami kerusakan ketika terjadi kecelakaan atau trauma kepala ringan maupun trauma kepala berat.

Disampaikan oleh dr. Adeline Jaclyn, “Batang otak yang mengalami cedera akan menyebabkan gejala, seperti kesulitan bernapas, berbicara, mengunyah, dan menelan.”

Berikut adalah beberapa kondisi yang bisa membuat batang otak mengalami cedera, seperti:

Selain itu, terdapat kondisi batang otak lain yang bernama mati batang otak. Kondisi ini terjadi ketika fungsi batang otak berhenti secara permanen sehingga penderitanya tidak memiliki kesadaran dan kemampuan untuk bernapas. 

Berdasarkan studi yang berjudul Brain Stem Death - an Overview, terdapat tiga ciri mati batang otak, yaitu henti napas (apnea), hilang pergerakan mata, dan tidak sadarkan diri. Penyebab dari kondisi ini yang paling umum adalah trauma di kepala, tumor di kepala, dan perdarahan atau sumbatan darah akibat stroke.

Artikel Lainnya: Ini Kebiasan Penyebab Kerusakan Otak yang Jarang Disadari

Kapan Periksa ke Dokter?

Cedera batang otak dapat menimbulkan efek yang parah, mengingat fungsi batang otak sangat penting untuk tubuh. Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk segera menemui dokter apabila terdapat tanda-tanda, seperti:

  • Pusing hingga kehilangan keseimbangan
  • Kesulitan untuk batuk atau muntah
  • Insomnia atau gangguan pola tidur
  • Mual
  • Bicara tidak jelas
  • Memiliki gejala stroke
  • Kesulitan menelan, minum, atau makan secara mendadak

Mendapatkan perawatan segera dapat menurunkan risiko cedera batang otak yang lebih parah sehingga meningkatkan kemungkinan untuk sembuh.

Artikel Lainnya: Kegiatan untuk Melatih Kesehatan Otak agar Tetap Terasah

Yuk, #JagaSehatmu dengan menghindari risiko yang membahayakan batang otak, seperti penyakit stroke. 

Risiko stroke dapat kamu minimalkan dengan mulai menerapkan pola hidup sehat dari sekarang. Kamu bisa mendapatkan tips kesehatan tepercaya di aplikasi KlikDokter atau bertanya langsung dengan dokter spesialis saraf melalui fitur Tanya Dokter

(APR/JKT)

Radang Otak
Trauma Kepala Ringan
Trauma Kepala Berat
Basinger H, Hogg JP. Diakses pada 2022. Neuroanatomy, Brainstem. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Huff T, Daly DT. Diakses pada 2022. Neuroanatomy, Cranial Nerve 5 (Trigeminal). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Brainstem. Queensland Health. Diakses pada 2022. Brain Map: Brain Stem. National Health Services Inform. Diakses pada 2022. Brain Stem Death. Saran J, Padubidri JR. Diakses pada 2022. Brain stem death – an overview. Medico-Legal Journal. 87(1):18-20.