Menurut data National Health Institute, sekitar dua persen wanita mengalami kista bartholin. Penyakit ini umumnya terjadi saat usia produktif dan risikonya semakin berkurang setelah memasuki masa menopause.
Jika ukurannya masih kecil, kista bartholin tidak muncul dengan bentuk spesifik. Biasanya, penderita mengalami iritasi ringan dan bisa hilang dengan sendirinya.
Namun, saat kista bartholin sudah membentuk abses, ada beberapa gejala yang umum terjadi. Misalnya, nyeri saat berjalan, duduk, buang air kecil, menstruasi, dan setelah berhubungan seksual.
Menurut dr. Arina Heidyana, penyebab utama munculnya kista bartholin adalah sumbatan pada kelenjar bartholin.
“Biasanya untuk mengetahui penyebab perlu pemeriksaan lebih lanjut. Kista bartholin juga bisa terjadi karena luka infeksi dan cedera,” tambah dr. Arina.
Untuk mengetahui penyebab kista bartholin, simak ulasan lengkapnya pada artikel berikut ini.
1. Neisseria Gonorrhoeae
:format(webp)/article/uljkK3H4jZVK8SIJ9_K5k/original/1670814012-Neisseria%20Gonorrhoeae.jpg?w=3840&q=75)
Apa penyebab kista bartholin? Salah satunya adalah Neisseria gonorrhoeae, penyakit gonore atau penyakit menular seksual yang sering disebut kencing nanah. Kondisi ini terjadi akibat kontak seksual yang tidak sehat.
2. Chlamydia Trachomatis
Chlamydia trachomatis atau klamidia juga merupakan penyakit yang cukup sering terjadi akibat aktivitas seksual, seperti melakukan seks anal dan seks oral.
Pada wanita, klamidia bisa memicu kista bartholin. Namun, pemeriksaan secara rutin bisa mencegah terjadinya klamidia, terutama untuk kamu yang aktif melakukan hubungan seksual.
Artikel Lainnya: Apa Bedanya Kista Bartholin, Kista Nabothi, dan Kista Gartner?
3. Escherichia Coli
Escherichia coli atau bakteri E. coli adalah salah satu penyebab kista bartholin. Bakteri ini bisa berasal dari makanan, menular dari hewan, proses pembuangan pada manusia, hingga lingkungan.
Selain bisa menyebabkan kista bartholin, bakteri ini juga bisa menyebabkan diare, infeksi saluran kemih, penyakit pernapasan seperti pneumonia, dan beberapa penyakit lain.
4. Streptococcus Pneumoniae
Streptococcus pneumoniae adalah jenis bakteri yang bisa hidup dengan dan tanpa bantuan oksigen (anaerob fakultatif). Bakteri ini umumnya menimbulkan beberapa jenis penyakit, terutama pada saluran pernapasan.
Pada banyak kasus, penyebaran bakteri ini bisa berasal dari orang yang batuk dan bersin. Pada wanita, bakteri streptococcus pneumoniae bisa menjadi penyebab kista bartholin.
5. Haemophilus Influenzae
Penyebab timbulnya kista bartholin juga bisa karena Haemophilus influenzae, penyakit yang disebabkan bakteri haemophilus influenzae.
Bakteri ini bisa menimbulkan infeksi telinga, infeksi aliran darah, dan menjadi penyebab kista bartholin.
Salah satu cara mencegah penyebaran bakteri haemophilus influenzae adalah mendapatkan vaksin haemophilus influenzae tipe b atau Hib. Vaksin ini bisa kamu dapatkan di puskesmas, klinik, dan rumah sakit.
Artikel Lainnya: Jangan Keliru, Kenali Beda Kista dan Tumor
Menurut penjelasan dr. Arina, untuk menghindari penyakit kista bartholin, kamu perlu menjaga kebersihan organ kewanitaan dan segera memeriksakan diri jika menemukan gejala kista bartholin.
Jika kamu masih memiliki pertanyaan, seputar masalah kesehatan kewanitaan dan juga reproduksi, konsultasikan dengan lebih mudah melalui fitur Tanya Dokter di KlikDokter.
Jangan lupa download aplikasi KlikDokter untuk mendapatkan informasi kesehatan terbaru sebagai solusi mudah #JagaSehatmu.
(DA/JKT)
- NHS. Diakses 2022. Overview Bartholin's cyst,
- CDC. Diakses 2022. E. coli (Escherichia coli),
- Wisconsin Division Of Public Health, Department Of Health Services USA. Diakses 2022. Streptococcus pneumoniae, Invasive (Pneumococcal disease).
:format(webp)/article/G1cjI7pZcVao4veYWjZL4/original/1670813978-Wanita%20Wajib%20Tahu,%20Ini%205%20Penyebab%20Kista%20Bartholin.jpg)