Sukses

Dampak Buruk Self Diagnosis Gangguan Kesehatan Mental

Sering gelisah sehingga Anda melakukan self diagnosis mengalami gangguan kesehatan mental? Awas, menurut psikolog, tindakan ini bisa berbahaya. Cek fakta selengkapnya!

Menurut Highland Spring Clinic, Amerika Serikat, saat ini ada lebih dari 200 bentuk gangguan kesehatan mental yang telah diakui. 

Beberapa di antaranya, termasuk depresi, kecemasan, skizofrenia, dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Berbicara tentang gangguan kesehatan mental, belakangan ini terdapat segelintir orang yang kerap melakukan self diagnosis terhadap kondisi tersebut. Artinya, mereka mengklaim sepihak bahwa dirinya mengalami gangguan kesehatan mental.

Bukannya bermanfaat, self diagnosis kesehatan mental malah bisa berbahaya, lho. Yuk, cari tahu bahaya self diagnosis menurut pandangan psikolog!

1 dari 3 halaman

Bahaya Self Diagnosis Kesehatan Mental

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, self diagnosis itu tidak baik. Pasalnya, yang berhak menegakkan diagnosis adalah seorang profesional. 

Dalam hal gangguan kesehatan mental, diagnosis berarti mesti ditegakkan oleh psikolog atau psikiater.

Pada dasarnya, tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, memiliki beberapa pertimbangan sebelum menegakkan diagnosis gangguan mental pada seseorang.  Pertimbangan tersebut mesti berlandaskan kaidah yang sesuai dengan kondisi pasien.

“Jika melakukan self diagnosis, bisa jadi seseorang akan berpikir dan meyakini kalau dirinya mengalami gangguan. Padahal, bisa saja hal tersebut keliru,” ujar Ikhsan.

Artikel Lainnya: Cek Dulu, Ini Tanda Anda Butuh Konsultasi ke Psikolog

2 dari 3 halaman

Dampak Buruk dari Self Diagnosis Kesehatan Mental

Melansir dari Highland Spring Clinic, Amerika Serikat, sembarangan self diagnosis kesehatan mental bisa mencetuskan keputusan keliru.

Bahkan, self diagnosis bisa membuat seseorang terjerumus untuk mengonsumsi obat-obatan sembarangan. Hal ini berpotensi tinggi memperburuk kondisi yang sudah ada. 

Self diagnosis kesehatan mental malah bisa membuat individu mengalami kecemasan berlebih. Hal ini karena terlalu fokus pada kriteria dari suatu gangguan dan mencoba mencocokkannya ke dirinya,” tutur Ikhsan.

“Bahaya self diagnosis lainnya adalah membuat penanganan menjadi kurang tepat,” sambungnya.

Artikel Lainnya: Tidak Sama, Ini Perbedaan Fobia dan Trauma Menurut Psikolog

Tak berhenti di situ, berdasarkan Psychology Today, self diagnosis dapat pula membuat seseorang bersikap menyangkal (denial) tentang gejala yang dimiliki. Hal ini berisiko membuat proses penanganan oleh profesional menjadi terhambat.

Mengetahui fakta tersebut, Anda sebaiknya tak langsung melakukan self diagnosis mengenai gejala apa pun yang sedang dirasakan saat ini. 

Akan lebih baik jika Anda mengonsultasikan hal tersebut kepada tenaga profesional guna menegakkan diagnosis yang tepat.

Anda tidak ingin mengalami perburukan gejala gara-gara salah sangka dengan kondisi yang sedang dialami, bukan?

Punya pertanyaan seputar topik terkait atau ingin tahu lebih lanjut mengenai fakta lain soal kesehatan mental? Anda bisa chatting langsung dengan psikolog melalui LiveChat 24 jam atau aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

Referensi: 

Wawancara Ikhsan Bella Persada, M.Psi.

Highland Spring Clinic. Diakses 2021. Dangers of Self Diagnoses.

Psychology Today. Diakses 2021. The Dangers of Self-Diagnosis.

0 Komentar

Belum ada komentar