Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Kenali Risiko Stunting pada Bayi Baru Lahir, Apa Cirinya?

Kenali Risiko Stunting pada Bayi Baru Lahir, Apa Cirinya?

Angka stunting masih cukup tinggi di Indonesia. Yuk cegah bayi stunting dengan mengenali ciri-cirinya. Berikut penjelasannya untuk ibu.

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak. Jika seorang anak menderita stunting, mereka akan memiliki tubuh yang lebih pendek dari yang seharusnya.

Tak hanya soal fisik, anak stunting berpotensi memiliki tingkat kecerdasan dan produktivitas yang rendah.

Selain itu, stunting juga bisa membuat buah hati berpeluang lebih besar untuk mengalami penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, diabetes di kemudian hari.

Kondisi ini sangat terkait dengan asupan nutrisi saat ibu hamil bahkan sejak persiapan kehamilan sampai usia 1.000 hari pertama kehidupan anak, yakni sejak di dalam kandungan hingga bayi berusia 2 tahun.

Di awal kehamilan, misalnya, umumnya ibu mengalami mual dan muntah. Apabila tidak diberikan alternatif nutrisi kehamilan yang tepat, bayi bisa kekurangan nutrisi yang meningkatkan risiko stunting.

Sayangnya, angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Penderitanya pun tidak hanya terbatas pada masyarakat menengah ke bawah, tapi juga menengah atas.

Berdasarkan data Kemenkes Republik Indonesia, sekitar 27,67 persen anak di Indonesia menderita stunting pada 2019.

Angka ini memang menurun dibandingkan data 5 tahun sebelumnya, yang hampir 40 persen. Namun, itu masih jauh di atas standar WHO yaitu kurang dari 20 persen.

Masih tingginya angka stunting di Indonesia, mengharuskan setiap orangtua mengetahui tanda-tanda bayi stunting sedini mungkin. Ketika buah hati ternyata menderita stunting, ibu dapat segera mengetahui dan mengatasinya.

Artikel Lainnya: Penyebab dan Cara Mencegah Stunting pada Anak

1 dari 3 halaman

Kenali Gejala Stunting pada Bayi Baru Lahir

Gejala stunting pada bayi biasanya sudah bisa terlihat sejak di dalam kandungan. Antara lain, berat badan janin di bawah standar sesuai usia kehamilan serta tinggi fundus (jarak dari puncak tulang panggul hingga bagian atas perut ibu) tidak normal.

Pada bayi, berikut beberapa gejala stunting yang bisa diperhatikan.

  • Ukuran fisik buah hati. Jika mereka lahir dengan ukuran yang lebih kecil dari normal, ibu harus mewaspadai bayi menderita

Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berat badan lahir bayi normal adalah berkisar 2.500-4.000 gram dengan panjang badan 45-54 cm.

  • Proses pertumbuhan buah hati. Pada awal-awal kehidupan, apalagi ketika masih mengonsumsi ASI eksklusif, seharusnya terjadi pertumbuhan yang signifikan pada bayi.

Namun, hal itu tidak dialami oleh bayi-bayi stunting. Pertumbuhan mereka lebih lambat daripada bayi-bayi pada umumnya.

  • Perkembangan psikomotor mereka juga akan lebih terlambat. Bayi yang mengalami stunting juga biasanya memiliki riwayat sering sakit, utamanya penyakit-penyakit infeksi. Infeksi berulang tersebut akan semakin menghambat pertumbuhan mereka.
2 dari 3 halaman

Kiat Cegah Bayi Stunting

Kalau begitu, adakah cara mencegah stunting pada bayi? Seperti yang dijelaskan di atas, stunting sangat erat kaitannya dengan asupan nutrisi, baik ibu maupun bayi itu sendiri.

Oleh karena itu, jika buah hati masih mendapat ASI eksklusif, langkah pertama yang harus ibu lakukan adalah terus memberikan ASI kepada buah hati sembari meningkatkan kualitasnya.

Berbagai cara bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas ASI ibu. Namun, cara yang paling utama adalah dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan bernutrisi

Perhatikan nutrisi yang ibu konsumsi setiap hari. Nutrisi makro maupun mikro berperan penting dalam proses pembentukan jaringan tubuh buah hati sejak dalam kandungan.

Pasalnya, nutrisi makro dan mikro dapat saling berkaitan. Penyerapan nutrisi mikro membutuhkan nutrisi makro dalam jumlah tepat dan seimbang.

Terkadang, tanpa disadari, konsumsi karbohidrat dan lemak masih tinggi. Padahal, yang dibutuhkan ibu menyusui serta ibu hamil adalah asupan tinggi protein dan serat.

Keduanya penting untuk pembentukan jaringan tubuh dan mendukung kesehatan buah hati sekaligus ibu.

Artikel Lainnya: Cegah Stunting, Penuhi Nutrisi Makro dan Mikro Saat Menyusui

Prioritaskan nutrisi makro dan mikro secara tepat dan seimbang. Selain makan sumber karbohidrat sehat, seperti nasi, kentang, dan roti.

Penuhi juga kebutuhan protein, lemak sehat, serat, sekaligus vitamin dan mineral dari asupan seperti dada ayam tanpa kulit, kacang-kacangan, sayur, serta buah-buahan.

Nah, salah satu asupan bernutrisi lengkap yang disarankan khusus untuk ibu menyusui adalah PRENAGEN lactamom.

Sahabat ibu menyusui ini mengandung nutrisi lengkap yang ibu butuhkan untuk menghasilkan ASI yang berkualitas.

Selain meningkatkan kualitasnya, PRENAGEN lactamom juga dapat meningkatkan kuantitas ASI karena mengandung vitamin B2, B12, dan zat besi.

Kandungan protein, kalsium, dan vitamin D pada PRENAGEN lactamom juga penting untuk menjaga kesehatan tulang ibu sekaligus mendukung tumbuh kembang bayi.

PRENAGEN lactamom juga kaya akan DHA dan omega-3 yang sangat penting dalam pembentukan sel-sel otak buah hati.

Karena waktu tak bisa Kembali. Yuk, manfaatkan dengan baik masa-masa awal kehidupan buah hati untuk mencegah kondisi stunting. Cukupi kebutuhan nutrisi buah hati dengan minum PRENAGEN lactamom setiap hari.

Bahkan sejak sebelum hamil, persiapkan nutrisi ibu dengan minum PRENAGEN esensis dan dilanjutkan dengan PRENAGEN emesis dan mommy untuk menyambut kehadiran sang buah hati. Dengan cara-cara tersebut, risiko stunting bayi bisa diminimalkan.

Apabila ibu butuh bantuan lebih lanjut mengenai cara menyusui, Ibu bisa berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kandungan melalui fitur Tanya Dokter di website PRENAGEN atau LiveChat di aplikasi Klikdokter.

Jika ingin mendapatkan produk PRENAGEN lactamom, ibu dapat membelinya melalui fitur Belanja Sehat.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar