Sukses

Mengenal Gangguan Makan Rumination Disorder

Gangguan makan ruminasi bikin pengidapnya tanpa sadar muntah berulang kali. Ketahui gejala, penyebab dan cara mengatasinya di sini.

Gangguan makan ruminasi atau rumination disorder merupakan kondisi kronis yang langka terjadi. Masalah kesehatan ini menyebabkan pengidapnya memuntahkan makanan secara tidak sengaja, padahal sebagian besar makanan tersebut baru ditelan.

Proses memuntahkan makanan di luar kesadaran tersebut dinamakan regurgitasi. Pengidap rumination disorder akan mengalami gejala ini berulang kali. Kondisi ini dapat berlangsung selama makan maupun setelahnya.

Ketika regurgitasi, pengidap rumination disorder usia dewasa cenderung memuntahkan makanan mereka. Sementara, anak-anak dengan gangguan makan ini cenderung mengunyah dan menelan kembali makanan yang hendak dimuntahkan.

Karena dilakukan tanpa sadar, rumination disorder berbeda dengan jenis gangguan makan lain, seperti anoreksia dan bulimia.

Pada dua gangguan makan yang disebut belakangan, pengidapnya sengaja memuntahkan makanan demi mengontrol berat badan mereka.

Mari kita kenali lebih dalam seputar gangguan makan ruminasi ini.

Artikel Lainnya: Mengenal Binge Eating Disorder, Gangguan Makan Berlebihan

1 dari 4 halaman

Gejala Rumination Disorder

Regurgitasi berulang merupakan gejala utama gangguan makan ruminasi. Pada umumnya, kondisi ini terjadi sekitar 15 menit hingga 2 jam setelah makan. Hal ini menyebabkan pengidap sindrom ruminasi nyaris setiap hari memuntahkan makanan.

Mereka juga mengalami gejala lain, termasuk:

  • mulut atau bibir kering
  • bau mulut
  • penurunan berat badan
  • mual
  • kembung 
  • pusing
  • kerusakan gigi
  • susah tidur
  • mag

Sementara itu, penderita gangguan makan ruminasi usia anak dan remaja dapat mengalami diare, mag, hingga sembelit.

2 dari 4 halaman

Apa Penyebabnya?

Penyebab rumination disorder sejauh ini belum diketahui secara pasti. Meski begitu, beberapa peneliti menduga gangguan makan dapat disebabkan faktor psikologis maupun medis, seperti:

  • stres berat,
  • ada riwayat gangguan makan,
  • kurangnya stimulasi dari lingkungan,
  • perasaan ditolak dan ditelantarkan,
  • gastroenteritis,
  • prosedur medis,
  • dan infeksi saluran napas.

Ditambahkan, dr. Theresia Rina Yunita, rumination disorder cenderung dialami oleh wanita dan bayi usia 3-12 bulan.

“Anak-anak dengan masalah intelektual juga cenderung mengalami kondisi ini,” ujar dr. There.

Artikel Lainnya: Ini Tanda-tanda Anda Mengalami Gangguan Makan

3 dari 4 halaman

Cara Mengatasi Rumination Disorder

Pada beberapa kasus, rumination disorder dapat sembuh dengan sendirinya, terutama pada anak-anak. Meski begitu, kebanyakan pengidap penyakit ini membutuhkan perawatan lanjutan.

Berdasarkan studi yang diterbitkan pada 2019, jenis perawatan yang paling efektif untuk mengatasi gangguan makan ruminasi adalah latihan pernapasan diafragma.

Jenis latihan ini melibatkan perut, otot perut, dan diafragma saat bernapas. Tidak sedikit pengidap sindrom ruminasi mengaku gejala penyakit mereka berkurang usai melakukan latihan ini.

Selain itu, dokter mungkin juga merekomendasikan jenis latihan lainnya seperti:

  • relaksasi, 
  • mengunyah permen karet,
  • latihan ketahanan,
  • dan terapi perilaku kognitif.

Jika deretan perawatan tersebut tidak berhasil, dokter mungkin merekomendasikan pengobatan lain. Salah satunya obat baclofen yang disebut dapat membantu memperbaiki gejala gangguan makan ruminasi.

Pengidap rumination disorder sering tidak mengalami gejala apa pun selain kebiasaan muntah berulang kali, serta munculnya sensasi asam di mulut dan tenggorokan.

Sindrom ruminasi pun kerap salah didiagnosis sebagai jenis gangguan makan ataupun pencernaan lainnya.

Jika Anda mengidap penyakit ini, Anda harus menjelaskan gejala dan riwayat kesehatan Anda secara detail dan menyeluruh.

Pasalnya, hingga hari ini metode diagnosis gangguan makan ruminasi hanya melalui pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter.

Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar gangguan makan dan masalah pencernaan lainnya, konsultasikan kepada dokter via LiveChat dari aplikasi Klikdokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar