Sukses

Berakibat Fatal, Ini Penyebab Badai Sitokin di Tubuh

Istilah badai sitokin ramai diperbincangkan karena kondisi tersebut merenggut nyawa. Lantas, apa penyebab badai sitokin?

Sistem kekebalan tubuh manusia memang kompleks. Hidup dalam kondisi pandemi seperti sekarang mengharuskan masyarakat untuk meningkatkan imunitas tubuhnya agar bisa sembuh atau terhindar dari penyakit. 

Di sisi lain, imunitas tersebut juga bisa menjadi “bumerang” bagi pasien dan menjadi penyebab badai sitokin. 

Hal itulah yang sempat dialami suami Joanna Alexandra, Raditya Oloan. Pria yang punya riwayat asma itu sebenarnya sempat sembuh dari COVID-19. Namun, kondisinya kembali memburuk saat badai sitokin terjadi. 

1 dari 3 halaman

Apa Penyebab Badai Sitokin?

Menurut dr. Devia Irine Putri, badai sitokin merupakan reaksi dari sistem imunitas tubuh yang abnormal. 

“Kondisi ini bisa terjadi akibat tubuh terlalu banyak memproduksi protein kekebalan yang disebut sitokin. Kalau sudah begitu, proses peradangan di dalam tubuh malah jadi meningkat,” jelasnya. 

Ia menambahkan, “Biasanya, orang yang berisiko tinggi mengalami badai sitokin adalah mereka yang sedari awal punya masalah daya tahan tubuh, seperti penyakit autoimun. Lalu, orang dengan penyakit kanker juga berpotensi mengalami hal serupa.”

Artikel Lainnya: Vitamin D Pengaruhi Risiko Kematian COVID-19? Ini Kata Peneliti

Sitokin sendiri sebetulnya bukan protein yang jahat. Ia membantu tubuh berkoordinasi melawan kuman yang akan menginfeksi. 

Sayangnya, jika jumlah sitokin terlalu banyak, maka kondisi tubuh justru akan rusak akibat peradangan. 

Bukannya menyerang kuman, sel cytokine menyerang organ dan jaringan tubuh yang sehat, sehingga gagal berfungsi. 

Kegagalan fungsi organ tersebut pada akhirnya menyebabkan pasien meninggal dunia. Sejumlah gejala biasanya dirasakan terlebih dulu oleh pasien, misalnya:

  • Demam.
  • Sesak napas.
  • Lemas.
  • Sakit kepala.
  • Napas jauh lebih cepat.
  • Kejang dan susah mengendalikan gerakan.
  • Tekanan darah rendah.
  • Penggumpalan darah.
  • Linglung dan berhalusinasi. 
  • Muncul ruam kulit.
  • Nyeri otot.
  • Mual muntah. 
  • Batuk.
  • Tungkai bengkak.

Mengutip dari Very Well Health, jenis infeksi tertentu juga dapat memicu badai sitokin pada beberapa orang, termasuk akibat virus dan bakteri. 

Jenis yang cukup umum diteliti adalah cytokine storm akibat virus influenza A (penyebab flu biasa). 

Jumlah protein sitokin yang berlebihan itu bahkan menjadi penyebab tingginya angka kematian selama pandemi influenza seratus tahun lalu. 

Terkadang, efek samping transplantasi organ dan sel induk, serta terapi leukemia dengan CAR-T berpotensi pula menghasilkan badai ini. 

Artikel Lainnya: Awas, Penderita Skizofrenia Berisiko Alami Kematian Akibat COVID-19

2 dari 3 halaman

Apakah Pasien dengan Badai Sitokin Bisa Sembuh?

Kasus badai sitokin pada covid sebenarnya tidak banyak. Hanya orang-orang tertentu yang rentan mengalami masalah ini. 

Jika pasien memiliki gen spesifik yang membuat sistem kekebalan tubuhnya bereaksi dengan cara lain, maka barulah peradangan parah bisa terjadi. 

Badai sitokin pada covid dianggap lebih mematikan ketimbang virus corona-nya sendiri. Ilmuwan masih bekerja untuk memahami jaringan kompleks penyebab badai sitokin dimulai, khususnya pada penderita covid. 

Dokter Devia menjelaskan, “Meski begitu, potensi sembuh pada pasien tetap ada selama ia ditangani dengan baik. Yang perlu diingat, memang badai ini dapat membuat fibrosis paru, sehingga ia akan menurunkan fungsi paru dan bikin pasien tidak nyaman saat bernapas dan mudah sesak.”

Hingga saat ini belum ada cara pasti untuk menguji apakah pasien benar-benar mengalami badai sitokin atau tidak

Pemeriksaan darah hanya bisa membantu memperlihatkan adanya inflamasi parah di dalam tubuh. 

Artikel Lainnya: Penyintas COVID-19 Rentan Kena Gangguan Mental Ini!

Jika hasil tes darah menunjukkan inflamasi tinggi dan pasien terus mengalami sesak napas meski sudah diberikan oksigen, maka kemungkinan besar tubuhnya sedang mengalami cytokine storm

Sesak napas tersebut disebabkan oleh kantung udara kecil di paru-paru yang dipenuhi cairan. 

Berhasil sembuh atau tidaknya badai sitokin pada covid bergantung pada kondisi tubuh pasien, serta seberapa cepat dan tepat penanganannya. 

Pemasangan ventilator, pemantauan organ vital dan kadar elektrolit, cuci darah, hingga pemberian obat untuk menghambat aktivitas protein sitokin sangat diperlukan. 

Bila ada pertanyaan seputar infeksi virus corona, konsultasi kepada dokter lewat fitur LiveChat di Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar