Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Pasien COVID-19 Kerap Dihantui Rasa Bersalah, Apa Penyebabnya?

Pasien COVID-19 Kerap Dihantui Rasa Bersalah, Apa Penyebabnya?

Setelah mendapati hasil test COVID-19 positif, beberapa orang jadi merasa bersalah. Apa penyebabnya?

Selain mendapat stigma negatif--seperti diperlakukan berbeda, dikucilkan, bahkan dianggap memiliki aib--pasien COVID-19 juga dihantui rasa bersalah.

Ketika hasil tes virus corona menunjukkan hasil positif, pasien COVID-19 kerap mengalami perasaan takut, cemas, dan bersalah. Hal ini juga dapat terjadi meskipun mereka sudah sembuh dan pulih dari COVID-19.

 

1 dari 3 halaman

Alasan Mengapa Merasa Bersalah Saat Positif COVID-19

Mengutip dari Healthline, seorang penyintas bernama Kristina Finlay Gregory dari Connecticut, Amerika Serikat, terus-menerus merasa bersalah ketika tahu dirinya positif COVID-19.

Karena merasa bersalah, Kristina mengurung diri di kamarnya lebih dari dua minggu dan sering tidur hingga 16 jam dalam sehari. Ia juga mengaku tidak berkomunikasi dengan siapa pun, termasuk orang-orang terdekatnya.

Ketika diwawancarai Healthline, Kristina mengaku takut menyebarkan virus corona kepada orang lain. Hal ini membuatnya jadi merasakan cemas berlebihan, sampai-sampai ia mengalami sakit kepala, flu, dan sering merasa lelah.

Artikel Lainnya: Mau Pandemi Usai? Ketahui Pentingnya Gerakan 5M COVID-19

Lantas, apa yang menjadi dasar seseorang memiliki rasa bersalah ketika dideteksi positif virus corona?

1. Emosinya Bergejolak

Stephanie Newman, Ph.D, psikolog dari New York, Amerika Serikat, mendorong pasien COVID-19 untuk menghadapi perasaan bersalah, cemas, atau takut menularkan penyakit kepada orang lain.

Stephanie mengatakan, “Banyak orang melakukan karantina sendiri karena takut membuat anggota keluarganya sakit. Mereka juga takut nantinya ada rekan atau kerabat yang ikut tertular. Sulit bagi mereka menjaga perasaan tidak bersalah. Terlebih lagi jika orang tersebut punya anak.”

2. Menyesal

Rasa bersalah bisa muncul ketika masalah yang dihadapi berada di luar kendali kita, termasuk penyebaran virus corona. Ketika suatu hal terjadi di luar kendali dan melibatkan banyak orang, pasti akan muncul rasa bersalah yang begitu mendalam.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, perasaan bersalah ini muncul ketika menyadari perilaku yang mereka lakukan itu salah, misalnya habis berkumpul di keramaian dan akhirnya terpapar COVID-19.

“Merasa bersalah karena terpapar COVID-19 adalah suatu sikap yang mereka tunjukkan karena ada perasaan menyesal. Menyesal kenapa? karena tidak bisa menjaga diri mereka sendiri. Selain mereka berpikir bisa menularkan resiko virus ke orang-orang sekitar mereka,” kata psikolog Ikhsan.

Artikel Lainnya: Hasil PCR Positif Terus, Apa Pasti Masih Kena COVID-19?

2 dari 3 halaman

Tips Agar Rasa Bersalah Mereda dan Bisa Diatasi

Tidak nyaman rasanya bila perasaan bersalah terus mengganjal di hati. Untuk mengurangi beban kepada diri sendiri dan bisa ikhlas menerima keadaan, Anda bisa melakukan hal ini:

  • Tetap Jaga Komunikasi

Saat terdiagnosis COVID-19, jangan biarkan diri Anda terpuruk dengan menutup komunikasi dengan orang lain.

Tidak perlu sungkan untuk berbicara dengan sahabat, orang tua, dan kerabat terdekat lainnya untuk meringankan perasaan bersalah Anda. Bila perlu, Anda bisa saling menyemangati, memperingatkan untuk menjaga diri, sembari mendoakan agar pandemi cepat berakhir.

  • Batasi Penggunaan Media Sosial dan Relaks

Lauri Pasch, Ph.D, dosen psikologi dari University of California, di AS, mengajak Anda untuk mengelola rasa cemas dan takut. Caranya, dengan membatasi paparan media serta berlatih teknik pernapasan.

Misalnya, ambil napas selama lima detik, lalu hembuskan perlahan selama beberapa detik. Ulangi teknik ini sebanyak dua hingga tiga kali ketika rasa bersalah, cemas, dan takut mereda.

Membatasi diri dari media yang menayangkan tentang COVID-19 melulu juga dapat membuat Anda memikirkan hal positif lainnya. Di antaranya, Anda patut bersyukur bahwa saat hasil tes menunjukkan positif COVID-19, Anda jadi cepat ditangani oleh tim medis agar tidak semakin menulari orang lain.

Artikel Lainnya: Penyintas COVID-19 Rentan Kena Gangguan Mental Ini!

  • Lakukan Hal Menyenangkan

Selama isolasi mandiri atau ketika berada di rumah sakit, buat diri Anda merasa senang dan sibuk.

Misalnya, bermain games di ponsel, membuat mini vlog tentang kegiatan sehari-hari selama dirawat atau isolasi mandiri, menulis cerita, atau menonton film.

Melakukan kegiatan menyenangkan dapat membuat Anda melupakan pikiran bersalah serta membuat mood lebih baik.

  • Fokus untuk Sembuh

Sadarilah bahwa pandemi virus corona ini bukanlah sesuatu yang bisa Anda kendalikan. Daripada terus menyesal karena sudah terpapar COVID-19, sebaiknya Anda fokus dengan apa yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan.

Menenggelamkan diri ke dalam penyesalan hanya akan membuat kondisi Anda semakin memburuk.

  • Jadikan Pembelajaran

Jika sudah dinyatakan negatif, jangan lagi mengulang kesalahan yang sama dan minta kerabat untuk belajar dari kesalahan yang pernah Anda lakukan. Anda bisa mengimbau mereka untuk tidak keluar rumah dan melakukan protokol kesehatan agar pandemi cepat berakhir.

Untuk informasi serta tips menjaga kesehatan mental lainnya di masa pandemi, baca terus artikel di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar