Sukses

Menolak Vaksinasi Corona, Ini Alasan Psikologisnya

Meski sudah ada klaim aman, sebagian orang masih menolak vaksin COVID-19. Menurut psikolog, beberapa alasan berikut bisa mendasarinya.

Pemerintah sedang berupaya menyukseskan program vaksinasi COVID-19. Berbagai cara dilakukan, salah satunya meng-endorse artis dan influencer agar pengikut mereka tertarik.

Sayangnya, tetap saja ada pihak yang menolak vaksin meski BPOM sudah mengizinkan.

Dilansir dari BBC, survei nasional oleh Kementerian Kesehatan RI melaporkan Aceh dan Sumatera Barat menjadi dua provinsi dengan jumlah penolak vaksin terbanyak di Indonesia.

Persentase masyarakat Aceh yang mau divaksinasi sebesar 46 persen, sementara Sumatera Barat berjumlah 47 persen.

Bahkan, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Hanif, sampai mengatakan kampanye vaksinasi COVID-19 jauh lebih susah dibanding proses distribusi dan penyimpanan vaksin.

Sebenarnya, hal semacam itu tak cuma terjadi di Indonesia. Melansir Time, masyarakat Amerika Serikat (AS) juga mengalami hal serupa.

Pada awal pandemi, antusias masyarakat di AS terhadap proses penemuan vaksin sangat tinggi, padahal kasus di sana saat itu belum terlalu banyak. Ketika kasus membludak, entah kenapa minat publik terhadap vaksin justru menyusut.

Artikel Lainnya: Jangan Lalai Protokol Kesehatan Walau Sudah Divaksinasi COVID-19!

1 dari 3 halaman

Kenapa Ada Orang yang Menolak Vaksin COVID-19?

Keengganan seseorang untuk disuntik vaksin rupanya dapat dilatarbelakangi oleh alasan psikologis.

Gracia Ivonika, M. Psi., Psikolog, berpendapat, “Orang-orang yang saat ini apatis terhadap vaksin bisa saja dipengaruhi oleh beragam faktor. Terlebih, vaksin COVID-19 ini sesuatu yang sangat baru.”

“Wajar bila masih ada keraguan dalam diri beberapa orang. Masa ini sebenarnya tepat untuk memberikan fakta dan bukti nyata yang dapat mengarahkan pandangan mereka menjadi lebih objektif,” lanjutnya.

Sejumlah faktor yang dimaksud Psikolog Gracia antara lain:

1. Lingkungan

Apabila orang-orang terdekatnya kontra dan terus memengaruhinya, ada kemungkinan ia menjadi kontra juga terhadap efektivitas vaksin.

2. Pola Pikir

Setiap orang memang punya sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang memang langsung pro dengan langkah pencegahan dari pemerintah, ada juga yang kontra dengan berbagai alasan.

“Mereka yang menolak vaksin COVID-19 biasanya berusaha untuk menyampaikan sudut pandang mereka ini terhadap orang lain. Dengan keyakinan mereka, mereka berupaya agar orang-orang yang dikenalnya tetap aman sesuai persepsi mereka,” ujar Gracia.

Artikel Lainnya: Bagaimana menyikapi Perbedaan Hasil TES PCR dari Faskes Berbeda?

3. Nilai yang Dianut

Beberapa orang mungkin ada yang memegang nilai bahwa memasukkan cairan vaksin ke tubuh dilarang oleh kepercayaannya.

Selain itu, bisa juga karena proses pembuatan dan kandungan vaksin dianggap tidak sesuai dengan ajaran kepercayaannya.

Secara psikologis, seseorang cenderung apatis terhadap sesuatu yang baru, apalagi bila sebelumnya punya pengalaman yang tidak menyenangkan.

Misalnya, selama ini ia sering mendengar info sana-sini yang mengatakan bahwa A adalah obat COVID-19 dan B juga obat COVID-19. Setelah dicoba, ternyata tidak sembuh juga.

Dalam beberapa kasus, anggota keluarganya justru meninggal karena obat tersebut. Alhasil, ketika ada sesuatu yang bisa melindungi diri dan keluarganya dari infeksi virus corona, ia terlanjur trauma dan ragu. Kedua perasaan itu bisa mengembangkan sikap apatis.

Hal tersebut sangat alamiah. Seseorang memang punya kecenderungan untuk meragukan diri ketika hendak melakukan hal baru.

Seiring berjalannya waktu, ketika hal yang dilakukan sudah memberi hasil baik, barulah ia akan percaya.

Artikel Lainnya: Alasan Usia Produktif Jadi Prioritas Vaksin COVID-19 di Indonesia

2 dari 3 halaman

Tips Tetap Damai meski Beda Pendapat tentang Vaksin Corona

Berusaha agar orang-orang tidak menolak vaksin COVID-19 memang harus dilakukan. Namun, tidak perlu sampai terjadi pertengkaran dengan orang yang kontra.

Beberapa langkah yang disarankan Psikolog Gracia agar kedua belah pihak yang berbeda pandangan tidak bertengkar yaitu:

  • Dengarkan dulu pendapat orang lain, karena kita harus bersikap open-minded. Dengan mendengarkan, kita pun bisa memahami.

Apabila ada sudut pandang yang pada kenyataannya kurang tepat, kita boleh menyanggah dengan cara yang tidak terkesan menyerang.

“Kita berikan pandangan baru. Jika kita bisa menyampaikan secara baik-baik dan asertif, mereka cenderung lebih bisa terbuka dalam mendengarkan,” sarannya.

  • Pada akhirnya, diri sendiri yang bisa menentukan pilihan. Kita juga harus bisa “say no” untuk sesuatu yang dirasa tidak sesuai. Meski tidak perlu selalu mengikuti seseorang, Anda masih bisa menghargai pilihannya.
  • Tak perlu pedulikan distraksi, fokus saja memberikan pesan yang berbasis fakta. Bila ada yang memberikan feedback atas apa yang Anda sampaikan, hindari merespons secara subjektif dan defensif.

Artikel Lainnya: Efek Samping Vaksin COVID-19 Pfizer, Sakit Kepala hingga Mabuk

Vaksin COVID-19 bisa jadi salah satu opsi untuk melindungi tubuh dari infeksi virus corona.

Menolak vaksin apalagi secara berlebihan sama saja dengan membuang kesempatan untuk memproteksi diri dan sekitar. Bukan tak mungkin bila hal ini membuat masa pandemi berlangsung lebih lama.

Vaksin memang tidak langsung membuat tubuh Anda 100 persen kebal terhadap suatu penyakit. Namun, setidaknya vaksin bisa membuat kondisi infeksi tidak berat.

Angka kematian akibat COVID-19 pun bisa dikurangi. Untuk itu, bijaklah dalam membuat pilihan.

Bila ingin konsultasi lebih lanjut seputar vaksin virus corona, chat dokter lewat LiveChat. Anda juga bisa mengakses info RS rujukan dan tes PCR di Pusat Informasi COVID-19 Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar