Sukses

Risiko Stunting Meningkat Saat Pandemi, Mengapa?

Waspada, kemungkinan stunting pada anak justru semakin meningkat akibat pandemi virus corona. Apa penyebabnya? Adakah cara mengatasinya?

Dampak pandemi virus corona terasa tidak ada habisnya. Mulai dari laju perekonomian yang menurun, fasilitas dan tenaga kesehatan yang ketersediaan semakin berkurang, sampai meningkatnya risiko penyakit lain yang mengancam jiwa.

Salah satu risiko kesehatan yang meningkat saat pandemi adalah stunting. Mengapa jumlah kasus stunting jadi kian bertambah? Ketahui penyebab dan cara mengatasinya lewat pembahasan berikut ini.

 

1 dari 4 halaman

Sekilas tentang Stunting dan Dampaknya

Dilansir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan kurangnya rangsangan psikososial.

Gagal pertumbuhan ini akan berdampak kepada kesehatan  fisik dan mental anak saat ia dewasa nanti.

Stunting menyebabkan anak jadi terlambat dalam berpikir dan memiliki tampilan fisik yang kurang sempurna, seperti tubuh lebih kecil atau pendek dibanding anak lainnya.

Di samping itu, stunting membuat anak berisiko tinggi untuk mengalami penyakit kronis di kemudian hari.

Artikel Lainnya: Penyebab dan Cara Mencegah Stunting pada Anak

2 dari 4 halaman

Penyebab Stunting Semakin Meningkat Saat Pandemi

Dokter Sepriani Timurtini Limbong menjelaskan, kurangnya distribusi makanan ke berbagai daerah akibat kebijakan ketat seperti PSBB dan sebagainya, bisa jadi alasan mengapa banyak anak mengalami stunting.

Selain masalah distribusi bahan makanan, daya beli masyarakat juga melemah akibat penghasilan harian atau bulanan yang menurun.

Tak dimungkiri, faktor ekonomi menyebabkan keluarga jadi sulit menyediakan makanan yang bernutrisi dan bergizi seimbang.

“Bisa juga karena saat pandemi orangtua jadi abai atau lupa untuk memantau pertumbuhan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) anak, sehingga kadang bisa juga terjadi weight faltering dan bisa berakhir jadi stunting,” ungkap dr. Sepriani.

Menurut beberapa sumber, fasilitas kesehatan (faskes) dasar seperti Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) tutup saat pandemi. Posyandu punya fungsi penting untuk mendukung pencegahan stunting di Indonesia

Selama pandemi, beberapa juta balita Indonesia tidak mendapat imunisasi dasar, suplementasi vitamin A, pemantauan pertumbuhan, dan layanan rutin lainnya karena faskes tutup. Kondisi ini dapat mengganggu upaya penurunan angka stunting anak.

Artikel Lainnya: Terungkap, Obesitas Bikin Rentan Kena COVID-19!

Tidak hanya itu, hambatan ini turut berdampak kepada kesehatan ibu hamil maupun ibu yang baru melahirkan.

Pada akhirnya, risiko gizi buruk serta stunting meningkat tajam dan pelayanan kesehatan esensial jadi tak optimal.

Senada dengan dr. Sepriani, United Nations Children's Fund (UNICEF) juga menjelaskan hal serupa.

Bahkan, sebelum pandemi virus corona, Indonesia sudah menghadapi tingkat malnutrisi yang tinggi.

Saat ini, lebih dari dua juta anak menderita kelaparan dan lebih dari tujuh juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting.

Mengutip laman resmi UNICEF, apabila tidak ada tindakan tepat dalam jangka waktu dekat, jumlah anak yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi akan semakin meningkat secara global, yakni sekitar 15 persen.

Artikel Lainnya: Awas, Risiko COVID-19 Lebih Tinggi pada Orang Bertubuh Pendek

3 dari 4 halaman

Tips Mencegah Stunting saat Pandemi COVID-19

Anak-anak yang kelaparan memiliki kekebalan tubuh yang lemah. Kekebalan tubuh yang lemah membuat mereka lebih mudah terpapar berbagai jenis penyakit, termasuk COVID-19.

Orangtua juga perlu tahu, kondisi stunting tidak dapat diobati, melainkan hanya bisa dicegah. Jika pencegahan gagal, pengobatan harus dilakukan secara rutin.

“Cara mencegahnya tetap perhatikan pemberian nutrisi selama pandemi, pastikan anak dapat nutrisi yang cukup (ASI dan MPASI untuk bayi di atas 6 bulan), serta tetap lakukan pemantauan berat dan tinggi badan anak secara rutin,” ujar dr. Sepriani.

Di samping itu, orangtua harus bisa mengelola stres akibat pandemi agar bisa fokus dalam memantau dan merawat anak.

Terutama untuk ibu menyusui, penting baginya untuk mengendalikan tingkat stres agar produksi ASI tetap berjalan baik. Pastikan ibu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi baik setiap hari.

Lalu yang paling penting, kita semua harus berupaya menurunkan tingkat penyebaran virus corona.

Mengambil tindakan dengan tetap berada di rumah, mengurangi kontak fisik atau tatap muka dengan orang lain, serta melakukan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik) sangatlah membantu.

Apabila pandemi di Indonesia bisa dikendalikan, faktor risiko stunting di atas bisa diperbaiki dan bahaya malnutrisi bisa dicegah maksimal.

Temukan informasi kesehatan penting lainnya dengan membaca artikel di aplikasi Klikdokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar