Sukses

Waspada, Migrain Bisa Picu Kondisi Disabilitas

Migrain kronis dapat menyebabkan seseorang tidak mampu melaksanakan aktivitas normal. Kondisi tersebut dikenal dengan migraine disability.

Migrain menjadi salah satu kondisi yang paling ditakuti dan dihindari. Sebab ketika mengalami migrain, seringkali orang tersebut tidak bisa beraktivitas dengan normal.

Migrain tidak bisa dianggap sebagai sakit kepala biasa karena dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Kondisi tersebut dikenal dengan migraine disability. Seperti apa faktanya?

 

1 dari 4 halaman

Apa Itu Migrain?

Kondisi migrain sering dikenal sebagai sakit kepala sebelah. Migrain umumnya menimbulkan rasa nyeri berdenyut yang parah di satu sisi kepala. Tak hanya itu, kadang migrain juga disertai muntah, mual, dan kepekaan ekstrem terhadap suara dan cahaya.

Migrain bisa berlangsung selama beberapa jam, bahkan berhari-hari. Rasa sakit atau nyeri yang ditimbulkan oleh migrain beragam. Nyeri migrain bisa ringan hingga parah sampai mengganggu kegiatan sehari-hari.

Dilansir Mayo Clinic, migrain yang dimulai pada masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa awal dapat berkembang melalui empat tahap, yakni prodrome, aura, serangan, dan post-drome.

Tidak semua orang yang mengalami migrain mengalami semua tahap tersebut. Pada beberapa kasus, gejala yang disebut sebagai aura terjadi sebelum atau bersamaan dengan sakit kepala.

Aura adalah gejala migrain yang memengaruhi penglihatan, seperti muncul kilatan cahaya atau titik buta. Gangguan lain, seperti kesemutan di satu lengan, satu sisi wajah, tungkai, dan kesulitan berbicara juga dapat dialami saat sedang migrain.

Lalu, apa yang menyebabkan migrain? Hingga saat ini penyebab migrain tidak sepenuhnya dipahami. Namun, faktor genetika dan lingkungan diduga turut berperan dalam menyebabkan migrain.

Artikel Lainnya: Pekerja Kantoran Lebih Rentan Stroke, Ini Alasannya

2 dari 4 halaman

Migrain Bisa Menyebabkan Kondisi Disabilitas

Migrain dalam kondisi kronis dapat menyebabkan kondisi disabilitas. Dokter Dyah Novita Anggraini menggarisbawahi bahwa disabilitas yang dimaksud bukanlah merujuk kepada kondisi cacat, melainkan ketidakmampuan untuk beraktivitas normal.

“Jadi ada beberapa aktivitas yang biasa dilakukan dan pas migrain jadi nggak bisa dilakukan. Karena saat migrain, kan, sakit banget kepalanya,” jelas tenaga medis yang akrab disapa dr. Vita.

Sebagai contoh, jika biasanya seseorang mampu bekerja normal sehari-hari, maka karena migrain dia menjadi tidak bisa melakukan apa pun.

Saat ini terdapat alat ukur untuk mengetahui disabilitas akibat migrain pada seseorang. Tes untuk mengukur disabilitas migrain dikenal dengan nama Migraine Disability Assessment Assessment (MIDAS).

Artikel Lainnya: Solusi Sakit Kepala Usai Nonton Pembukaan Asian Para Games 

Tes tersebut berupa kuesioner yang membantu mengukur seberapa berdampak migrain memengaruhi kehidupan seseorang. Misalnya, “Berapa hari dalam 3 bulan terakhir Anda absen bekerja atau sekolah karena sakit kepala?”

Untuk skor kuesioner akan dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu:

  1. Tidak ada disabilitas, skor 0-5
  2. Disabilitas ringan, skor 6-10
  3. Disabilitas sedang, skor 11-20
  4. Disabilitas parah, 21+

Menurut dr. Vita, tingkat keparahan migrain bisa dipicu karena beberapa faktor, seperti stres, perubahan hormon saat menstruasi, kurang tidur, beban pikiran, dan perubahan cuaca.

Artikel Lainnya: Waspada, Migrain Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

3 dari 4 halaman

Pengobatan dan Pencegahan Migrain

Dokter Vita juga mengatakan bahwa migrain tidak dapat disembuhkan. Namun, frekuensi serta nyeri kepala akibat migrain bisa dikontrol menjadi lebih jarang dan ringan. Berikut cara meredakan dan mengontrol migrain.

  • Pertama, Anda bisa konsumsi obat analgesik awal seperti Paracetamol atau ibuprofen.
  • Apabila migrain tidak mereda, pilih obat yang mengandung triptan (harus menggunakan resep dokter).
  • Jika migrain tidak kunjung reda juga, Anda harus periksa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Untuk mencegah migrain, Anda bisa mengenali pemicunya seperti stres atau makanan tertentu. Mengenali pemicu akan mengurangi risiko migrain kambuh.

Anda bisa mulai menjalani gaya hidup sehat, misalnya dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, serta menghindari makanan pemicu migrain. Cari tahu informasi mengenai migrain lainnya dengan membaca artikel di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar