Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penyebab Peningkatan Kasus Perceraian saat Pandemi COVID-19

Penyebab Peningkatan Kasus Perceraian saat Pandemi COVID-19

Banyak pasangan suami istri yang memutuskan cerai di masa pandemi. Apa saja penyebab perceraian tersebut? Apa tips psikolog untuk menghindarinya?

Dampak pandemi COVID-19 rupanya tak melulu soal kesehatan, kehidupan sosial, dan ekonomi. Faktanya, keharmonisan rumah tangga bisa ikut terpengaruh!

Mengapa banyak pasangan yang memutuskan cerai di masa pandemi? Adakah cara yang bisa ditempuh untuk menghindarinya?

Perceraian Meningkat di Masa Pandemi Virus Corona

Meningkatnya angka perceraian di tengah pandemi itu sempat disinggung langsung oleh Menteri Agama Fachrul Razi, Senin (23/11).

Dia pun meminta agar KUA setempat bisa melakukan penyuluhan pada setiap pasangan saat masa pembinaan pranikah dan setelah menikah. 

Fenomena perceraian di masa pandemi  ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia. Mengutip laman Natlaw Review, pada April lalu, tercatat peningkatan kasus perceraian sebesar 34 persen di Amerika Serikat.

Masih berdasarkan laman yang sama, jika dibandingkan tahun 2019, 20 persen peningkatan perceraian terjadi pada pasangan yang baru menikah selama lima bulan atau kurang.

Beberapa peneliti memprediksi, kasus perceraian yang terjadi memang akan terus meningkat 10-25 persen sampai akhir tahun. 

Artikel lainnya: Benarkah Pandemi COVID-19 Bisa Sebabkan Gairah Seksual Menurun?

1 dari 3 halaman

Mengapa Kasus Perceraian Meningkat?

Meski tidak diketahui pasti berapa banyak jumlah perceraian yang terjadi selama masa pandemi COVID-19, kondisi ini tentu meresahkan.

Lantas, apa penyebab perceraian terjadi di masa pandemi seperti sekarang? Dipaparkan psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., berikut beberapa alasannya:

  • Punya Kebiasaan yang Tidak Biasa

Pandemi memaksa kita semua menjalani kebiasaan baru alias new normal. Kebiasaan tak biasa yang mendadak harus dilakukan tersebut bisa menjadi sumber konflik baru, termasuk dalam kehidupan pernikahan.

“Misalnya, suami dan istri sebelumnya punya kebiasaan berhubungan jarak jauh atau jarang bertatap muka. Tapi saat pandemi, mau tidak mau mereka akan terus bertatap muka. Hal ini bisa saja meningkatkan konflik,” kata Ikhsan.

Terlebih lagi jika tidak ada pengalihan ke hal-hal lain, kata dia, konflik bisa berkelanjutan dan semakin besar.

  • Muncul Rasa Jenuh 

Karena terpaksa harus “terkurung” di dalam rumah untuk jangka waktu lama, pasangan jadi merasa jenuh dan bosan.

“Belum lagi jika harus mengulang kebiasaan yang sama setiap harinya, tanpa ada aktivitas lain yang mungkin dianggap lebih menyenangkan,” kata Ikhsan.

Artikel lainnya: Tetap Mesra selama Pandemi Virus Corona? Ini Rahasia dari Dokter Boyke!

  • Faktor Usia Pernikahan 

Faktor usia pernikahan juga bisa jadi alasan lain pasangan memilih untuk cerai di masa pandemi virus corona.

“Perhatikan juga sudah berapa lama usia pernikahan pasangan. Akan ada fase-fase kritis dari pernikahan yang rentan timbul konflik, misalnya karena adanya kejenuhan atau toleransi dari pasangan yang kurang,” psikolog itu menjelaskan.

2 dari 3 halaman

Apa yang Bisa Dilakukan Pasutri agar Terhindar dari Perceraian?

Meski konflik sering kali tidak bisa dihindarkan, bukan berarti Anda tidak bisa meminimalkan risiko perceraian. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan suami istri agar terhindar dari situasi tersebut, yaitu:

  • Saling menoleransi sifat dan perilaku pasangan. Anda tidak bisa terus menuntut pasangan menjadi seperti yang Anda inginkan, begitu juga sebaliknya. Solusinya, saling toleransi dan terbuka pada masalah-masalah yang tidak disukai satu sama lain.
  • Tingkatkan komunikasi agar hubungan semakin membaik. Ingat, kunci hubungan yang sukses adalah saling berkomunikasi. Dengan saling berdiskusi, Anda bisa mengetahui perasaan satu sama lain.

Artikel Lainnya: Tips Pergi Kondangan Selama Masa Pandemi COVID-19

  • Secara bersama-sama, lakukan kegiatan yang digemari satu sama lain. Misalnya, jika pasangan suka memasak, bantulah dia untuk menyiapkan bahan makanan. Atau jika pasangan Anda gemar merakit mainan, coba lakukan aktivitas itu bersama-sama.

Ikhsan mengingatkan, tidak semua masalah harus diselesaikan saat itu juga. Anda dan pasangan sama-sama butuh cooling down agar bisa berpikir jernih.

“Tapi ingat juga, jangan biarkan masalah terus menumpuk dan nantinya meledak di masa yang akan datang. Saling beri pengertian, dan coba obrolkan masalah dengan kepala dingin,” tutur Ikhsan.

Bukalah diskusi dan komunikasi yang sehat dengan pasangan. Jangan pula membuat keputusan penting di saat amarah sedang memuncak, yang mungkin disesali di kemudian hari. Jika merasa membutuhkan bantuan profesional, jangan segan berkonsultasi dengan psikolog.

Jangan ketinggalan informasi menarik pernikahan sehat dan tips membangun hubungan lainnya di aplikasi KlikDokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar