Sukses

Perbedaan Nyeri Sendi COVID-19 dan Nyeri Sendi Biasa

Melaney Ricardo mengalami nyeri sendi hebat saat terinfeksi COVID-19. Apa yang membedakan nyeri sendi corona dengan keluhan sejenis? Ini kata dokter.

Demam, batuk, dan sesak napas adalah tiga gejala COVID-19 yang paling lumrah. Namun, penyakit tersebut ternyata juga dapat menyebabkan gejala nyeri sendi pada penderita. Hal ini terekspos saat artis Melaney Ricardo menjelaskan pengalamannya menjadi pasien virus corona.

Dalam kanal Youtube miliknya, presenter itu bercerita bahwa ia menggigil dan merasakan nyeri sendi yang luar biasa di sekujur tubuh. Awalnya, ia mengira cuma kelelahan bekerja. Ternyata, setelah dilakukan tes swab bulan lalu, hasilnya positif.

Nyeri sendi nyatanya bisa menjadi salah satu indikator bahwa tubuh sedang tidak beres.

1 dari 5 halaman

Mengenal Nyeri Sendi Lebih Dekat

Rasa tidak nyaman pada sendi merupakan hal yang umum. Keluhan ini memang bisa terjadi pada remaja hingga lansia.

Salah satu penyebab nyeri sendi yang paling umum adalah arthritis (radang sendi), baik osteoartritis maupun rheumatoid arthritis.

American College of Rheumatology melaporkan, osteoarthritis paling sering menyerang orang dewasa di atas 40 tahun. Penyebabnya adalah kerusakan tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan. Rasa nyeri biasanya muncul di tangan, pinggul, dan lutut.

Sedangkan rheumatoid arthritis, penyakit ini biasanya ditemukan pada wanita. Gejalanya berupa sendi yang lama-kelamaan melemah, terasa nyeri, dan mengalami penumpukan cairan.

Selain dua kondisi tersebut, nyeri sendi nyataya juga bisa menjadi indikasi bahwa tubuh terserang infeksi virus, seperti flu, gondongan, dan hepatitis. Dengan demikian, gejala nyeri sendi akibat infeksi virus bukanlah hal baru dalam dunia medis.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 5 halaman

COVID-19 Juga Bisa Sebabkan Nyeri Sendi

Nyeri sendi pada pasien infeksi virus corona sudah pernah dituangkan dalam penelitian ilmiah Juli 2020 lalu.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Wiley Public Health Emergency Collection itu melaporkan sebuah kasus pria di Turki yang harus dirawat di rumah sakit setelah dinyatakan positif COVID-19. Kala itu, demamnya belum tinggi, hanya 36,7 derajat Celsius.

Lama-kelamaan gejalanya memburuk, apalagi pria tersebut memiliki penyakit comorbid seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung koroner.

Setelah diberikan pengobatan selama beberapa hari, gejala batuk, lemas, dan demam berangsur menghilang. Sayangnya, gejala lain malah timbul. Terjadi pembengkakan, kemerahan, dan nyeri sendi pada tubuh pasien.

“Karena ada pola klinis yang khas, pasien akhirnya didiagnosis dengan reactive arthritis (ReA) dan disebabkan oleh COVID-19. Pasien dirawat dengan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID),” tulis peneliti dalam studi yang berjudul The first Reactive Arthritis case Associated with COVID‐19 itu.

Artikel Lainnya: Gejala Pasien Virus Corona, dari Ringan hingga Kritis!

3 dari 5 halaman

Perbedaan Nyeri Sendi Biasa dan Nyeri Sendi Corona

Ada cara untuk membedakan nyeri sendi corona dengan nyeri sendi akibat kelelahan.

“Nyeri sendi akibat aktivitas biasanya terjadi di satu area atau beberapa bagian tubuh. Sedangkan nyeri sendi corona lebih menyeluruh (nyeri di sekujur tubuh),” ungkap dr. Valda Garcia.

Bagaimana dengan durasinya? Apakah nyeri sendi corona lebih lama sembuh? Terkait ini, dr. Valda berpendapat, durasi untuk tiap kasus nyeri sendi tergolong sulit diprediksi.

Durasi nyeri sendi yang bukan disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 juga bisa berlangsung lebih dari 3 hari. Jadi, untuk durasi, itu relatif.

Hal lain yang dapat menjadi ciri khas nyeri sendi corona adalah kemunculan gejala lain yang menyertai, seperti demam, sakit kepala, batuk, sesak napas, dan penurunan indra perasa.

Berkaca pada kasus Melaney Ricardo, nyeri sendi corona juga mungkin disertai dengan gejala demam menggigil.

Artikel Lainnya: Cegah Corona dengan Tingkatkan Imun Tubuh Anda

4 dari 5 halaman

Segera ke Dokter Jika Mengalami Kondisi Ini

Anda yang tidak punya penyakit radang sendi harus waspada, khususnya jika sekujur tubuh terasa nyeri dan pegal-pegal. Apalagi jika Anda memiliki riwayat kontak dengan orang terduga COVID-19.

Sebagai langkah pertolongan pertama, cobalah untuk mengonsumsi obat antinyeri sesuai dosis yang tertera di kemasan.

“Apabila setelah konsumsi obat rasa sakit tidak kunjung berkurang, Anda sebaiknya segera ke dokter,” kata dr. Valda.

Hal serupa juga berlaku bagi Anda yang sebelumnya telah mengalami penyakit radang sendi.

Waspadai nyeri sendi akibat infeksi virus corona. Lakukan deteksi dini dengan memeriksakan segala keluhan yang Anda rasakan kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar