Sukses

Teori Konspirasi Harus Dibuktikan, Jangan Asal Bicara!

Klikdokter berbincang dengan Jubir Satuan Tugas Penanganan COVID-19 soal teori konspirasi dan vaksin pandemi virus corona.

Penderita virus corona masih terus bertambah dari hari ke hari. Penularan masih terus terjadi, seakan tak ada habisnya. Padahal, pemerintah telah menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan. Tapi tidak jarang, aturan tersebut dengan mudah dilanggar.

Hingga tulisan ini diturunkan, telah ada 174.211 kasus positif dengan lebih dari 100.000 pasien sembuh dan 6.418 korban meninggal.

Walau bukti pandemi terang benderang, di berbagai tempat masih bisa ditemukan banyak orang yang mengabaikan protokol kesehatan dengan tidak pakai masker atau berkerumun.

Tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa pandemi tak lain hanya konspirasi semata. Bahkan, yang menyuarakannya adalah tokoh yang dikenal publik, maka dampaknya akan meluas.

Menanggapi  berbagai konspirasi yang mewarnai masyarakat, Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito, justru menantang mereka untuk memberikan buktinya.

Dalam perbincangan dengan Klikdokter, Wiku mengajak masyarakat untuk bekerja sama mematahkan berbagai keraguan. Virus corona itu nyata adanya, bukan bohong belaka. Korbannya orang-orang di sekitar kita, bisa jadi kita berikutnya jika tak waspada.

Bagaimana pandangan Satgas mengenai masyarakat yang tak patuh dan membandel terhadap protokol kesehatan?

Intinya sederhana saja kasus ini, COVID-19 menular lewat kontak fisik dan bisa menempel pada mata, hidung, mulut. Jadi, kalau kita tidak pakai masker yang menutupi hidung dan mulut, potensi tertularnya akan ada.

Begitu juga jika kita tidak cuci tangan dan kemudian tangan kita menyentuh mata, hidung, dan mulut, maka bisa tertular. Kalau kita tidak jaga jarak, lalu terkena droplet orang yang batuk, kita juga bisa tertular atau kita menularkan ke orang lain.

Kalau kasusnya masih banyak, maka artinya masyarakatnya belum disiplin menerapkan protokol kesehatan. Simple, kan?

Jadi kalau pemerintahnya melakukan sosialisasi dan seterusnya, harapannya semua masyarakat mendengarkan, memahami, mempraktikkan, solidaritas, mungkin membagi masker, dan saling mengingatkan sehingga semuanya bisa disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Simple-nya begitu. Baik itu di Indonesia, maupun di dunia. Semuanya sama.

Sebenarnya tidak bisa dibilang bandel juga masyarakatnya, kalau kita berpelukan, bersalaman, sudah jadi budaya puluhan tahun, masa dibilang bandel. Kan, tidak juga. Hanya saja butuh perubahan perilaku. Beradaptasilah dengan kebiasaan baru.

Mungkin itu istilah yang lebih tepat. Kita semua harus beradaptasi. Masyarakat itu kan, masyarakat sosial yang seharusnya bisa beradaptasi. Hanya saja memang butuh waktu.

Artikel Lainnya: Mungkinkah Ada Orang yang Kebal Virus Corona? Ini Faktanya!

1 dari 4 halaman

Banyak teori konspirasi bermunculan, bagaimana Pemerintah meng-counter situasi ini?

Kalau kita bicara tentang konspirasi, pastinya ada kecurigaan. Nah, kecurigaannya ini dari mana. Itu saja yang di-counter. Tidak usah counter dari pemerintah saja, tapi seluruh anggota masyarakat.

Begini, pandangan yang membedakan antara pemerintah dengan masyarakat itu menurut saya cara pandang yang masih salah. Ini karena musuh kita itu satu, yaitu virus. Musuh kita itu bukan saudara kita, bukan teman kita, bukan pemerintah, bukan kelompok A B C, bukan negara yang lain. Musuh kita itu adalah virus.

Kita harus cepat memahami bahwa virus adalah musuhnya. Maka harus kita lawan secara bersama-sama dan bersatu. Jadi, kalau kita memahami itu sebagai musuh bersama. Lalu mempertanyakan tentang konspirasi, silakan datanya mana kalau itu menunjukkan konspirasi.

Sekarang kasusnya banyak. Ada 215 negara di dunia yang sudah kena dampaknya. Konspirasinya di mana? Konspirasi di seluruh dunia kah yang mengadakan kasus ini? Kan bukan.

Kalau ada beberapa kelompok kecil yang membuat konspirasi ataupun kelompok besar di dunia, pasti semua negara yang sedang mengalaminya pasti akan berusaha mencari tahu tentang itu.

Pasti akan diserang habis-habisan. Jadi, teori konspirasi itu harus dibuktikan juga. Jadi jangan hanya bicara. Kalau ada masyarakat yang berpikir seperti itu, mana buktinya? Silahkan saja dimunculkan.

Kalau menurut saya sebagai pakar, konspirasi itu sampai sekarang belum terbukti karena datanya jelas ada korban, 20,8 juta. Masyarakat dunia besar sekali yang meninggal juga sudah 700 ribu lebih.

Jadi kalau dibilang konspirasi atau tidak. Kita melihat sendiri saudara kita banyak yang berguguran, tenaga kesehatan juga begitu. Jadi teori konspirasi menurut saya tidak tepat. Silakan siapa pun yang punya bukti, angkat saja. Kalau memang betul kita buktikan konspirasinya.

Artikel Lainnya: Apa Orang Indonesia Bisa Adaptasi dengan New Normal COVID-19?

Adakah rencana yang dibuat pemerintah jika masyarakat masih cuek dengan COVID-19?

Skenarionya hanya satu, berubah perilaku. Sosialisasi perubahan perilaku yang harus dilakukan oleh semua pihak mulai dari pemerintah sampai anggota masyarakat itu sendiri.

Lalu promosikan juga untuk anggota masyarakat lainnya, entah itu konteksnya satu daerah, kabupaten, kota, satu wilayah provinsi, satu wilayah pulau, satu wilayah negara, satu wilayah kawasan Asia, satu wilayah global.

Ini adalah pandemi. Kita tidak bisa melihatnya hanya dari nasional Indonesia. Nggak ada apa-apanya. Dunia ini besar sekali. Kita selesai di sini, negara lain tidak selesai, ya sama saja. Begitu juga sebaliknya.

Jadi skenarionya hanya satu, perubahan perilaku. Karena bikin vaksin pun belum selesai. Kita juga tidak tahu nanti vaksinnya seperti apa.

2 dari 4 halaman

Untuk vaksinnya sendiri, sudah sampai sejauh mana proses pengujiannya di Indonesia?

Vaksin itu ada berbagai macam jenisnya. Semua orang, semua negara berusaha, semua lembaga berusaha untuk menghasilkan vaksin. Proses penelitiannya juga sedang berlangsung. 

Kalau kita mulai  dari masalah pandemi ini atau infeksi penularan pertama di bulan Desember 2019 sampai sekarang, kalau kita hitung bulan sudah 9 bulan.

Dalam 9 bulan kita sudah mengembangkan vaksin, sudah habiskan beberapa bulan. Kemudian vaksin sendiri di laboratorium perlu juga.

Prosesnya lama. Lalu ada fase uji klinis dan praklinis. Kemudian ada uji klinis fase satu, dua, tiga yang perlu waktu cukup.

Jadi kalau ditanya kapan selesainya, ya selesaikan dulu uji klinisnya. Lalu aman atau tidak, kita lihat saja percobaannya memenuhi syarat untuk waktu yang memadai melihat efektivitas dan keamanannya. Begitu kurang lebih.

Artikel Lainnya: Kalbe Gandeng Perusahaan Korea untuk Ciptakan Vaksin Virus Corona

3 dari 4 halaman

Jika Indonesia berhasil memproduksi vaksin, boleh kami tahu bagaimana distribusinya? Harganya?

Kalau saya tahu, pasti saya kasih tahu. Ini masalahnya saya juga belum tahu. Vaksin itu, kan, yang dipertimbangkan banyak hal. Penelitiannya juga belum selesai uji klinisnya. Jadi, terlalu dini untuk menentukan harga.

Apakah Indonesia akan mengamankan vaksin yang diproduksi?

Pastinya, semua negara akan berusaha melindungi rakyatnya. Sudah jelas, dalam undang-undang setiap negara juga tertera.

Jadi, kita tidak boleh bergantung hanya pada negara lain, kita harus berusaha memiliki vaksin sendiri.

Kapan pandemi COVID-19 di Indonesia akan berakhir?

Jawaban saya adalah, yang ditanya bukan kapan pandemi berakhir, tapi tanya kapan kita semua bisa pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Kalau kita sudah bisa lakukan itu, kita juga yang bisa jawab kapan pandemi berakhir.

Secara kolektif ya ini. Kalau saya sendiri ya tidak cukup. Tapi kalau bersama-sama seluruh dunia, maka pandemi itu selesai kapan, ya kita yang menentukan.

Ini tapi harus secara kolektif. Jangan hanya dilihat dari satu wilayah, satu kota, satu negara, enggak. Global.

Gampang saja. Kita sudah mengenal musuhnya, sudah tahu itu menular, kita sudah tahu kelemahan kita suka salaman, suka tidak pakai masker, dan kadang tidak cuci tangan, kucek-kucek mata, mulut, hidung, ya itulah caranya menular. Jadi kalau mau selesai pandeminya, jawab itu dulu, laksanakan itu dulu.

Bersatulah, ubah perilaku, jalani adaptasi kebiasaan baru, dan jalani kegiatan sosial ekonominya.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar