Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Lampaui China, Jumlah Kasus COVID-19 Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Lampaui China, Jumlah Kasus COVID-19 Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Kasus terkonfirmasi virus corona di Indonesia kini telah menyentuh angka 86.000 dan telah melebihi China! Mengapa ini bisa terjadi menurut dokter?

Terus meningkat, kini jumlah kasus COVID-19 di Indonesia telah lampaui China. Berdasarkan data pemerintah, hingga pagi hari ini (20/7) jumlah kasus positif virus corona di Indonesia ada 86.521, dengan total pasien sembuh sebanyak 45.401 dan korban meninggal sebanyak 4.143.

Jumlah Kasus COVID-19 di Indonesia Lampaui China

Bukannya semakin membaik, tapi kasus COVID-19 di Indonesia justru semakin memburuk setiap harinya. Bahkan, sejak Sabtu (18/7) lalu, Indonesia menyalip China dalam total kasus positif virus corona.

Reuters US melaporkan, Indonesia jadi negara yang paling banyak kasus virus corona di seluruh Asia Timur.

China adalah negara yang pertama kali melaporkan adanya kasus infeksi virus corona sekitar akhir Desember 2019 lalu. Sedangkan, Indonesia pertama kali melaporkan kasus virus corona pada awal Maret 2020.

Hingga kini, ada sekitar 85.000 kasus di China dengan total kematian mencapai 4.600 dan sekitar 80.000 pasien sembuh.

Negara tersebut juga sudah mengetes 90 juta warganya selama masa pandemi berlangsung. Sedangkan di Indonesia, pemerintah baru mengetes sekitar 697.000 orang dengan 1,2 juta spesimen.

1 dari 5 halaman

Perbedaan Langkah Penanganan COVID-19 di Indonesia dan China

China memang jadi negara yang pertama kali mengumumkan adanya penyebaran virus corona. Wabah ini juga pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China di akhir 2019.

Meningkatnya jumlah kasus di China membuat semua warganya harus merasakan sistem lockdown selama berbulan-bulan.

Namun, dengan lockdown yang ketat dan pembangunan rumah sakit khusus COVID-19 yang sangat cepat, kasus virus corona pun sangat cepat dikendalikan.

Hal ini membuat hingga saat ini penambahan kasus virus corona di China pun tergolong sangat kecil bahkan angkanya stabil.

Sedangkan di Indonesia, langkah penanganannya sangat berbeda. Bila Pemerintah China menerapkan lockdown ke seluruh pelosok negeri, berbeda halnya dengan Indonesia.

Bukan lockdown, tapi pemerintah Indonesia lebih suka menggunakan istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa kota yang masuk zona merah/hitam, seperti DKI Jakarta dan Surabaya Raya.

Saat seluruh tempat umum ditutup di China, ini berbeda pula dengan di Indonesia. Menanggapi hal ini, dr. Astrid Wulan Kusumoastuti mengatakan,

Disease containment di Indonesia nggak bagus. Terbentur banyak kepentingan, salah satunya keinginan negara untuk terus memutar roda ekonomi sehingga nggak bisa ambil keputusan untuk pembatasan mobilisasi masyarakat secara masif.”

“Kalau ingin membandingkan langkah penanganan COVID-19 di China dan Indonesia, sebenarnya sangat banyak. Tapi yang paling terlihat jelas, ya, dari sistem lockdown itu sendiri,” tambahnya.

Menurut dr. Astrid, dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta, target tes harian seharusnya sampai di angka 50.000. Sedangkan, kini tes harian di Indonesia hanya mencapai 10.000 hingga 20.000.

Artikel Lainnya: Presiden Joko Widodo: Puncak COVID-19 di Bulan Agustus-September!

2 dari 5 halaman

Jumlah Pengujian Lebih Sedikit dan Positivity Rate Tinggi Dibanding China

Dicky Budiman (epidemiolog Griffith University) mengatakan jumlah pengujian virus corona di Indonesia masih jauh tertinggal dan belum bisa mengimbangi China.

Tidak hanya itu, Dicky juga memerhatikan positivity rate yang tinggi dengan angka di atas 11 persen.

Lantas, apa yang dimaksud dengan pengujian sedikit tapi positivity rate-nya tinggi? Dijawab oleh dr. Astrid, berikut penjelasannya:

  • Jumlah testing Indonesia per hari tidak sesuai dengan jumlah populasi penduduk, sehingga tidak mencapai target yang seharusnya untuk bisa mewakili angka populasi.

Dari sedikit yang di-testing, jumlah kasus positif yang ditemukan sangat tinggi, sehingga rasio yang positif dari total yang dites tinggi.

Artikel Lainnya: Ini Alasan Indonesia Diprediksi Jadi Hotspot Baru Virus Corona!

3 dari 5 halaman

Angka Kematian Virus Corona Indonesia juga Tembus Rekor

Tidak hanya lampaui China, tapi jumlah korban meninggal di Indonesia akibat COVID-19 juga tembus rekor.

Tercatat, Indonesia sempat melaporkan 127 kasus kematian akibat COVID-19. Angka ini menjadi jumlah korban meninggal tertinggi dalam sehari sejak munculnya wabah di tanah air.

Juru Bicara Khusus Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan sebagian besar kasus kematian COVID-19 di Indonesia berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Hingga saat ini, Jawa Timur memiliki jumlah kematian yang tinggi dengan 1.401 kasus, sementara Jakarta mencapai 700 kematian.

Mengenai hal ini, dr. Astrid berpendapat bahwa angka kematian yang terus meningkat belum diketahui pasti apa penyebabnya.

“Angka-angka ini belum riil. Yang terkonfirmasi positif dan masuk rumah sakit bisa saja memang pasien-pasien yang sudah parah. Jadi prognosisnya tidak begitu bagus, sehingga angka kematiannya tinggi. Padahal, mungkin angka total kasusnya jauh di atas angka riil sekarang. Jadi, rasio dibanding angka kematiannya bisa lebih rendah,” tutur dr. Astrid.

Tracing yang dimiliki Indonesia juga tidak terlalu bagus. Karena, pasien banyak yang menyembunyikan riwayat kesehatan dan perjalanan saat ditanya oleh dokter,” tambahnya.

Artikel Lainnya: 2 Obat Herbal Virus Corona Kalbe Farma Ikut Uji Klinis

4 dari 5 halaman

Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah Indonesia?

Menurut dr. Astrid, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menguatkan kembali strategi tes, tracing, dan isolasi sesuai anjuran WHO.

Selain itu, membatasi interaksi fisik masing-masing orang juga perlu dilakukan. Misalnya, kembali memberlakukan sistem work from home dan memperketat PSBB atau lockdown.

Tidak hanya itu, kembali menegaskan warga untuk menggunakan masker dan mengikuti semua protokol kesehatan juga wajib dilakukan pemerintah beserta dengan seluruh tim yang bertugas.

Terakhir, menerapkan sanksi bagi yang masih melanggar protokol kesehatan. Hal ini berguna agar orang tersebut jadi jera dan tidak mengulangi kesalahannya.

Jangan tunda pemeriksaan diri, ya. KlikDokter bersama Kemenkes RI dan BNPB menyediakan tes coronavirus online, rapid test, dan PCR yang bisa Anda gunakan. Bila punya masalah kesehatan, chat dokter via Live Chat 24 jam di aplikasi.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar