Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Lipsus: Perjuangan Tenaga Medis, dari Takut Jadi OTG sampai Stigma Negatif

Lipsus: Perjuangan Tenaga Medis, dari Takut Jadi OTG sampai Stigma Negatif

Intip cerita dua tenaga medis Indonesia yang rela mengesampingkan keinginan pribadi demi menyelamatkan nyawa di tengah pandemi global.

Begitu bertemu Ratri (bukan nama sebenarnya) di rumahnya, ia sedang mempersiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Pagi hari itu, Ratri juga sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke puskesmas tempatnya bekerja.

Pada tengah pandemi virus corona, Ratri yang seorang bidan harus tetap bekerja ke puskesmas yang berlokasi di daerah Tangerang. Tentunya, ia harus tetap bertugas demi menolong para ibu untuk melahirkan.

 

1 dari 8 halaman

Tak Mengenal Work from Home

Berangkat dengan mengendarai motor sendiri, Ratri menyusuri jalan dengan hati-hati. Maklum, malamnya habis hujan. Butuh waktu 20 menit untuk bisa sampai di puskesmas.

Begitu sampai, puskesmas yang biasanya ramai terlihat cukup sepi. Di depan gerbang hanya ada satpam tanpa ada motor-motor milik para pasien berjejer.

"Biasanya ramai ini, Mas, kalau hari biasa, kalau tidak ada virus corona. Sudah mengantre orang dari sejam sebelum puskesmas membuka pelayanan. Saat ini poli yang buka cuma bidan buat mereka yang akan melahirkan," kata Ratri.

Saat masuk puskesmas, protokol kesehatannya sangat ketat. Saat di depan, kita sudah dicek suhu dan diwajibkan memakai hand sanitizer supaya tetap aman.

Saya juga sempat diminta satpam di sana untuk memakai masker dengan benar. Setelah turun, memang maskernya saya turunkan untuk sekadar mengambil napas.

Setelah melakukan semua protokol kesehatan, saya kemudian bisa masuk. Ratri langsung menaruh tas di meja kerjanya dan membuat teh hangat sebelum mulai bertugas.

"Ini kebiasaan saya, Mas, sebelum kerja, bikin teh hangat dulu, lalu langsung ke kamar mandi untuk buang air," katanya singkat.

Maklum, ia harus langsung memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap sebagai Standard Operational Procedure (SOP) dalam melayani pasien di tengah pandemi virus corona.

Semua juga tahu perjuangan para tenaga kesehatan saat memakai APD. Gerah, pengap, harus menahan buang air, tidak bisa makan dan minum, serta segala macam lainnya.

Artikel Lainnya: Cerita dr. Rio Aditya: Di Balik Kerja Keras Dokter Relawan COVID-19

2 dari 8 halaman

Takut Jadi OTG tapi Harus Tetap Bertugas

Meski tidak ada pasien sekali pun, Ratri dan rekan-rekannya harus tetap memakai APD. Itu memang sudah SOP dalam penanganan pasien atau mereka yang bekerja di tempat-tempat kesehatan.

Sambil bertugas, Ratri bercerita banyak soal pengalaman bertugas di tengah pandemi virus corona. Ia mengaku ingin juga merasakan WFH seperti orang lain. Tapi apa daya, itu memang tidak bisa dilakukannya sebagai bidan.

Salah satu yang menjadi ketakutannya adalah ia terkena virus corona saat bertugas. Padahal, ada dua anak yang menantinya di rumah serta suami yang bersama-sama dengannya.

"Jujur, takut banget kalau sampai kena virus corona. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah tugas yang harus dilakukan," ujarnya.

Dirinya mengaku selalu membawa baju ganti dalam bertugas. Begitu sampai rumah pun ia juga langsung ganti baju dan mandi sebelum menyentuh anak-anak. Semua dilakukan supaya semua tetap aman.

"Tapi, ada satu yang paling saya takut. Takutnya saya kena dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG). Bisa saja, kan, saya terkena tanpa ada gejala jelas sebelumnya. Lalu akhirnya saya malah menularkan virus ini kepada orang-orang di rumah, termasuk anak-anak. Ini saya paling takut," jelasnya.

Wajar saja apa yang ditakutkan oleh Ratri. Virus corona memang bisa muncul tanpa gejala yang tidak disadari dan akhirnya Anda bisa menjadi carrier virus corona.

3 dari 8 halaman

Dukungan Keluarga Jadi Bekal Semangat

Berat memang menjadi Ratri pada masa pandemi virus corona. Ia mengaku tak berhenti mengkhawatirkan kondisi keluarganya di rumah. Akan tetapi, ternyata dukungan dari keluarga didapatkan secara maksimal.

Ratri mengaku dukungan yang didapat dari suami dan anak-anaknya membuat dirinya yakin dalam menjalani profesi di tengah pandemi.

Hal itulah yang membuat ia tetap semangat, termasuk dalam menjaga kebersihan diri selama bekerja.

"Keluarga bilang, ‘Sudah jalan saja’. Ini kalau saya sedang ragu-ragu berangkat. Anak-anak juga bilang tidak masalah. Suami juga selalu ingatkan masalah jaga kebersihan. Ia mengingatkan kalau jaga kebersihan dengan ketat, semoga bisa terhindar dari masalah virus corona," kata Ratri.

Itulah yang menjadi dasar sampai saat ini dirinya kuat untuk tetap kerja meski virus corona masih mengancam.

Ia mengaku akan tetap melakukan tugas dengan sekuat tenaga demi bisa membantu orang yang membutuhkan.

Artikel Lainnya: Kasus Virus Corona Dunia Capai 9 Juta, Ada Kenaikan Jumlah Signifikan!

4 dari 8 halaman

Stigma Negatif pada Tenaga Medis

Sayangnya, stigma negatif kadang masih muncul bagi tenaga medis yang tetap bertugas di tengah pandemi virus corona. Bagi Ratri, ini juga tantangan selama ia bertugas.

Tetangga banyak yang skeptis karena takut Ratri membawa pulang virus dari puskesmas. Sungguh stigma negatif dari masyarakat yang tidak bisa dielakkan lagi.

Cerita tenaga medis yang mendapat stigma negatif memang bukan bualan cerita media atau media sosial semata. Nyatanya, hal ini benar-benar terjadi.

Setidaknya, ini yang dialami oleh rekan saya, seorang perawat salah satu rumah sakit swasta di Jakarta bernama Nesriani.

Nesri – begitu saya menyapanya – mengaku pernah mengalami hal ini meski tidak terlalu terlihat.

Sosok yang saya kenal sekitar 10 tahun lalu ini bercerita, ia pernah pulang dari rumah sakit menuju tempat kos-kosannya dan menerima celetukan-celetukan yang tidak enak terkait profesinya sebagai perawat.

"Pernah pulang dari rumah sakit menuju kosan, tiba-tiba ada bapak-bapak tetangga di kosan yang nyeletuk, 'Kok, pakai maskernya begitu banget?'”, ungkap Nesri.

Mungkin bagi banyak orang, itu hanya sekadar celetukan semata. Tapi bagi perawat, tentu bukan suatu hal yang menyenangkan.

Sudah lelah seharian di rumah sakit mengurus pasien COVID-19, masih pula harus mendapat "sambutan" kurang baik dari banyak orang.

Namun, Nesri memilih untuk tidak terlalu memikirkan soal itu. Baginya, bertugas secara mantap untuk merawat pasien COVID-19 adalah tujuan utamanya.

Ia bahkan dengan legowo berkata, "Ya, tidak masalah seperti itu, saya fokus saja sama pekerjaan saya. Apalagi saya selama mengurus pasien COVID-19 lengkap memakai APD, ikut protokol kesehatan, dan selalu cuci tangan," jelasnya.

Nesri sebenarnya bisa menghindari cibiran dari tetangga di kosannya bila memilih beristirahat di rumah sakit. Memang tempatnya bekerja menyediakan tempat untuk istirahat bagi tenaga medis.

Akan tetapi, ia tidak mengambil kesempatan itu karena didahulukan bagi tenaga medis yang punya keluarga, anak kecil, atau tinggal dengan orang lain di rumah. Sedangkan, Nesri hanya sendirian di kosannya.

Artikel Lainnya: Temuan Baru, Dexamethasone Bisa Kurangi Angka Kematian Virus Corona

5 dari 8 halaman

Keluarga yang Cemas Menanti

Nesri sejak Februari sampai hari ini belum pulang ke rumah. Itu berarti kurang lebih 4 bulan berlalu.

Meski pasien COVID-19 sudah mulai berkurang di rumah sakit tempatnya bekerja, ia tetap tidak bisa balik ke rumah keluarganya di Cilegon.

Selain ada larangan tidak bisa keluar Jakarta, ia juga tidak mau membahayakan keluarga di rumah. Ditanya perasaannya, wanita yang punya lesung pipi ini mengaku sudah sangat rindu.

"Sudah dari Februari [belum pulang ke rumah]. Sedih banget, rindu sekali dengan orang tua. Saya biasanya sebulan bisa dua kali pulang kalau lagi libur, tapi ini tidak bisa sama sekali. Biasanya kumpul-kumpul dan makan-makan. Sekarang cuma kos-kosan ke rumah sakit, begitu saja," tutur Nesri.

Di sisi lain, keluarganya juga selalu cemas menanti kabarnya setiap hari. Maklum, ia memang harus berjibaku dengan virus yang tidak sembarangan.

Namun, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Dalam menghadapi ini, Nesri merasa keluarga menjadi salah satu penguat dirinya untuk bertugas. Hampir setiap hari ia disemangati oleh keluarga.

6 dari 8 halaman

Selalu Siap saat Dibutuhkan

Apa yang dikerjakan dari hati dan sukacita, tantangan seberat apa pun – termasuk COVID-19 – akan dilewati dengan baik.

Nesri menganggap, kalau sampai pasien kembali membludak di tempatnya bekerja, ia akan siap sedia dengan tekad 100%.

"Tidak masalah kalau sampai harus merawat lagi [pasien COVID-19]. Jadi perawat adalah panggilan hati, pelayanan saya kepada Tuhan, jadi saya akan mengerjakan dengan sukacita dan totalitas," ungkapnya.

 

7 dari 8 halaman

Berharap Masyarakat Punya Kesadaran Tinggi

Sebagai tenaga medis yang berjibaku dengan COVID-19, Nesri dan Ratri sama-sama sepakat bahwa masyarakat harus punya kesadaran tinggi untuk menjaga diri dan kesehatan. Apalagi virus corona kasus hariannya makin meningkat di Indonesia.

Tidak bisa selamanya bergantung pada tenaga medis. Kunci utama penyebaran penyakit ini bisa ditekan adalah dari masyarakat itu sendiri.

Selain itu, kedua sosok ini juga sama-sama tidak berharap banyak dengan adanya new normal kalau melihat masyarakat yang masih banyak tidak disiplin.

Apalagi dalam beberapa hari terakhir, terjadi lonjakan kasus sampai 1.000 lebih per hari.

Namun, keduanya tetap meyakini bahwa kalau masyarakat mau bersatu dan disiplin, penularan virus corona akan segera usai di Indonesia.

Intinya adalah semangat, rajin cuci tangan, pakai masker, dan menjaga jarak. Itu pesan mereka.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar