Sukses

Viral Pasar Diserbu Pembeli, Apa Kabar Virus Corona?

Jelang lebaran, sejumlah pasar di beberapa kota justru ramai dipadati oleh pengunjung. Kalau sudah begini, apa kabar PSBB dan virus corona?

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memang sudah ditetapkan di berbagai wilayah, terutama di Jakarta yang sudah berjalan sejak April lalu.

Dengan adanya PSBB, diharapkan bisa menekan jumlah penyebaran virus corona di Indonesia.

Namun, sepertinya masyarakat tidak lagi peduli dengan PSBB, karena dalam beberapa hari terakhir di sejumlah pasar terlihat ramai pengunjung.

Beberapa masyarakat yang terpantau tidak mengindahkan imbauan PSBB pemerintah, yakni ada di pasar daerah Tanah Abang, Sumedang, dan Cisarua. 

Mengapa Orang Serbu Pasar Padahal Ada Pandemi Virus Corona?

Satu minggu menjelang lebaran, kondisi pasar Tanah Abang terlihat dipadati oleh pengunjung.

Mengutip Kompas, Camat Tanah Abang, Yassin Passaribu, mengatakan dirinya dan seluruh tim Satpol PP yang bertugas akan terus melakukan penertiban kepada para pedagang yang masih nekat untuk membuka kios.

Yassin mengatakan meski penertiban ini belum maksimal, dirinya akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan penertiban sampai Hari Raya Lebaran dan sampai PSBB usai.

Meski begitu, Yassin sendiri mengaku kewalahan dalam melakukan penertiban. Yassin beserta dengan 60 personil Satpol PP sudah turun langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan sidak kepada ratusan  pedagang.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

Menurut keterangan Yassin, Pasar Tanah Abang sendiri mulai dipadati oleh pengunjung sejak Rabu (13/5) lalu, dan jumlah pengunjung semakin meningkat sejak Senin (18/5) kemarin.

Tidak hanya di Jakarta, tapi hal serupa juga terjadi di Pasar Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Berdasarkan laman Detik, sejak Senin lalu, warga mulai terlihat memadati area pasar untuk memenuhi kebutuhan jelang Idul Fitri.

Mirisnya lagi, banyak masyarakat yang tidak mengikuti protokol kesehatan di tengah PSBB untuk mencegah penyebaran virus corona, yakni dengan tidak menggunakan masker.

Lantas, apa yang membuat seseorang justru jadi mulai ‘bandel’ ke luar rumah di tengah PSBB?

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bisa berani/nekat keluar rumah ke pasar), seperti:

  • Adanya rasa jenuh yang tidak terbendung oleh seseorang. Menurut Ikhsan, rasa jenuh memang wajar dialami oleh seseorang. Apalagi jika orang tersebut sudah diam di rumah selama 3 bulan.
  • Dibukanya kembali perkantoran juga jadi salah satu trigger mengapa seseorang jadi ingin pergi ke luar rumah. Bagi orang tersebut, bisa saja aturan boleh ke kantor disamakan artinya dengan boleh pergi ke tempat lainnya seperti pasar
  • Momen lebaran yang tidak ingin dilewatkan oleh sejumlah umat muslim, juga jadi salah satu faktor seseorang nekat untuk membeli keperluan Lebaran.

Alhasil, pasar jadi dipadati oleh pengunjung yang ingin membeli baju, makanan, dan keperluan lebaran lainnya.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

1 dari 4 halaman

Risiko Tertular Virus Corona di Pasar tinggi

Menurut dr. Devia Irine Putri, risiko penularan virus corona bisa datang dari mana saja, terutama pada tempat keramaian. Tidak dimungkiri juga, bahwa penyebaran virus corona di pasar bisa saja tinggi.

Pasalnya, pasar sangat ramai pengunjung, dan tidak ada jarak satu dengan yang lain dalam proses jual beli.

“Risiko tertularnya pasti besar. Kita kan tidak pernah tahu di dalam pasar itu ada yang sudah positif virus corona atau belum. Atau mungkin sudah kena, tapi tidak ada gejalanya (OTG). Yang seperti ini kan yang bahaya, dan bisa jadi carrier virus untuk orang-orang disekitarnya, maupun orang yang berkontak fisik langsung di dalam pasar itu,” ujar dr. Devia.

Menurut dr. Devia, masyarakat seharusnya tetap mematuhi aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Lalu, jika memang diperlukan sekali untuk keluar membeli keperluan Lebaran, ada baiknya jika Anda tetap mengatur jarak dengan sesama pengunjung, tetap menggunakan masker, dan membawa hand sanitizer.

“Tapi ini sebenarnya juga tidak disarankan. Kalau bisa, ya, di rumah saja dan memilih opsi untuk berbelanja online,” tambah dr. Devia.

2 dari 4 halaman

Siap-Siap Lonjakan Kasus Positif Virus Corona di Indonesia

Dalam rapat terbatasnya, Presiden Joko Widodo menyebutkan belum membuat kebijakan terkait pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan ini baru sebatas skenario biasa dan masih menunggu waktu serta penerapannya.

Mengutip Detik, Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc, atau akrab dipanggil Miko menyarankan agar pemerintah tidak melonggarkan PSBB di tengah penambahan kasus yang masih tinggi.

Hal serupa juga dikatakan oleh dr. Devia, di mana menurut dirinya dengan melonggarkan sistem PSBB maka jumlah kasus positif virus corona di Indonesia bisa semakin meningkat. Nantinya, butuh waktu yang semakin lama pula untuk memulihkannya.

“Dengan sistem PSBB yang masih ketat saja, pasien positif virus corona di Indonesia masih terus meningkat setiap harinya. Apalagi jika PSBB ini dilonggarkan? Maka peningkatan korban positif virus corona akan semakin melambung tinggi,” kata dr. Devia.

3 dari 4 halaman

Pelonggaran PSBB Bisa Terjadi Dengan syarat Ini

Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc mengatakan, hingga saat ini pemerintah memang belum menetapkan indikator kapan PSBB akan dilonggarkan.

Jika memang nantinya pemerintah akan membuat indikator pelonggaran PSBB, hal ini harus dikaji dari angka penurunan korban infeksi virus corona di setiap kota dan provinsi yang ada.

Menurutnya, syarat khusus untuk pelonggaran PSBB adalah angka penyebarannya harus turun pada tingkat minimal dan ini terjadi secara konsisten. Jadi, memang harus didata dan dilihat per provinsi.

Miko menyebut, apabila jumlah penyebaran sudah secara konsisten menurun, dengan diisolasinya kasus dan kontak tracing-nya, maka PSBB bisa dilonggarkan secara bertahap.

Nah, kalau bagaimana tanggapan kalian? Apakah seharusnya PSBB mulai dilonggarkan sekarang, atau justru harus semakin diketatkan?

KlikDokter juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona.

Apabila mau tahu lebih lanjut seputar COVID-19 gunakan fitur Live Chat untuk konsultasi langsung dengan dokter. Sedangkan untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar