Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Syarat Terapi Plasma Konvalesen untuk Pengobatan COVID-19

Syarat Terapi Plasma Konvalesen untuk Pengobatan COVID-19

Terapi plasma konvalesen disinyalir dapat bantu meningkatkan peluang sembuh pasien COVID-19. Apa saja syarat yang mesti dipenuhi untuk mendapatkan terapi tersebut?

Pandemi virus corona yang tengah terjadi memakan banyak korban. Hal ini membuat banyak ahli kesehatan mencari-cari pengobatan yang tepat untuk mengatasi perburukan kesehatan yang disebabkan infeksi virus tersebut. 

Salah satu jenis pengobatan yang digunakan untuk menangani pasien positif COVID-19 adalah terapi plasma konvalesen. 

Belakangan ini banyak pasien virus corona yang mencari plasma darah penyintas COVID-19 untuk melakukan tersebut. Tahukah Anda, terapi apa itu?

1 dari 4 halaman

Apa Itu Terapi Plasma Konvalesen?

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, metode terapi plasma konvalesen sebenarnya sudah cukup lama digunakan. Termasuk ketika terjadi pandemi flu spanyol pada 1918, serta wabah flu babi, SARS, ebola, dan MERS beberapa tahun lalu.

Lalu, bagaimana terapi plasma konvalesen bekerja?

Mengutip laman resmi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), terapi plasma konvalesen dilakukan dengan memberikan plasma atau bagian darah mengandung antibodi dari orang yang telah sembuh (survivor atau penyintas) kepada pasien yang sakit.

Menurut Direktur Lembaga Molekuler Eijkman, Prof. Dr. Amin Soebandrio, Ph.D., Sp.MK., plasma tersebut bisa mengeliminasi virus sehingga diharapkan infeksi bisa terputus. 

Terapi plasma konvalesen juga diharap dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh pada orang-orang yang positif virus corona.

Artikel Lainnya: AS Uji Coba Terapi Plasma Darah untuk Mengobati Infeksi Virus Corona

Menristek Bambang Brodjonegoro menyebut, terapi plasma konvalesen lebih baik diberikan kepada pasien COVID-19 bergejala sedang. Artinya, tidak untuk mereka yang dalam kondisi berat atau parah.

Hal serupa juga dikatakan David H. Muljono, peneliti senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. 

Menurutnya, terapi plasma konvalesen virus corona hanya diberikan kepada pasien derajat sedang yang mengarah kepada pneumonia dan hipoksia. 

Perlu dicatat, terapi plasma konvalesen COVID-19 bukan diberikan sebagai upaya pencegahan, melainkan pengobatan. 

Sebagai produk tambahan dari terapi plasma konvalesen, Lembaga Eijkman tengah  mengembangkan alat ukur kadar antibodi spesifik COVID-19 dalam darah pasien.

“Utamanya untuk mengukur kualitas dari plasma darah yang diberikan oleh donor. Tapi  nantinya juga bisa diberikan setelah vaksinasi untuk mengecek apakah dari vaksin yang diberikan muncul daya tahan tubuh dan berapa lama immunity-nya bisa bertahan,” jelas Bambang, Selasa (20/10).

Artikel Lainnya: Fakta yang Perlu Anda Tahu tentang Donor Plasma

2 dari 4 halaman

Apa Saja Syarat bagi Pendonor dan Penerima Plasma?

Dokter Astrid mengatakan, secara umum tidak ada panduan yang mutlak terkait pendonor plasma darah. Sebab, semua tergantung pada karakter penyakit dan metode penelitian yang diterapkan. 

“Misalnya, kalau COVID-19 sekitar 14 hari setelah dinyatakan sembuh, sedangkan dulu ebola 28 hari,” sebut dr. Astrid. 

“Yang jelas harus masuk range usia, boleh donor. Kalau berdonor, tidak malah merugikan dirinya. Salah satu, biasanya tidak boleh ada penyakit lain yang sedang diderita,” ujar dia. 

Sementara itu, Kemenkes menyebut pasien COVID-19 bisa mengikuti uji klinis setelah memenuhi beberapa syarat. Di antaranya:

  • Usia minimal 18 tahun.
  • Dalam perawatan dengan gejala sedang yang mengarah ke berat. 
  • Mau dirawat minimal 14 hari.
  • Golongan darah pendonor harus sama dengan penerima.
  • Mengikuti prosedur dan tahap-tahap penelitian.

Tidak hanya itu, terapi plasma konvalesen juga hanya bisa diberikan pada orang dengan kriteria tertentu. 

Artikel Lainnya: Setelah Donor Darah, Ini yang Dilakukan pada Darah Anda

Disebutkan oleh dr. Theresia Rina Yunita, berikut kriteria penerima terapi plasma konvalesen: 

  • Pasien COVID-19 harus memiliki gejala sedang hingga berat, atau mengalami kondisi gawat darurat.
  • Pasien memiliki riwayat kesehatan yang bisa memperburuk kondisi COVID-19, terutama mereka yang sudah memiliki kondisi gawat darurat.
  • Orang tanpa gejala (OTG) tidak masuk dalam kriteria penerima terapi plasma konvalesen. Mereka yang OTG hanya wajib melakukan isolasi mandiri di rumah, guna menekan penyebaran COVID-19. 
3 dari 4 halaman

Adakah Efek Samping dari Terapi ini?

Food and Drug Administration (FDA) mengesahkan terapi plasma untuk orang dengan COVID-19, mengingat belum ada pengobatan yang lebih pasti untuk bantu mengendalikan penyakit ini.

Apakah terapi plasma konvalesen akan menjadi pengobatan dari COVID-19 di waktu mendatang? Hal ini masih belum dapat dipastikan. Hingga kini pun, belum ada bukti bahwa terapi plasma konvalesen bisa menyembuhkan pasien COVID-19. 

Kendati begitu, data dari uji klinis kecil dan program akses nasional mendapati bahwa terapi tersebut dapat mengurangi keparahan atau memperpendek durasi COVID-19. 

“Penggunaannya (terapi plasma konvalesen) kontroversi, karena masih sedikit bukti ilmiahnya. Tapi, terapi tersebut diharapkan dapat membawa perbaikan secara klinis maupun lab pada pasien bergejala sedang hingga berat,” ucap dr. Theresia Rina.

Artikel Lainnya: 5 Efek Menerima Transfusi Darah

Lantas, bagaimana dengan efek samping terapi plasma konvalesen? Terdapat beberapa risiko efek samping akibat terapi ini, yaitu muncul kerusakan paru-paru dan kesulitan bernapas. 

Selain itu, pasien yang mendapat terapi plasma konvalesen juga berisiko mengalami infeksi HIV, dan hepatitis B atau C. 

Risiko efek samping tersebut dapat ditekan, asalkan pasien telah memenuhi semua syarat terapi plasma konvalesen. 

Syarat terapi plasma konvalesen adalah hal mutlak untuk mendapatkan manfaat maksimal dari jenis pengobatan tersebut. 

Semoga saja, terapi ini dapat segera disahkan sebagai cara mengobati COVID-19 yang terbukti ampuh.

Ingin bertanya tentang terapi plasma konvalesen? Mengalami gangguan kesehatan yang bikin gejalanya membingungkan? 

Anda dapat langsung mengonsultasikan hal tersebut kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau di aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar