Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Sempat Disangka Akibat COVID-19, Bob Hasan Wafat Karena Kanker Paru

Sempat Disangka Akibat COVID-19, Bob Hasan Wafat Karena Kanker Paru

Pengusaha sekaligus pegiat olahraga atletik, Bob Hasan meninggal dunia. Penyebab kematiannya bukan karena infeksi virus corona (COVID-19), tapi akibat kanker paru.

Kabar duka datang dari dunia atletik Indonesia. Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Bob Hasan, meninggal dunia pada Selasa (31/3). Penyebab kematian pria yang juga pengusaha itu bukan infeksi virus corona, tapi karena kanker paru.

Bob Hasan (89) adalah sosok yang terkenal karena merupakan anak asuh dari Jenderal Gatot Subroto, pahlawan Indonesia. Selain itu, ia juga merupakan pengusaha dalam industri kayu.

Pria yang lahir dengan nama Muhammad Hasan ini menaruh perhatian besar pada dunia atletik. Bertahun-tahun ia menjadi ketua PB. PASI, dan juga merupakan sosok yang dikenal ‘bertangan dingin’ saat mencari atlet. Ia pun merupakan Honorary Life Council Member International Associations of Athletic Federation, sehingga eksistensinya telah diakui oleh atletik dunia.

Artikel lainnya: Kanker Paru Lebih Mudah Serang Pria atau Wanita?

Bob Hasan Wafat Akibat Kanker Paru

Bob Hasan mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD), Jakarta. Meninggalnya Bob Hasan dipastikan karena kanker paru-paru. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot S Dewa Broto.

“Betul, baru saja saya call (telepon) Pak Tigor (Sekjen PASI). Menurut rencana akan dimakamkan di Ungaran, Jawa Tengah. Tidak ada kaitannya dengan (virus) corona,” ujar Gatot, Selasa (31/3) seperti dikutip dari okezone.com.

Artikel lainnya: Kenali Kanker Paru untuk Melakukan Pencegahan Sejak Dini

Apa Itu Kanker Paru?

Kanker paru yang dialami Bob Hasan memang masih menjadi momok bagi banyak orang. Penyakit ini termasuk jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi pada pria, yaitu 19,4 per 100 ribu, dengan rata-rata kematian 10,9 per 100 ribu penduduk.

Menurut dr. Muhammad Iqbal Ramadhan, perokok aktif memiliki risiko terbesar terkena kanker paru-paru. Meski demikian, kanker ini sebetulnya juga bisa terjadi pada orang-orang yang tidak merokok.

"Risiko kanker paru meningkat seiring lamanya waktu dan jumlah rokok yang diisap. Jika berhenti merokok, bahkan setelah bertahun-tahun, Anda dapat secara signifikan mengurangi peluang terkena kanker paru-paru," ujar dr. Iqbal.

Selain akibat rokok, kanker paru juga bisa terjadi akibat paparan gas radon, asbes dan bahan karsinogen lainnya dalam waktu lama. Risiko penyakit ini pun dipengaruhi oleh riwayat keluarga dan asupan gizi yang tidak seimbang.

Kanker paru umumnya diawali oleh gejala yang tidak kasatmata. Tanda dan gejala penyakit ini biasanya baru terjadi ketika penyakitnya sudah mencapai stadium selanjutnya.

Adapun beberapa tanda dan gejala yang bisa menjadi indikasi adanya kanker paru, yaitu:

  • Batuk baru yang tidak kunjung sembuh
  • Batuk darah meski jumlahnya sedikit
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Suara serak berkepanjangan
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Nyeri tulang
  • Nyeri kepala

Secara umum, ada dua jenis kanker paru, yakni small cell lung cancer (SCLC) dan non-small cell lung cancer (NSCLC).

"SCLC adalah bentuk kanker paru yang lebih agresif, dengan sel-sel kanker yang cenderung tumbuh dengan cepat dan melakukan penjalaran (metastasis) ke organ tubuh lain," ungkap dr. Iqbal.

Sedangkan untuk NSCLC, kanker paru jenis ini terbagi menjadi empat jenis. Keempat jenis tersebut adalah adenocarcinoma, bronchoalveolar, squamous cell carcinoma, dan large cell carcinoma.

Artikel Lainnya: Gejala Kanker Paru Sesuai Stadium

1 dari 2 halaman

Seperti Apa Perawatan Pasien Kanker Paru?

Sebelum meninggal dunia, Bob Hasan dikabarkan sempat menjalani perawatan intensif untuk kanker paru selama 3 bulan.

Berbicara soal perawatan kanker paru, hal ini bisa berbeda-beda, tergantung jenis, ukuran, dan stadium kanker. Akan tetapi, perawatan kanker paru yang biasanya dilakukan adalah:

  • Operasi. Jaringan yang sakit dan terkena kanker akan diambil melalui cara pembedahan oleh dokter
  • Kemoterapi. Menggunakan obat khusus untuk menciutkan atau membunuh sel-sel kanker. Obat bisa diminum atau dimasukkan ke pembuluh darah vena lewat infus
  • Terapi radiasi. Menggunakan sinar X energi tinggi untuk membunuh sel kanker.
  • Targeted Therapy. Menggunakan obat-obatan untuk menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Bisa berupa obat yang diminum maupun melalui infus, seperti pada kemoterapi.

Kabar kepergian Bob Hasan memang meninggalkan duka mendalam. Belajar dari kondisi ini, mari selalu waspada akan setiap kemungkinan yang ada. Lakukan tindakan pencegahan mulai saat ini, agar risiko kanker paru atau penyakit berbahaya lainnya tidak terjadi di kemudian hari.

Bagi Anda yang ingin tahu lebih lanjut mengenai kanker paru atau masalah kesehatna alinnya, jangan sungkan untuk bertanya secara langsung pada tim dokter dari KlikDokter melalui Live Chat 24 jam.

Jika khawatir dengan penyakit infeksi virus corona, Anda  juga bisa memanfaatkan Cek Corona Gratis dari KlikDokter dengan klik di sini. KlikDokter telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) untuk ikut serta dalam menekan angka pesebaran virus corona di Indonesia.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar