Sukses

Perlukah Panic Buying Saat Wabah Virus Corona?

Saat ini, muncul kehebohan panic buying di Indonesia sebagai dampak adanya virus corona. Jangan ikut-ikutan, mari ketahui cara mengontrolnya.

Dalam beberapa foto yang dibagikan di media sosial, terlihat orang-orang mulai melakukan panic buying. Ini adalah dampak ketika virus corona “resmi” masuk ke Indonesia beberapa hari lalu.

Mari ketahui lebih lanjut tentang apa itu panic buying dan bagaimana cara mengendalikannya?

Coronavirus Masuk ke Indonesia, Dampaknya Jadi Panic Buying

Pada Senin (2/3), Presiden Joko Widodo menyatakan dua orang yang tinggal di Depok, Jawa Barat, diketahui sebagai kasus positif virus corona pertama  di Indonesia.

Dua orang ini kemudian mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara. Kemudian, diketahui ada 7 orang lainnya yang masuk ke dalam daftar suspect corona dan langsung mendapatkan perawatan juga di RSPI Sulianti Saroso.

Setelah dinyatakan Indonesia positif virus corona, ada dampak yang ditunjukkan banyak masyarakat, salah satunya adalah panic buying.

Dalam cuplikan video atau foto yang berseliweran di dunia maya, banyak orang memborong mi instan, hand sanitizer, sampai masker kesehatan.

Akibatnya, stok hand sanitizer dan masker bahkan sudah habis di pasaran. Kalau pun ada, harganya sekarang sangat mahal. Itu semua adalah dampak panic buying akibat adanya kasus virus corona di Indonesia.

Sepertinya, kebanyakan orang takut kalau Indonesia, terutama Jakarta, akan di-lock down oleh pemerintah seperti Kota Wuhan, Tiongkok. Maka itu, tidak heran masyarakat langsung mempersiapkan diri dengan cara membeli banyak barang.

Artikel Lainnya: 8 Cara untuk Mengatasi Serangan Panik

1 dari 3 halaman

Mengenal Lebih Lanjut Tentang Panic Buying

Ya, panic buying adalah respon psikologis seseorang untuk membeli barang berlebihan dalam kondisi panik atau keadaan tertekan seperti saat ada wabah penyakit atau bencana alam.

Mereka merasa harus sedia banyak persiapan seperti makanan atau obat walaupun itu semua bukan kebutuhan utama.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi, psikolog dari KlikDokter, panic buying adalah kondisi yang sangat erat berhubungan dengan situasi tak terduga seperti virus corona.

Biasanya, orang yang panic buying mengalami kecemasan berlebih. Ini membuat mereka melakukan itu demi bisa membuat dirinya sendiri merasa aman.

Artikel Lainnya: 7 Cara Cepat dan Mudah Hilangkan Cemas

"Dalam situasi penyebaran virus corona itu kan sifatnya tidak terduga, tiba-tiba datang. Nah, pelaku panic buying umumnya adalah orang-orang yang memiliki masalah kecemasan berlebih," ujar Ikhsan.

"Saat orang-orang melihat sesuatu yang tidak aman, mereka akan langsung berpikir tidak rasional, kontrol dirinya juga bermasalah. Pada hal seperti ini, mereka juga akan panik, langsung belanja keperluan sembako dalam jumlah banyak,” jelas Ikhsan.

“Itu dilakukan untuk menutupi rasa cemasnya. Dengan membeli semua itu, mereka merasa aman," lanjutnya.

Panic buying yang sekarang banyak terjadi sebenarnya bukan langkah yang baik. Bahkan bisa dikatakan, orang itu hanya fokus dengan dirinya sendiri daripada orang lain.

"Cara ini sebenarnya tidak baik, karena berbahaya. Panic buying, kan, jadi membuat  berebutan sama orang lain dan bikin orang harus dapat apa yang diinginkan. Itu akhirnya bisa mengganggu aktivitas mereka," tutur Ikhsan.

"Panic buying ini juga membuat orang mikirin diri sendiri, tidak peduli dengan orang lain apakah kekurangan atau tidak, yang paling penting mereka merasa aman," sambungnya.

Artikel Lainnya: Penyebab Gangguan Kecemasan Sering Muncul di Malam Hari

2 dari 3 halaman

Bagaimana Cara Mengatasi Panic Buying?

Tidak jarang, saat ada wabah atau fenomena darurat ini, banyak toko atau produsen yang menjual barang-barang dengan harga naik berkali-kali lipat dari normalnya.

Orang-orang yang terkena panic buying pun jadi berpikir lebih baik membeli  dan punya persediaan berlebih daripada kehabisan.

Namun perlu diketahui, bahwa Pemerintah Indonesia menjamin bahwa stok beras, sembako, dan masker kesehatan lain aman. Jadi, panic buying sebetulnya tidak perlu dilakukan oleh masyarakat.

Lantas, apa yang dapat dilakukan untuk menghindari jebakan membeli di bawah kondisi tertekan seperti ini?

Belajar dari pepatah lama yang mengatakan "jika Anda pergi berbelanja ke supermarket, jangan pernah pergi dengan perut kosong". Nah, pepatah itu dapat berlaku untuk segala jenis perbelanjaan, termasuk panic buying.

Menurut Dr. Tim Denison, psikolog dari Ipsos Retail Performance di Inggris,  pergi dengan rencana atau daftar belanja yang jelas dapat membantu mengurangi pengeluaran yang tidak direncanakan.

Artikel Lainnya: Punya Gangguan Cemas tapi Suka Nonton Film Horor, Bagaimana Risikonya?

Selain itu, hal ini juga dapat mengurangi adanya rasa menyesal di kemudian hari. Berikut adalah sedikit tips untuk mengendalikan panic buying pada diri sendiri.

  1. Tahu Apa Kebutuhan yang Mau Dibeli

Misalnya, saat di toko swalayan, niatnya mau cari atau membeli makanan kaleng agar bisa dikonsumsi dalam waktu yang lama.

Pastikan dulu sebelumnya Anda tahu merek atau jenis apa yang diinginkan. Jangan sampai tergoda membeli yang lain, meski diskon sekalipun.

Namun, biasanya penjual akan menempatkan beberapa produk yang mudah dilihat supaya dibeli. Tujuannya supaya produk itu dibeli walau tidak dibutuhkan.

Dipadukan dengan diskon, atau seperti buy 1 get 1, itu akan memicu Anda membelinya. Tapi sebaiknya tinggalkan itu semua dan fokuslah dengan barang yang ingin Anda beli.

  1. Berpikir Positif

Berpikir positif dapat mengendalikan dampak panic buying akibat virus corona. Begini, pemerintah umumnya tidak akan membiarkan keadaan negeri jadi rusuh akibat langka dan mahalnya barang-barang.

Mereka pasti sudah punya plan tersendiri untuk menyelamatkan warganya. Untuk itu, tidak perlu panic buying. Ingat, situasi wabah COVID-19 di beberapa negara lain seperti Tiongkok, sudah dapat ditekan.

Dari 90.000 lebih kasus di dunia, setengah dari jumlah pasien corona sudah sembuh. Ini sudah menjadi tanda titik terang, di mana infeksi virus corona bisa diatasi, dan tidak perlu ada sikap berlebihan kecuali menjaga kesehatan diri.

Daripada mubazir dan merugi ke depannya, lebih baik beli barang-barang dengan jumlah sesuai kebutuhan saja, bukan?

  1. Ingat Sesama

Biar apa, sih, beli barang seperti mi, masker, dan sabun cuci tangan berlebihan? Ingat, seharusnya barang-barang yang Anda beli secara berlebihan itu bisa digunakan untuk orang yang lebih butuh.

Misalnya, memborong stok masker kesehatan dalam jumlah banyak padahal Anda tidak sedang sakit adalah sikap yang salah. Orang sehat tidak butuh itu, malah orang sakitlah yang butuh pakai masker.

Orang sakit batuk dan flu butuh pakai masker untuk mencegah penularan dari dirinya ke orang sehat. Dengan menanamkan diri rasa berbagi (dengan tidak memborong barang kesehatan berlebihan) Anda juga turut membantu menekan penyebaran virus corona di Indonesia.

Memang, kondisi seperti penyebaran virus corona ini membuat orang serba salah. Tapi ingat, panic buying bukanlah pilihan. Ingat kata Ikhsan di atas, membeli saat panik justru merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk tahu informasi tentang dampak virus corona lainnya, jangan ragu ajukan pertanyaan lewat fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar