Sukses

Aborsi Spontan, Apa Maksud dan Penyebabnya?

Dalam istilah medis, keguguran dikenal dengan aborsi spontan. Beda dengan upaya menggugurkan kandungan, yuk, simak apa maksud dan penyebab aborsi spontan.

Aborsi tentu Anda sering dengar, karena identik dengan upaya menggugurkan kandungan, khususnya bagi kehamilan yang tidak diharapkan. Namun, bagaimana dengan aborsi spontan, masih asing terdengar kan?

Pengertian Aborsi Spontan

Aborsi (dalam bahasa Latin dikenal sebagai abortus atau awam mengenalnya sebagai keguguran) adalah kondisi terjadinya kematian janin atau keluarnya hasil konsepsi atau janin sebelum usia kehamilan 20 minggu.

Keguguran tanpa didahului tindakan tertentu yang memicunya disebut sebagai aborsi atau abortus spontan.

Berdasarkan data yang ada, sekitar 20-30 persen wanita hamil mengalami perdarahan dari vagina pada 20 minggu pertama kehamilan. Dari jumlah tersebut, 50 persen di antaranya mengalami aborsi spontan.

Adanya flek atau perdarahan dari vagina pada wanita hamil bukanlah suatu hal yang wajar. Oleh karenanya, bila sampai itu terjadi, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan agar bisa dilakukan pemeriksaan dan pemilihan terapi yang tepat.

Tanda dan gejala yang bisa dirasakan ketika mengalami aborsi spontan meliputi:

Meski tanda dan gejala di atas merupakan kriteria klinis abortus spontan, tetapi tetap dibutuhkan pemeriksaan penunjang seperti USG dan pemeriksaan kehamilan seperti beta-hCG.

Artikel Lainnya: Aborsi, Kapan Boleh Dilakukan?

1 dari 3 halaman

Jenis-Jenis Aborsi Spontan

Meski aborsi identik dengan pengguguran kandungan yang disengaja atau akibat campur tangan (provokasi) manusia, tapi aborsi spontan tidak didahului faktor mekanis atau pemberian obat tertentu yang bisa memicu terjadinya abortus.

Aborsi spontan berlangsung secara alami dan paling sering disebabkan oleh adanya gangguan pada janin.

Ada lima jenis aborsi spontan yang perlu diketahui. Pertama adalah abortus komplit, yaitu fenomena keguguran ketika seluruh hasil pembuahan atau konsepsi keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20 minggu. Tandanya adalah keluarnya darah dalam bentuk gumpalan.

Kedua adalah abortus inkomplit, yaitu  suatu kondisi hanya sebagian hasil konsepsi yang keluar.

Untuk memastikannya, harus dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan, karena biasanya butuh tindakan lebih lanjut seperti kuret atau pemberian obat.

Ketiga adalah abortus imminens, yaitu kondisi keguguran yang masih bisa diselamatkan dengan pemberian obat yang dapat dapat memperkuat kandungan.

Selanjutnya adalah missed abortion, yang berarti kondisi janin sudah mati, tetapi masih berada di dalam rahim.

Terakhir adalah abortus habitualis. Jenis keguguran ini sering disebut juga dengan abortus berulang, yang mana penderita mengalami keguguran setidaknya tiga kali berturut-turut.

Mana jenis abortus yang dialami bisa ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan oleh dokter kandungan. Selain itu, setiap kondisi butuh penanganan khusus yang pada setiap individu bisa berbeda-beda.

Artikel Lainnya: Pengaruh Aborsi terhadap Siklus Haid

2 dari 3 halaman

Penyebab Aborsi Spontan

Aborsi spontan paling sering disebabkan oleh adanya gangguan genetik yang cukup fatal pada janin. Meskipun begitu, kondisi ibu hamil juga bisa menjadi faktor risiko terjadinya aborsi spontan, seperti:

  • Hamil pada usia di atas 35 tahun.
  • Memiliki riwayat penyakit tertentu, misalnya diabetes dan penyakit tiroid.
  • Punya riwayat keguguran sebanyak tiga kali sebelumnya.

Selain tiga faktor di atas, aborsi spontan juga bisa disebabkan oleh:

  • Infeksi, misalnya cytomegalovirus, herpes, parvovirus, atau rubela.
  • Gangguan hormon.
  • Respons sistem imun.
  • Konsumsi obat-obatan yang punya efek samping buruk pada janin, misalnya retinoid dan obat antiinflamasi nonsteroid.
  • Gangguan fisik pada ibu.
  • Kelainan pada dinding rahim.
  • Merokok, minum minuman beralkohol, dan penyalahgunaan obat-obatan.
  • Konsumsi kafein secara berlebihan.
  • Riwayat trauma atau kecelakaan.

Meskipun kemungkinan penyebab di atas paling sering ditemukan, tetapi berdasarkan data yang diperoleh, penyebab pasti aborsi spontan tidak diketahui secara jelas.

Untuk mencegahnya aborsi spontan, jaga selalu kesehatan ibu dan janin. Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah tidak merokok dan minum minuman beralkohol, hindari penyalahgunaan obat-obatan, dan menjalani pola makan sehat.

Bila mengalami flek atau perdarahan, segera temui dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk menyingkirkan kemungkinan fenomena keguguran tersebut. Bila masih ada pertanyaan, gunakan fitur Live Chat di website dan aplikasi, yang nantinya akan dijawab langsung oleh dokter!

(RN/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar