Sukses

Semprotan Desinfektan Untuk WNI dari Wuhan, Efektifkah?

Tindakan penyemprotan desinfektan untuk WNI yang baru tiba dari Wuhan menuai kontroversi. Seberapa efektifkah langkah ini untuk mencegah virus Corona?

Kabar gembira datang dari 200-an orang WNI yang berada di Kota Wuhan, Tiongkok. Pasalnya, mereka berhasil dievakuasi setelah virus corona mewabah di daerah tersebut. Sayangnya, kedatangan mereka menuai kontroversi. Salah satunya adalah dengan cara petugas medis menyemprotkan desinfektan ke tubuh mereka.

Beberapa orang berpikir tindakan itu buang-buang waktu dan berlebihan. Namun, di lain sisi, cairan disinfektan dikatakan dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus 2019-nCoV ini.

Perlu Anda ketahui, coronavirus muncul pertama kali di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, Hingga hari ini (11/02)i sudah menginfeksi 43.129 orang di seluruh dunia, 1.018 penderita tewas dan 4.220 dinyatakan sembuh.

Parasit yang satu ini pun dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Terlebih lagi, penularannya terjadi dengan sangat cepat dari manusia ke manusia. Hingga artikel ini ditulis, virus corona telah ditemukan di berbagai belahan dunia. Lalu, benarkah disinfektan diperlukan untuk mencegah penyebaran parasit ini?

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

Awal Kontroversi Soal Pemakaian Disinfektan

Pemerintah Indonesia sebenarnya mulai memperhatikan soal masalah darurat kesehatan global ini. Salah satunya memberlakukan pembatasan penerbangan dari dan ke Tiongkok.

Namun, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan WNI (Warga Negara Indonesia) yang terjebak di kota Wuhan. Untuk itu, sebanyak 237 WNI dan 1 WNA (Warga Negara Asing) dievakuasi dari Wuhan pada tanggal 12 Februari 2020 lalu.

Proses evakuasi ini menggunakan pesawat Batik Air jenis Airbus A330-300. Pesawat tiba di Bandara Hang Nadim, Batam. Lalu, melanjutkan perjalanan untuk menjalani karantina di Pulau Natuna.

Ketika turun dari pesawat Batik Air, para WNI disemprotkan cairan disinfektan untuk menghilangkan virus corona. Proses penyemprotan ini dilakukan oleh beberapa petugas yang mengenakan baju anti-bakteri dan anti-virus.

Cairan desinfektan yang berasal dari tabung disemprotkan ke tubuh dan barang-barang para WNI yang tiba dari Kota Wuhan. Sayangnya, tindakan pencegahan ini menuai kontroversi. Banyak yang mempertanyakan keamanan serta keefektifan cara ini untuk membunuh virus corona.

Artikel Lainnya: Remdesivir, Apakah Jadi Jawaban untuk Sembuhkan Pasien Virus Corona?

1 dari 4 halaman

Seputar Desinfektan, Ini yang Perlu Diketahui

Disinfektan adalah bahan kimia yang diaplikasikan untuk membunuh bakteri, virus, jamur, maupun kapang yang diperkirakan hidup pada objek yang perlu dibersihkan. Formula desinfektan harus teregristasi pada badan EPA (Environmental Protection Agency).

Bahan aktif yang terdapat pada desinfektan dapat membunuh kuman, dengan cara merusak sel tubuh kuman. Proses pemberian disinfektan disebut sebagai ‘disinfeksi’.

Pemberian disinfektan pada berbagai objek dan permukaan adalah langkah pencegahan untuk menghindari penyakit. Ini karena berbagai kuman diketahui dapat menempel pada berbagai benda dan bisa berpindah ke tubuh.

Jenis-jenis disinfektan sangat beragam. Beberapa di antaranya digunakan adalah klorin, alkohol, aldehid, Quaternary Ammonium Compounds (Quats), idiofor, dan hidrogen peroksida.

Artikel Lainnya: Fakta Virus Corona dan Influenza, Bagaimana Pencegahan Terefektifnya?

2 dari 4 halaman

Efek Samping Disinfektan

Kekhawatiran banyak orang adalah apakah penggunaan disinfektan bisa menimbulkan resiko pada WNI dari Kota Wuhan. Jawabannya, tergantung dari bahan aktif yang terdapat pada desinfektan tersebut.

Tidak semua jenis disinfektan berbahaya untuk manusia, bahkan memang ada beberapa jenis yang khusus digunakan untuk tubuh manusia. Misalnya, pada saat prosedur operasi, desinfektan berupa alkohol cukup umum digunakan.

Disinfektan itu sendiri tidak semuanya dapat digunakan untuk tubuh manusia. Beberapa efek sampingnya sebagai berikut.

  • Anda bisa mengalami keracunan.
  • Bila tidak cocok dapat menimbulkan iritasi kulit.
  • Dapat meninggalkan noda yang tidak diinginkan.
  • Aroma yang kurang sedap.

Berdasarkan keterangan pada tabung yang digunakan petugas untuk menyemprot WNI, disinfektan yang digunakan adalah alkohol. Maka, sesungguhnya jenis tersebut sifatnya aman digunakan untuk tubuh manusia,

Pernyataan dari Menteri Kesehatan, Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K) dan Sekretaris Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Achmad Yurianto, semakin menekankan hal ini.

Semprotan yang digunakan memang khusus untuk tubuh manusia dan sudah sesuai prosedur. Diharapkan langkah penyemprotan dapat membantu menangkal masuknya coronavirus dari Wuhan.

Artikel Lainnya: Cuci Tangan, Cara Efektif Cegah Penularan Virus Corona

3 dari 4 halaman

Efektifkah Semprotan Desinfektan pada Manusia Untuk Melawan Virus Corona?

Banyak orang menilai bahwa penyemprotan itu tidak efektif untuk menangkal virus corona. Hal ini dikarenakan semprotan hanya menyentuh bagian luar tubuh serta pakaian, sementara parasit tersebut menginfeksi di dalam tubuh.

Jangan salah, jenis coronavirus manusia telah diteliti dapat tertinggal pada berbagai permukaan benda. Penelitian yang dilakukan oleh Warnes SL, yang dipublikasikan pada tahun 2015 membuktikan hal ini.

Penelitian dilakukan terhadap jenis coronavirus manusia penyebab SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome), yang masih 1 keluarga dengan virus 2019-nCoV ini.

Dari penelitian tersebut, coronavirus manusia penyebab SARS dan MERS terbukti dapat tertinggal pada berbagai permukaan benda.

Bahkan, jenis virus corona tersebut dapat hidup selama lima hari di permukaan benda mati tersebut, berdasarkan penelitian yang sama.

Jenis permukaan benda yang bisa dihinggapi jenis coronavirus tersebut misalnya PVC (polyvinyl chloride), keramik, kaca, karet silikon, dan stainless steel. Tidak heran mengapa WHO dan CDC melarang penyentuhan mata, hidung, dan mulut ketika infeksi ini mewabah.

Ini karena benda-benda yang terkontaminasi kuman dari air liur penderita, bisa berpindah ke tubuh. Mengingat virus 2019-nCoV baru juga menyebabkan gejala batuk dan sesak napas, maka diketahui bahwa kuman masuk ke saluran napas.

Untuk itu, menghindari kuman yang terdapat dipermukaan benda-benda termasuk langkah pencegahan yang penting.

Mengenai kemungkinan virus corona dalam tubuh, tentunya itu adalah aspek yang berbeda. Karantina yang akan dijalani para WNI selama 2 minggu di Pulau Natuna adalah langkah yang akan memastikan hal tersebut.

Bila disimpulkan, langkah pemerintah untuk menyemprotkan disinfektan pada tubuh dan barang-barang WNI yang dievakuasi dari Wuhan adalah langkah yang rasional dan sesuai penelitian medis.

ini karena sulit untuk memastikan bahwa permukaan tubuh dan barang yang dibawa dari Wuhan bebas kontaminasi virus corona. Bila Anda ingin mengetahui informasi seputar coronavirus bisa langsung bertanya di fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar