Sukses

Sering Ngegas, Ciri Kesehatan Mental Anda Terganggu?

Sering ngomel alias ngegas terus bisa bikin orang-orang di sekitar jadi tak nyaman. Apakah luapan emosi tersebut adalah ciri kesehatan mental yang terganggu?

Sebagian orang punya kepribadian pemarah. Namun, ada juga yang sebelumnya bukan pemarah, kemudian jadi sering marah. Ternyata, berbicara atau berperilaku sering ngegas alias marah-marah bisa jadi ciri kesehatan mental yang terganggu.

Tadinya Anda adalah pribadi yang adem-adem saja, tetapi tiba-tiba jadi mudah tersulut amarah, mungkin ini dipicu oleh adanya perubahan dalam hidup.

1 dari 3 halaman

Penyebab Seseorang Marah

Secara umum, ada banyak pemicu kemarahan, seperti kehilangan kesabaran, merasa opini atau upaya tidak dianggap, atau korban ketidakadilan. Penyebab lainnya mungkin mengalami kejadian traumatis dan cemas akan masalah pribadi yang tengah dihadapi.

Setiap orang juga punya pemicu marahnya masing-masing, berdasarkan apa yang diajarkan tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar.

Selain itu, riwayat diri juga memengaruhi amarah. Misalnya, bila seseorang tidak diajari mengekspresikan amarah dengan benar, rasa frustasi “mendidih” dan menyengsarakan, atau terus menumpuk sampai akhirnya mengalami ledakan amarah atau marah berlebihan.

Sifat pemarah yang diturunkan, kondisi kimia otak, atau adanya kondisi medis tertentu juga bisa membuat seseorang jadi mengalami emosi berlebihan.

Artikel lainnya: 6 Cara Mudah Tingkatkan Kesehatan Mental

2 dari 3 halaman

Sering Ngegas, Bisa Jadi Itu Ciri Adanya Gangguan Kesehatan Mental

Marah merupakan sesuatu yang alami, insting manusia untuk bereaksi terhadap suatu ancaman. Marah menjadi masalah bila seseorang sulit mengendalikannya. Ini membuatnya melakukan atau mengucapkan sesuatu yang kemudian disesali.

Sebuah penelitian menemukan bahwa kemarahan yang tidak terkontrol buruk untuk kesehatan fisik dan emosional. Sering ngegas, apalagi yang tidak terkontrol, juga dapat merugikan orang-orang di sekitar.

Berikut ini adalah beberapa masalah kesehatan mental yang bisa jadi penyebab seseorang sering marah-marah.

  1. Depresi

Marah dapat menjadi gejala depresi yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat terhadap berbagai hal, mudah tersinggung, hilang harapan, dan kehilangan energi. Semua gejala tersebut dirasakan setidaknya selama dua minggu.

Bahkan, pada kasus depresi berat, seseorang bisa memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

  1. Obsesif Kompulsif

Gangguan obsesif kompulsif atau OCD termasuk dalam gangguan cemas yang ditandai oleh pemikiran obsesif terhadap suatu hal atau lebih, serta adanya perilaku kompulsif (bersifat memaksa).

Orang-orang dengan gangguan ini memiliki keinginan untuk melakukan suatu hal secara berulang, padahal orang tersebut tidak menginginkannya. Misalnya, orang-orang yang berkali-kali mencuci tangan karena merasa tangannya dipenuhi kuman.

Ternyata, penelitian menunjukkan bahwa orang-orang dengan gangguan ini juga punya kebiasaan sering ngegas alias lebih sering marah-marah dibandingkan dengan orang normal.

  1. Kecanduan Alkohol

Ada penelitian yang membuktikan bahwa minum alkohol dapat meningkatkan agresivitas seseorang. Kalau konsumsinya berlebih, bahkan sampai kecanduan, maka ini bisa membuatnya bermasalah dengan amarah.

Artikel lainnya: 6 Jenis Terapi Kesehatan Mental yang Perlu Anda Tahu

  1. Attention Deficit Hyperacitivity Disorder (ADHD)

Orang dengan ADHD memiliki perilaku hiperaktif dan impulsif. Akibatnya, orang dengan gangguan ini lebih mudah mengalami ledakan emosi, hingga meluapkan kekesalan misalnya dengan membanting barang atau pintu.

  1. Bipolar

Orang-orang dengan gangguan bipolar memiliki kepribadian yang sering berubah-ubah secara ekstrem. Pada fase mania (manic), mereka bisa sangat ceria, aktif, dan bicara cepat.

Namun, dalam waktu singkat, fase ini berubah menjadi fase depresi, dengan berbagai gejala depresi yang menyertainya, termasuk mudah marah.

  1. Intermittent Explosive Disorder

Orang dengan gangguan intermittent explosive disorder bisa dengan mudahnya mengalami luapan kemarahan dalam waktu singkat (sekitar 30 menit), kemudian kembali normal.

Meski begitu, biasanya kemarahan dipicu masalah sepele, sehingga penderitanya sering dianggap lebay atau bereaksi berlebihan terhadap suatu peristiwa.

  1. Berduka

Selain kesedihan yang mendalam, marah juga merupakan salah satu fase yang dirasakan orang-orang yang sedang berduka. Kehilangan orang yang dicintai seperti pasangan, keluarga, atau sahabat; ditimpa musibah; atau kejadian traumatis lainnya bisa menjadi pemicu.

Marah memang reaksi emosional yang lumrah. Bila Anda atau orang-orang di sekitar mengalami emosi berlebihan yang membuatnya sering marah, sebaiknya konsultasi dengan ahli kejiwaan untuk mendapatkan penanganan yang semestinya.

Jangan ragu konsultasi ke psikolog bila ciri kesehatan mental terganggu sudah terlihat. Ingat, gangguan emosi ini tak hanya merugikan diri, tetapi juga orang lain. Bila ingin bertanya seputar ini bisa ke fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter

(RN/AYU)

1 Komentar