Sukses

Siapa Saja yang Harus Melakukan Tes HIV?

Ada beberapa perilaku dan kondisi yang membuat seseorang rentan tertular HIV. Siapa saja yang harus melakukan tes HIV?

Klikdokter.com, Jakarta HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan di Indonesia karena jumlah kasusnya terus meningkat setiap tahunnya. Ada beberapa perilaku dan kondisi yang membuat seseorang rentan terkena HIV. Berdasarkan hal tersebut, siapa saja yang sangat direkomendasikan untuk melakukan tes HIV?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui bahwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memperkirakan terdapat lebih dari 600.000 orang yang menderita HIV atau AIDS. Namun, sekitar 300.000 di antaranya tak tahu bahwa dirinya memiliki HIV atau AIDS.

Hal tersebut tentu sangat disayangkan. Pasalnya, jika HIV terdeteksi dan diobati sejak dini, pengidap HIV dapat menjalani hidup layaknya orang sehat. Bahkan, jumlah virus HIV di dalam tubuhnya bisa ditekan hingga tak terdeteksi melalui pemeriksaan darah.  

Agar HIV dapat diketahui secara dini, tes HIV penting untuk dilakukan. Ini karena HIV tahap awal tidak menunjukkan gejala apa pun. Satu-satunya jalan untuk mendeteksi HIV sejak dini adalah dengan melakukan pemeriksaan darah. Meski demikian, tak semua orang wajib menjalani tes HIV.

Siapa saja yang dianjurkan untuk melakukan tes HIV?

Faktanya, lebih dari 90 persen kasus HIV ditularkan melalui hubungan seksual atau melalui penggunaan jarum suntik bekas penderita HIV. Oleh sebab itu, semua orang yang pernah melakukan hubungan seksual atau pernah tukar menukar jarum suntik dengan orang lain perlu melakukan tes HIV, termasuk jika hanya memiliki satu partner seksual seumur hidupnya.

Selain itu, Kemenkes juga menganjurkan semua ibu hamil melakukan tes HIV. Hal tersebut bertujuan agar pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dapat dilakukan seoptimal mungkin. Ini supaya anak dapat bebas dari HIV meski sang ibu memilikinya.

Kalau berdasarkan  Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), setiap orang berusia 13-64 tahun direkomendasikan untuk tes HIV paling tidak satu kali, sebagai bagian dari cek kesehatan rutin. Sekitar 1 dari 7 orang warga Amerika Serikat tak mengetahui dirinya memiliki HIV.

1 dari 3 halaman

Jenis-jenis pemeriksaan HIV

Secara umum, terdapat dua jenis pemeriksaan HIV, yaitu:

  1. VCT (voluntary counseling and testing)

Pemeriksaan ini dilakukan atas inisiatif sendiri, bukan inisiatif tenaga kesehatan. Seseorang yang menginginkan pemeriksaan ini dalam keadaan sehat dan tidak memiliki gejala HIV atau AIDS sama sekali. Akan tetapi, ingin mengetahui apakah dirinya memiliki HIV.

Jika Anda melakukan VCT, Anda akan terlebih dahulu menjalani konseling yang dilayani oleh konselor HIV terlatih. Tujuannya adalah untuk mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan HIV.

Setelah itu, jika Anda menyetujui pemeriksaannya, petugas akan mengambil sampel darah Anda. Setelah hasil pemeriksaan keluar, konselor akan menjelaskan hasil pemeriksaan dan merencanakan konseling lanjutan jika diperlukan.

  1. PITC (provider-initiated testing and counseling)

Sesuai namanya, PITC diinisiasi oleh tenaga kesehatan. Umumnya, dokter menganjurkan PITC kepada orang-orang yang mengalami gejala yang mengarah ke HIV atau AIDS untuk memastikan diagnosis. 

Konseling juga dilakukan dalam PITC. Tujunnya adalah untuk mempersiapkan pasien menghadapi kemungkinan dirinya terinfeksi HIV.

Pemeriksaan HIV baik VCT maupun PITC, dapat dilakukan di semua rumah sakit tujuan AIDS dan klinik satelitnya di Indonesia. Selain itu, sebagian klinik, rumah sakit, dan laboratorium swasta juga menyediakan pemeriksaan tes HIV.

2 dari 3 halaman

Hasil tes HIV negatif, pasti bebas HIV?

Apa saja yang dilakukan saat tes HIV? Ada akan memeriksa ada atau tidaknya antibodi terhadap HIV. Seseorang yang tertular HIV akan memiliki antibodi tersebut. Ini karena virus sudah masuk ke dalam tubuh dan tubuh berusaha membentuk pertahanan untuk melawan HIV. 

Pembentukan antibodi tersebut umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Jadi, jika seseorang melakukan perilaku berisiko tertular HIV, antibodinya baru terdeteksi tiga bulan kemudian. Karenanya, pasca tiga bulan setelah perilaku berisiko dilakukan, orang tersebut sangat dianjurkan untuk melakukan tes HIV.

Meski begitu, skrining juga bisa dilakukan sesegera mungkin. Namun, bila hasilnya negatif, tes perlu diulang tiga bulan kemudian untuk memastikan.

Lebih lanjut, menurut pedoman HIV dari Kemenkes, hasil tes HIV yang negatif (non-reaktif) tiga bulan atau lebih setelah peristiwa berisiko HIV terjadi, berarti orang tersebut tidak terinfeksi HIV.

Meski demikian, jika aktif secara seksual, musalnya dalam ikatan pernikahan, skrining HIV sebaiknya dilakukan secara berkalan. Hal ini karena status HIV bisa berubah sewaktu-waktu.

Jadi, itulah penjelasan tentang siapa saja yang harus melakukan tes HIV. Hal lainnya yang juga tak kalah penting adalah menerapkan menghindari perilaku berisiko HIV dan AIDS dan mengonsumsi obat pencegahan HIV sesuai petunjuk dokter jika Anda terpapar virus HIV.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar