Sukses

Melihat Foto Jenazah Korban Bom Bisa Picu Trauma?

Setelah bom meledak di Medan, foto jenazah terduga pelaku menyebar. Lantas, apakah melihat foto jenazah ledakan korban bom bisa memicu trauma?

Klikdokter.com, Jakarta Peristiwa ledakan bom di Medan, Rabu (13/11) kemarin, membuat gempar media sosial. Beberapa saat usai ledakan, foto terduga pelaku yang menjadi korban tewas dalam aksi teror bom bunuh diri itu ramai dibagikan di media sosial. Terkait ini, apakah melihat foto jenazah korban bom dapat memicu trauma? Terlebih lagi, media sosial secara luas bisa diakses oleh beragam usia, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus tahu apa itu trauma dan efek yang bisa ditimbulkan. Secara umum, dilansir dari APA.org, trauma adalah respons emosional terhadap peristiwa mengerikan dan mengancam jiwa yang dialami, seperti kecelakaan, pemerkosaan, atau bencana alam.

Sesaat setelah kejadian berlalu, korban trauma dapat mengalami penyangkalan. Namun, dalam jangka panjang, trauma dapat menyebabkan emosi yang labil, terus mengingat peristiwa traumatik, dan bahkan alami gejala fisik seperti sakit kepala atau mual.

Meskipun kondisi-kondisi di atas bisa berkurang seiring berjalannya waktu, trauma dapat menyebabkan beberapa orang kesulitan melanjutkan hidup. Lantas, apakah efek-efek tersebut dapat terjadi akibat melihat foto-foto mengerikan korban bom?

Bisa timbulkan trauma

Hal tersebut turut ditanggapi Ikhsan Bella Persada, M. Psi, psikolog dari KlikDokter. Menurut dia, foto-foto mengerikan korban bom tersebut bisa saja menimbulkan trauma, tergantung kondisi dan responsnya.

"Tiap orang kan berbeda responsnya. Ada yang memang merasa biasa saja saat melihatnya, tapi ada juga yang respons pertamanya ngeri atau perasaan tidak nyaman,” kata Ikhsan.

Penyebabnya, foto-foto berdarah seperti itu bisa membangkitkan trauma, terutama bagi orang-orang yang pernah mengalami atau melihat langsung kejadian serupa.

"Selain itu, bisa juga trauma bukan disebabkan oleh darahnya, tapi lebih karena kejadian ledakan bom itu sendiri. Bom itu kan sebagai salah satu bentuk teror. Nah, teror itu sendiri menimbulkan rasa takut ke orang yang pernah mengalaminya juga," dia menambahkan.

Untuk alasan yang sama, sebagian orang menggalang gerakan untuk tidak turut menyebarkan foto terduga pelaku ledakan bom di Medan itu. Bahkan, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud Md, juga turut memberikan imbauan.

"Saya imbau kepada masyarakat tidak usah menyebar gambar-gambar yang mengerikan itu. Beritanya saja diulaslah," tutur Mahfud di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Bagaimana kalau sudah telanjur melihat?

Namun demikian, terkadang Anda tidak bisa menghindarkan diri melihat gambar mengerikan yang sudah tersebar luas di media sosial itu. Kalau sudah begitu, menurut Ikhsan, Anda bisa mengungkapkan rasa takut itu kepada orang terdekat. Tujuannya supaya itu tidak menjadi trauma berkelanjutan yang mengganggu di kemudian hari.

"Sampaikan rasa takut Anda itu kepada orang sekitar yang Anda percaya, bisa teman atau keluarga. Supaya ada orang lain yang mendengarkan dan memahami apa yang Anda rasakan. Lalu, Anda bisa alihkan perhatian dengan melihat informasi atau hal-hal yang lebih menyenangkan dan disukai,” kata Ikhsan lagi.

"Namun, kalau memang masih berkelanjutan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, Anda dapat mengunjungi psikolog terdekat untuk berkonsultasi," dia menyarankan.

Melihat foto jenazah korban ledakan bom dapat mengusik ketenangan atau bahkan memicu trauma pada sebagian orang. Oleh karena itu, hentikan menyebarluaskan foto jenazah atau korban ledakan bom. Akan lebih baik apabila media sosial digunakan untuk menyebarkan hal positif yang dapat membuat orang lain bahagia saat melihatnya.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar