Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mirror Syndrome pada Ibu Hamil, Ini Gejala yang Perlu Anda Tahu

Mirror Syndrome pada Ibu Hamil, Ini Gejala yang Perlu Anda Tahu

Ada banyak keadaan yang dapat membahayakan ibu hamil dan janinnya. Salah satunya mirror syndrome. Seperti apa gejala yang ditimbulkan?

Klikdokter.com, Jakarta Sudah lazim diketahui kalau ibu hamil cenderung lebih rentan terkena beragam penyakit yang dapat mengganggu kondisi kesehatan ibu dan janin. Dari beragam gangguan kesehatan itu, salah satunya adalah mirror syndrome. Mengenali penyakit tersebut beserta gejalanya sangat penting agar bisa melakukan langkah antisipasi.

Mirror syndrome sebagai salah satu bentuk komplikasi kehamilan mungkin masih asing di telinga Anda. Kondisi ini bahkan sering mengalami salah diagnosis, dianggap sebagai preeklamsia.

Mirror syndrome, apa itu?

Mirror syndrome, atau sering disebut sebagai ballantyne syndrome atau triple edema, adalah penyakit yang memiliki gejala seperti preeklamsia, yang ditandai oleh pembengkakan pada janin (hidrops) atau plasenta, anemia, hipertensi, disfungsi hati, dan pembengkakan pada ibu hamil.

Dinamakan mirror syndrome karena gejala yang muncul pada ibu hamil juga merupakan gejala yang sama pada janinnya. Mirror syndrome merupakan kondisi yang langka dan penyebabnya masih belum diketahui hingga detik ini.

Dalam keadaan yang parah, mirror syndrome ini bisa menyebabkan komplikasi pada ibu hamil, seperti edema paru, efusi perikardial, hingga gagal ginjal. Itu sebabnya, penting untuk memperhatikan gejala mirror syndrome sesegera mungkin untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Gejala mirror syndrome

Biasanya, gejala mirror syndrome muncul sejak usia 16-34 minggu kehamilan. Karena gejala dari penyakit ini hampir mirip dengan gejala preeklamsia, pemeriksaan yang akurat dan diagnosis menjadi sangat penting.

Oleh karena itu, jika Anda memiliki gejala preeklamsia saat hamil, Anda juga harus mewaspadai mirror syndrome untuk menghindari kemungkinan terburuk.

Gejala mirror syndrome dapat meliputi:

  • Pembengkakan yang signifikan dan parah, baik pada ibu maupun janin
  • Sakit kepala
  • Gangguan penglihatan
  • Anemia
  • Tekanan darah tinggi
  • Protein ditemukan dalam urine
  • Enzim hati meningkat
  • Pertambahan berat badan yang signifikan dan berlebihan dalam waktu singkat

Kadang-kadang pada mirror syndrome akan muncul hasil hemodilution dalam pemeriksaan darah. Hemodilution adalah suatu kondisi adanya lebih banyak plasma dalam darah dan jumlah sel darah merah yang lebih rendah. Hal ini dapat terjadi karena kelebihan cairan yang menumpuk di dalam tubuh.

Pemeriksaan dan pengobatan mirror syndrome

Komplikasi kehamilan seperti mirror syndrome bisa membuat stres dan tentu saja menakutkan bagi semua ibu hamil. Akan tetapi, mengenali gejalanya dan segera memeriksakannya ke dokter adalah langkah yang dibutuhkan untuk bisa mendeteksi penyakit ini lebih awal.

Diagnosis mirror syndrome tidak membutuhkan tes khusus. Kelebihan cairan pada janin biasanya terlihat pada USG dan juga edema plasenta. Gejala lain biasanya juga dapat didiagnosis oleh dokter berdasarkan pembacaan tekanan darah dan atau protein dalam urine melalui pemeriksaan laboratorium.

Tes-tes ini—bersama dengan gejala yang Anda laporkan saat melakukan tanya jawab dengan dokter—adalah informasi berharga dalam menegakkan diagnosis mirror syndrome.

Karena mirror syndrome ini termasuk langka, pengobatannya dapat bervariasi pada setiap ibu hamil. Namun, salah satu pengobatan pilihannya adalah dengan resolusi hidrops janin.

Apabila tidak juga membaik, dokter biasanya akan menyarankan untuk dilakukan induksi atau terminasi kehamilan (aborsi), sebagai satu-satunya pilihan untuk memastikan keamanan ibu.

Jika Anda memiliki gejala mirror syndrome seperti yang dijabarkan di atas, sangat penting untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter. Pastikan Anda menyebutkan gejala atau apa pun yang dirasakan. Selain itu, pemeriksaan kehamilan secara teratur juga dapat membantu memantau kesehatan kehamilan. Apabila ditemukan tanda-tanda mirror syndrome, dokter dapat segera mengambil tindakan lanjutan.

[HNS/RN]

0 Komentar

Belum ada komentar