Sukses

Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Amputasi

Harus menjalani amputasi akibat komplikasi? Ini beberapa hal yang perlu Anda tahu tentang tindakan medis tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta Mendengar kata amputasi tentu tak mudah. Rasa ngeri bisa langsung muncul. Jika Anda atau orang yang Anda kenal harus menjalaninya akibat komplikasi, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang prosedur ini.

Amputasi adalah pemotongan (anggota badan), terutama kaki dan/atau tangan, untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Amputasi sebenarnya bertujuan baik, yaitu mencegah penyebaran penyakit dan membuang jaringan tubuh yang mati. Lagi pula, amputasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Keputusan harus melewati proses, peninjauan dan pertimbangan yang panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan tersebut.

Adapun beberapa kondisi yang biasanya berujung pada tindakan amputasi, antara lain:

1. Infeksi sistemik

Infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri bisa jadi penyebab bagian tubuh harus diamputasi. Contoh infeksi bakteri yang berbahaya hingga menyebabkan kondisi tersebut misalnya Meningococcal meningitis, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), dan necrotizing fasciitis (juga dikenal sebagai flesh-eating disease atau bakteri pemakan daging).

Tindakan amputasi pada penderita infeksi sistemik bukan sekadar untuk pengobatan, tapi juga merupakan satu pilihan untuk menyelamatkan jiwa.

2. Diabetes

Menurut dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BmedSc(Hons) dari KlikDokter, diabetes atau kencing manis dikenal sebagai penyebab signifikan dari amputasi tungkai bawah (kaki). Bahkan, Asosiasi Diabetes Amerika mencatat bahwa kasus amputasi tungkai kaki akibat diabetes terjadi setiap 30 detik.

Diabetes yang parah menyebabkan disfungsi saraf. Hal ini sangat memungkinkan penderitanya mengalami mati rasa, sehingga cedera atau luka yang terjadi di bagian tubuh tertentu tidak dapat dirasakan sepenuhnya.

Cedera atau luka yang tidak diketahui dan tidak mendapatkan penanganan dengan benar tentu akan semakin parah dari waktu ke waktu. Apalagi bagi pasien diabetes, lukanya sulit sembuh. Alhasil, agar infeksi tidak menyebar, tindakan amputasi mesti dilakukan.

3. Tumor 

Tumor tulang dan tulang rawan pembentuk osteosarkoma dan chondrosarcoma adalah neoplasma ganas dan langka yang dapat menjadi penyebab amputasi. Tumor ini bersifat agresif dan perlu pengobatan lokal maupun sistemik.

Operasi untuk pengangkatan tumor sebagian besar dilakukan dengan penyelamatan anggota badan. Sayangnya, amputasi diperlukan dalam beberapa kasus. Jika tidak diamputasi, tumor tersebut berisiko untuk tumbuh kembali dan justru membuat kondisi penderita semakin drop.

Selain ketiga penyakit di atas, ada beberapa alasan lain soal rekomendasi tindakan amputasi, yaitu cedera berat pada anggota gerak tubuh akibat kecelakaan serta kondisi cacat lahir yang mengakibatkan gangguan bentuk dan fungsi anggota gerak tubuh.

1 dari 2 halaman

Persiapan sebelum amputasi

Sebelum dokter bedah melakukan tindakan amputasi, ia akan memeriksa kondisi pasien secara keseluruhan. Pemeriksaan ini meliputi status gizi, darah, hingga fungsi organ tubuh terutama jantung dan pembuluh darah. 

Dokter juga akan menilai kondisi psikologis untuk menentukan seberapa baik pasien mengatasi masalah emosional ketika bagian tubuhnya dipotong. Setelah pemeriksaan dan penilaian selesai, prosedur amputasi bisa dilakukan setelah mendapat persetujuan pasien dan anggota keluarga yang merawat.

Namun, dalam keadaan yang sangat gawat, dokter akan memberikan penilaian secara cepat guna menyelamatkan nyawa pasien. Saat proses pembedahan berlangsung, pasien tidak akan merasa sakit karena diberikan anestesi total melalui bius spinal maupun epidural.

Apa yang terjadi saat proses pembedahan?

Pembedahan dimulai dengan menentukan batas bagian tubuh yang akan diamputasi dan menentukan seberapa banyak jaringan yang perlu dibuang. 

Selama pembedahan, dokter akan berusaha mengambil sebanyak mungkin jaringan atau tulang yang rusak, sembari mempertahankan sebanyak mungkin jaringan yang sehat. Lalu, dokter akan menghaluskan bagian tepi dari tulang yang tersisa dan memperbaiki struktur pembuluh darah maupun saraf di area tersebut.

Pada tahapan akhir, dokter memotong sekaligus memperbaiki susunan otot dan menutup permukaan kulit. Tujuannya, agar bentuk dari ujung organ gerak yang diamputasi melekat dengan baik jika pasien hendak menggunakan organ buatan nantinya.

Proses pemulihan setelah amputasi

Secara umum, diperlukan perawatan dan pemulihan di rumah sakit selama 1-2 minggu atau lebih lama, bergantung pada kondisi pasien.

Pasien mesti mendapatkan rehabilitasi untuk memerhatikan kondisi fisik serta psikisnya. Sebab, kehilangan salah satu anggota tubuh akan mengubah cara hidupnya, sehingga frustasi bisa saja terjadi. Jika tidak ada rehabilitasi, pasien bisa depresi, merasa tidak berguna, dan bukan tak mungkin muncul keinginan untuk bunuh diri.

Selama pemulihan berlangsung, pasien dibantu dokter rehabilitasi medis, tenaga medis ahli fisioterapi, dan terapi okupasi untuk membantunya dalam melakukan aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Sebagai contoh, apabila anggota tubuh yang diamputasi adalah kaki, pasien akan diperkenalkan cara menggunakan kursi roda atau kaki palsu untuk membantunya berjalan dan menjalani aktivitas lainnya.

Dikatakan oleh dr. Alvin Nursalim, SpPD, juga dari KliKDokter, pasien amputasi bisa mengalami phantom phenomenon. Ini adalah gejala nyeri di bagian tubuh yang mengalami amputasi. Phantom phenomenon disebabkan oleh gangguan ujung saraf saat bagian tubuh diamputasi.

Phantom phenomenon diatasi dengan pemberian obat setelah diperiksa oleh dokter. Pasien juga dapat mempercepat proses penyembuhan luka bedah dengan cara menjaga kebersihan luka agar tidak mengalami infeksi. Pasien pun perlu membatasi aktivitas terlebih dahulu, dan memperbanyak asupan protein, vitamin A, dan vitamin C,” jelasnya.

Itulah beberapa hal yang perlu Anda tahu tentang proses amputasi. Hilangnya bagian tubuh setelah proses amputasi akan sepenuhnya mengubah hidup pasien. Meski demikian, itu bukanlah akhir dari segalanya. Jika Anda adalah kerabat dekat dari orang yang baru saja menjalani amputasi, selalu berikan dukungan tanpa menunjukkan perilaku diskriminatif.

(NB/RN)

0 Komentar

Belum ada komentar