Sukses

7 Faktor Risiko Stroke yang Renggut Musisi Anton Issoedibyo

Musisi Anton Issoedibyo meninggal dunia akibat stroke. Kenali beragam faktor risiko penyakit berbahaya tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta Musisi senior Anton Issoedibyo mengembuskan napas terakhirnya akibat stroke, pada hari Selasa (10/9) di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kenali beragam faktor risiko penyakit berbahaya tersebut agar Anda bisa melakukan pencegahan sejak dini.

Dilansir dari Liputan6.com, kabar duka tersebut disampaikan oleh Harvey Malaiholo yang sempat menyanyikan lagu “Lady” milik Anton. Harvey juga mengatakan bahwa Anton berjuang dengan stroke kurang lebih 10 tahun belakangan.

Anton Issoedibyo dikabarkan terserang stroke sejak 2004. Bahkan, pada tahun 2015 lalu, sejumlah musisi Tanah Air seperti Andre Hehanusa, Dira Sugandi, Marini, Dewi Yull, dan Imaniar, menggelar "Tribute to Best of the Anton Issoedibyo". Konser itu digelar untuk mengapresiasi karya-karyanya.

Penyebab dan faktor risiko stroke yang merenggut Anton Issoedibyo

Stroke adalah kematian jaringan otak yang terjadi akibat berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Stroke bisa berupa iskemik (sumbatan) maupun perdarahan (hemoragik).

Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena adanya sumbatan atau bekuan darah yang menyumbat suatu pembuluh darah. Sedangkan pada stroke hemoragik, pembuluh darah pecah dan menyebabkan terhambatnya aliran darah yang normal serta darah keluar ke jaringan otak.

Hampir 70 persen kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.

Dengan mengetahui faktor risiko stroke sangat penting sebagai langkah awal pencegahan. Dikatakan oleh dr. M. Dejandra Rasnaya dari KlikDokter, faktor risiko yang dimaksud antara lain:

  1. Kelebihan berat badan hingga obesitas.
  2. Tidak aktif secara fisik atau jarang berolahraga.
  3. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.
  4. Perokok berat maupun perokok pasif.
  5. Memiliki kadar kolesterol tinggi.
  6. Menderita diabetes, terutama dengan kadar gula yang tidak terkontrol.
  7. Menderita beberapa penyakit lain seperti obstructive sleep apnea dan penyakit jantung seperti gagal jantung, defek jantung, infeksi jantung dan gangguan irama jantung.

“Selain faktor-faktor di atas, ada pula faktor risiko lainnya yang tak bisa diubah, yaitu: berusia 55 tahun ke atas, adanya riwayat stroke atau serangan jantung dalam keluarga, jenis kelamin pria, serta kondisi hormonal setelah menggunakan kontrasepsi hormonal atau mengalami lonjakan estrogen saat kehamilan dan persalinan,” kata dr. Dejandra menambahkan.

Menurut laporan yang dimuat dalam “Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 44, No.1, Maret 2016”, faktor risiko dominan penderita stroke di Indonesia adalah usia yang bertambah, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, hipertensi, dan gagal jantung. Meski demikian, stroke juga sudah ditemukan muncul pada usia muda (15-24 tahun) sebesar 0,3 persen. Demikian juga di negara lain. 

1 dari 2 halaman

Deteksi dini stroke

Sering kali mematikan, tetapi stroke sebenarnya bisa dideteksi secara dini. Deteksi dini dapat meningkatkan peluang sembuh, meminimalkan kerusakan, dan menolong nyawa penderitanya.

Deteksi dini yang bisa dilakukan adalah:

F (Face) atau wajah. Lihatlah wajahnya. Apakah terlihat tidak simetris? Jika masih belum terlihat, minta orang tersebut untuk tersenyum. Apakah ada bagian sebelah wajah yang tertinggal? Jika ya, mungkin ia mengalami stroke.

A (Arms) atau tangan. Apakah terdapat kelemahan di kedua atau salah satu lengan? Apakah ada kesulitan mengangkat kedua tangan atau hanya salah satu saja yang bisa terangkat? Kelemahan di salah satu sisi tubuh (atau keduanya) bisa menjadi gejala awal stroke.

S (Speech) atau bicara. Apakah ada kesulitan untuk mengucapkan suatu kalimat, tidak jelas (pelo), atau sama sekali tidak dapat bicara? Apakah ia memahami tentang yang dikatakannya? Kesulitan berbicara (pelo) atau bicara meracau bisa juga menjadi gejala awal stroke.

T (Time) atau waktu. Jika Anda menemukan adanya gejala-gejala tersebut, segera bawa penderitanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan sedini mungkin.

Mencegah stroke

Setelah mengetahui faktor risiko stroke, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kejadian stroke, yaitu:

  • Terapkan pola hidup sehat

“Jauhi pola hidup tidak sehat meliputi kebiasaan merokok, stres psikis, dan konsumsi alkohol. Merokok memiliki efek buruk terhadap kesehatan pembuluh darah,” kata dr. Alvin Nursalim, SpPD, dari KlikDokter.

  • Kendalikan berbagai penyakit

Penyakit yang dimaksud adalah tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Periksakan diri ke dokter supaya mendapatkan penanganan yang tepat. Pasalnya, ketiga penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke.

  • Pola makan seimbang

“Terapkan pola makan rendah lemak dan perbanyak konsumsi buah dan sayuran. Hindari konsumsi makanan dengan kandungan lemak saturasi yang tinggi,” sebut dr. Alvin.

  • Olahraga teratur

Dokter Alvin menganjurkan Anda memilih olahraga dengan komposisi yang tepat seperti kombinasi aerobik dan angkat beban. 

“Aerobik berguna untuk membakar kalori dan melatih fungsi jantung, sedangkan olahraga beban berfungsi untuk mengoptimalkan otot dan meningkatkan kekuatan tulang,” paparnya.

Meninggalnya musisi Anton Issodiebyo tentu meninggalkan duka dalam bagi industri musik Tanah Air. Dengan mengetahui berbagai faktor risiko stroke, diharapkan Anda bisa lebih bisa menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat dan rutin cek kesehatan sebagai salah satu langkah deteksi dini.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar