Sukses

Krisis Kepercayaan Vaksin Bikin Rentan Kena Penyakit Mematikan

Vaksin adalah temuan mutakhir dalam dunia kesehatan. Kenali risiko kesehatan yang bisa terjadi jika tidak membiarkan anak mendapat vaksin.

Klikdokter.com, Jakarta Sebelum ditemukan vaksin, penyakit infeksi berkembang pesat dan memakan banyak korban. Namun, semua ini berubah drastis ketika Edward Jenner menemukan vaksin untuk penyakit variola. Temuannya kemudian berlanjut dengan kemunculan vaksin untuk penyakit yang lain.

Sayangnya, terlepas dari beragam bukti terkait manfaat vaksinasi, beberapa golongan masyarakat enggan membiarkan anak mendapatkan vaksin. Padahal, perilaku seperti ini membuat anak lebih rentan terkena penyakit infeksi. Bahkan, bukan tidak mungkin bahwa penyakit yang seharusnya mudah diatasi malah berubah mematikan lantaran tidak adanya kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi.

Pentingnya vaksin untuk kesehatan

Tujuan dari pemberian vaksin adalah untuk membantu tubuh memproduksi antibodi yang nantinya mampu melawan penyakit. Dengan memberikan sebagian dari komponen kuman, tubuh manusia dapat mempersiapkan sistem pertahanan untuk melawan keganasan kuman yang sebenarnya.

Ketika kuman memasuki tubuh orang yang sudah divaksin, sistem kekebalan dapat mengenalinya dan menghasilkan antibodi yang dibutuhkan untuk menghilangkan dampak negatif mikroorganisme tersebut. 

Selain untuk diri sendiri, vaksin yang Anda terima juga turut melindungi orang-orang yang ada di sekitar. Medis menyebut kondisi ini sebagai herd immunity, yaitu keadaan di mana sekelompok orang akan terhindar dari suatu wabah penyakit berkat adanya perlindungan dari vaksin. Ini karena orang yang mendapat vaksin memiliki risiko yang lebih rendah untuk terinfeksi, sehingga kemungkinan untuk menularkan penyakit terkait bisa diminimalkan.

Lantas, apa jadinya bila seseorang tidak mendapat vaksin? Mereka yang enggan vaksinasi tidak akan memiliki pertahanan terhadap kuman, dan lebih rentan untuk mengalami infeksi lebih berat. Dalam perspektif kesehatan masyarakat, seseorang yang tidak divaksin memiliki risiko yang lebih tinggi terkena penyakit infeksi, kemudian menjadi sumber penularan untuk orang lain, dan pada akhirnya menjadi wabah.

Sebagai contoh, beberapa penyakit mengalami peningkatan dan hal ini diduga terkait dengan penurunan jumlah orang yang enggan mendapat vaksin. Penyakit yang sempat kembali muncul adalah wabah campak di Amerika Serikat pertengahan tahun 2019. 

Vaksin dan autisme, mitos atau fakta?

Salah satu berita yang sempat menyebabkan penurunan angka kepercayaan terhadap vaksinasi adalah adanya anggapan bahwa tindakan ini mampu menyebabkan terjadinya autisme. Pada tahun 1998 silam, peneliti mengklaim bahwa vaksin MMR meningkatkan kejadian autisme. 

Untuk memberikan kejelasan terkait hal tersebut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melakukan peninjauan literatur yang dilakukan oleh peneliti independen tentang risiko autisme terkait dengan vaksin MMR. Hasil dari penilaian WHO menyimpulkan bahwa tidak ada bukti bahwa kejadian autisme berkaitan dengan pemberian vaksin MMR.

Jadi, mulai saat ini, jangan sungkan untuk mengajak anak mendapat vaksin yang sesuai dengan usianya. Ingat, vaksinasi adalah langkah awal untuk menjaga kesehatan tubuh anak hingga ia dewasa kelak. Anda tak ingin si Kecil mengalami berbagai penyakit infeksi lantaran Anda enggan menyertakannya pada program vaksinasi, bukan? 

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar