Sukses

Inilah Cara Mengobati BAB Berdarah Sesuai Penyebabnya

Mengenali dan mencari tahu penyebabnya sangat penting untuk mengobati keluhan BAB berdarah.

Klikdokter.com, Jakarta Buang air besar (BAB) berdarah adalah salah satu gejala yang sering ditemui dan kerap membuat khawatir penderitanya. Untuk mengobati keluhan BAB berdarah, Anda perlu mengetahui penyebabnya terlebih dulu agar pengobatan yang dilakukan efektif.

BAB berdarah umumnya identik dengan wasir. Namun, ternyata ada beberapa gangguan kesehatan lain yang juga menimbulkan keluhan serupa. Sebagai konsekuensinya, cara mengobati BAB berdarah pun berbeda-beda bergantung pada penyebabnya.

Mengobati BAB berdarah sesuai penyebabnya

Berikut ini adalah beberapa penyakit yang dapat memunculkan gejala BAB berdarah sekaligus penanganannya.

1. Wasir

Wasir adalah terjadinya pelebaran pembuluh darah di sekitar rektum dan anus. Pembuluh darah yang melebar tersebut dapat teregang hebat, menipis, teriritasi, bahkan berdarah.

Gejalanya adalah BAB berdarah, nyeri hebat akibat gesekan pembuluh darah dengan pakaian atau saat duduk. Selain itu, juga terdapat benjolan berwarna merah muda di sekitar anus, serta pucat dan mudah lemas karena anemia akibat kehilangan darah melalui tinja.

Beberapa cara penanganan wasir antara lain:

  • Hindari duduk terlalu lama.
  • Melakukan kompres es di daerah rektum.
  • Perbanyak asupan serat.
  • Berendam air hangat.
  • Minum obat antinyeri atau bisa juga dengan mengonsumsi suplemen yang terbuat dari bahan-bahan herbal yang aman, yang dapat mengatasi gejala-gejala yang menyertai wasir jika dikonsumsi sesuai dosis.

2. Infeksi saluran pencernaan

Infeksi saluran pencernaan dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari nyeri perut, mual dan muntah, hingga perubahan pola BAB seperti buang air besar cair, serta disertai darah atau lendir. Selain itu, penderitanya juga dapat mengalami gejala sistemik seperti demam.

Contoh infeksi saluran pencernaan yang cukup sering terjadi adalah disentri. Disentri merupakan peradangan usus akibat infeksi kuman shigella dan ameba (amoeba).

Penyakit ini awalnya menimbulkan gejala BAB cair yang disertai darah dan lendir, mual, muntah, dan nyeri perut. Bila tidak ditangani dengan tepat dan segera, infeksi bisa sebabkan kematian akibat dehidrasi.

Dalam penanganan infeksi pencernaan seperti disentri, pemberian antibiotik mungkin tidak diperlukan untuk mengatasi gejala ringan. Namun jika gejala bersifat sedang hingga berat, maka antibiotik diperlukan sesuai dengan bakteri penyebabnya.

Selain itu, bisa juga ditambah obat-obatan untuk mengurangi gejala diare sesuai resep dokter. Jika sudah muncul tanda dehidrasi, mungkin diperlukan asupan cairan dengan oralit atau infus.

3. Ulkus lambung

Pada ulkus lambung, terdapat luka di dinding lambung sehingga menimbulkan gejala seperti nyeri ulu hati disertai mual, muntah, dan sensasi terbakar. Apabila kondisi ini sudah berlangsung lama dan luka yang ditimbulkan cukup besar, bisa terjadi perdarahan, menjadikan tinja berwarna merah gelap hingga hitam.

Penyebab ulkus lambung bisa akibat beberapa faktor, mulai dari kebiasaan merokok, stres psikologis, dan infeksi bakteri Helicobacter pylori.  

Bila Anda mengalami gejala ulkus lambung, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, seperti pemeriksaan endoskopi. Endoskopi berguna untuk mengevaluasi kondisi lambung dan usus halus bagian atas.

Sementara itu, langkah pencegahan ulkus lambung adalah membatasi minum obat golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan alkohol. Kalaupun karena kondisi tertentu Anda harus minum obat golongan tersebut, baiknya konsumsi sesuai dosis dan durasi yang ditentukan oleh dokter.

4. Polip usus

Polip adalah kondisi adanya jaringan yang tumbuh dari dinding usus dan menonjol ke dalam lumen (rongga) usus. Ada dua jenis polip, yakni bertangkai dan tidak bertangkai.

Biasanya, polip tidak menimbulkan gejala yang khas. Namun, pada beberapa kondisi seperti ukuran polip membesar atau polip yang rapuh, bisa terjadi perdarahan sehingga penderita mengalami BAB berdarah. Selain itu, gejala lain yang mungkin dialami penderita polip usus adalah diare atau konstipasi, serta anemia akibat perdarahan yang berlangsung lama.

Tidak semua polip berpotensi menjadi keganasan atau kanker. Untuk memastikannya, dokter umumnya akan melakukan tindakan untuk mengambil contoh jaringan polip, kemudian diperiksa apakah sel tersebut ada risiko menjadi ganas atau tidak. Pengobatannya akan disesuaikan dengan jenis dan kondisi polip tersebut.

5. Kanker usus

Kanker usus termasuk jenis kanker yang paling sering menyebabkan kematian. Seringnya, keganasan terjadi pada usus besar, sehingga kerap disebut sebagai kanker usus besar.

Kanker usus besar bisa terjadi pada siapa saja, terutama yang memiliki faktor risiko. Faktor risiko yang dimaksud misalnya kurangnya konsumsi serat, tingginya konsumsi daging merah, adanya riwayat keluarga dengan kanker, memiliki polip usus, serta kebiasaan merokok.

Gejala kanker usus adalah BAB berdarah yang berlangsung lama, nyeri perut, perubahan pola buang air besar (misalnya diare dan konstipasi bergantian), dan bentuk tinja kecil-kecil menyerupai kotoran kambing. Penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas juga patut dicurigai.

Saat ini, ada beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan terhadap kanker usus, yaitu kemoterapi, imunoterapi, radiasi, dan pembedahan. Pemilihan metode pengobatan tersebut nantinya ditentukan berdasarkan jenis kanker, stadium dan penyebarannya, serta kondisi pasien.

Itulah mengapa penting mengetahui penyebab keluhan BAB berdarah, karena cara mengobatinya berbeda-beda. Jika beberapa waktu belakangan Anda kerap mengalami BAB berdarah, sebaiknya jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan apakah keluhan tersebut diakibatkan oleh wasir atau kondisi medis lainnya. Jangan pernah anggap remeh BAB berdarah karena dapat berujung pada komplikasi yang berat, bahkan mengancam nyawa.

(RN/ RH)

 

0 Komentar

Belum ada komentar