Sukses

Amankah Anak Berenang dengan Neck Ring?

Banyak orang tua yang mengikuti tren spa anak, salah satunya anak berenang dengan neck ring alias pelampung khusus leher. Apakah itu aman?

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini ada banyak orang tua mengikutsertakan anaknya ke tempat baby spa. Salah satu kegiatannya adalah anak berenang dengan neck ring atau pelampung khusus leher.  Pertanyaannya, apakah aktivitas tersebut aman?

Baby spa pada dasarnya menawarkan berbagai manfaat kesehatan untuk si Kecil, yang dirancang untuk memberi stimulasi positif pada bayi yang berusia 3 minggu hingga 3 tahun.

Aktivitas baby spa yang memanjakan bayi ini terdiri dari dua sesi. Pertama adalah berenang di air hangat selama 10-15 menit, lalu dilanjutkan dengan sesi pijat oleh terapis bayi.

Nah, aktivitas berenang dalam program baby spa diklaim memiliki banyak manfaat. Mulai dari melatih keseimbangan, mendorong motorik dan koordinasi tubuh, hingga melatih kekuatan otot bayi.

Amankah anak berenang dengan neck ring?

Pada proses berenang, bayi dipakaikan neck ring agar ia tetap mengambang. Saat digunakan bayi, memang ia tampak menggemaskan dengan kepala tetap di permukaan air tersangga neck ring. Meski begitu, ternyata aktivitas ini menyimpan efek negatif sehingga harus diwaspadai.

Swimming Teachers’ Association (STA) dan Birthlight, dua organisasi di Inggris yang mendalami bidang pelatihan berenang, meminta orang tua untuk mengetahui efek negatif dari penggunaan neck ring terhadap perkembangan fisik, psikologis dan neurologis bayi.

Ternyata, meski fungsi pelampung leher ini adalah untuk meningkatkan keamanan agar bayi tidak tenggelam saat berenang, tetapi pemakaiannya justru mempersempit ruang gerak bayi.

Neck ring mempersempit ruang gerak bayi

Pemakaian neck ring bisa membuat bayi sulit menoleh, berekspresi, menyentuh bagian kepala dengan tangan, dan juga menimbulkan jarak yang tidak bisa dijangkau oleh bayi. Hal ini dapat memicu bayi menjadi tidak nyaman atau bahkan frustasi karena kesulitan melakukan sesuatu. Kondisi stres ini tentu akan berdampak buruk jika dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu panjang.

Selain itu, kolam renang yang disediakan oleh penyediaan layanan spa bayi umumnya tidak didesain untuk bayi bisa berenang bersama orang tua. Kebanyakan kolam yang ada di ruangan spa hanya didesain untuk menampung 1-2 anak saja, sedangkan orang tua mengawasi anak dari luar kolam.

Kondisi ini dapat membuat bayi merasa terisolasi, yang akhirnya justru bertentangan dengan tujuan utama melatih anak berenang, yaitu adanya rasa aman yang ditimbulkan oleh kedekatan emosional saat orang tua menemani anak mencoba sesuatu yang baru.

Hingga kini belum ada studi yang secara spesifik meneliti pelampung leher untuk bayi. Ada satu studi tahun 2005 yang melihat terapi berenang untuk bayi dengan menggunakan pelampung leher, dan menyebut bahwa itu tidak berbahaya. Meski begitu, studi tersebut tidak menyediakan detail tambahan apa pun.

Penggunaan neck ring di kolam renang untuk anak belajar berenang pun tidak disarankan, apalagi membiarkan si Kecil mengambang sendirian di sana. Satu-satunya metode yang terbukti keamanannya di air dan mencegah anak tenggelam adalah pengawasan langsung dan pemasangan pagar di sekitar kolam.

Bayi perlu mendapatkan rasa aman dan nyaman saat melakukan kegiatan yang tidak biasa baginya, sehingga ketidakhadiran orang tua bukanlah hal yang diinginkan bayi secara fisik dan emosional. Sehingga, tak jarang bayi tak betah berlama-lama dan mulai menangis.

Rasa aman dan nyaman akan membuat bayi lebih berani untuk mengeksplor lebih banyak lagi kegiatannya di dalam air. Dengan begitu, manfaat dari kegiatan ini akan menjadi lebih optimal. Padahal, tubuh bayi yang aktif pada saat berenang sangat baik untuk melatih refleks, variasi gerakan, serta melatih perkembang sensorik dan motoriknya.

Aktivitas anak berendam di baby spa atau anak berenang dengan neck ring perlu dibatasi. Atau bahkan tidak dilakukan secara rutin dalam jangka waktu lama. Penyedia layanan juga diharapkan tahu efek negatif ini, turut menyosialisasikannya ke orang tua, serta mengatur intensitas layanan yang diberikan.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar