Sukses

Orang Tua Wajib Tahu, Mahasiswa Rantau Juga Rentan Alami Kesepian

Meski cenderung mengatakan semua baik-baik saja, bukan berarti mahasiswa rantau seperti anak Anda tidak merasa kesepian, lo!

Klikdokter.com, Jakarta Punya anak yang kini sudah menjadi seorang mahasiswa memang terasa agak berat. Bukan soal biaya kuliah dan biaya hidup, tetapi lebih kepada rasa tidak tahu pada kondisi buah hati yang sebenarnya. Umumnya, agar orang tuanya tidak khawatir, anak akan selalu mengatakan bahwa kondisinya di perantauan baik-baik saja meski pada kenyataannya tidak selalu demikian. Bisa saja, sebenarnya ia sedang sakit ataupun merasa kesepian.

Nah, agar bisa lebih peka dan tahu harus bagaimana, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengetahui alasan mengapa mahasisa yang kuliah di perantauan cenderung merasa kesepian.

Penyebab kesepian mahasiswa perantauan

Dilansir dari Verywell Family, kesepian adalah masalah umum yang terjadi di kalangan mahasiswa. Kondisi ini sangat mungkin terjadi jika di kampus, asrama atau tempat kos tidak terjadi interaksi yang berkualitas.

Selain itu, media sosial ternyata juga berperan membentuk rasa kesepian pada mahasiswa. Padahal sebenarnya dalam berkomunikasi pun seseorang membutuhkan komunikasi nonverbal.

Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, saat berinteraksi langsung tatap muka dengan orang lain, seseorang akan mengeluarkan ekspresi wajah, nada suara, gestur, bahasa tubuh, kontak mata, dan jarak antara Anda dengan orang tersebut. Hal-hal inilah yang tidak bisa didapat dari media sosial.

Sebuah studi di American Journal of Preventative Medicine menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dan isolasi sosial. Menurut penelitian itu, orang dewasa muda yang sering menggunakan media sosial lebih mudah merasa terisolasi secara sosial.

Tak hanya itu, media sosial juga secara terang-terangan menunjukkan mana orang yang populer dan mana yang tidak. Jadi, bagi mereka yang memiliki jumlah diikuti (following) lebih banyak ketimbang pengikut (followers), serta jumlah likes yang sedikit, pasti akan merasa minder.

Selain itu, tindakan pamer yang sering dilakukan oleh warganet, khususnya pengguna Instagram juga bisa meningkatkan rasa iri yang pada akhirnya berujung pada pembandingan diri. Semakin sering seorang dewasa muda membandingkan diri sendiri dengan orang lain, maka semakin tinggi pula tingkat cemas, rasa tidak puas dengan hidup, serta risiko terjadinya kesepian.

1 dari 2 halaman

Mengatasi kesepian mahasiswa perantauan

Mengetahui bahwa anak sedang merasa kesepian di perantauan, Anda pasti sangat merasa sedih dan kebingungan dengan kondisi psikisnya. Namun, sebaiknya Anda tidak ikut terpuruk. Lebih baik Anda melakukan upaya agar buah hati tidak merasa kesepian lagi.

Menurut dr. Nadia sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat tahun 2006 menyebutkan bahwa orang yang kesepian berisiko mengalami depresi. Jika mengacu pada pedoman The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association, ada beragam tanda yang muncul seperti tidak bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari, sering sedih atau menangis sepanjang hari, mengalami gangguan tidur, perubahan nafsu makan, hingga muncul pikiran ingin bunuh diri.

Beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengatasi rasa kesepian anak yang sedang kuliah sambil merantau, di antaranya:

  • Ketika anak sudah mulai menyalahkan dirinya sendiri, ingatkan dia untuk tidak terus melakukannya. Katakanlah bahwa membangun koneksi yang langgeng dan sehati dengan teman-teman dan lingkungan barunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
  • Rasa sepi biasanya hadir ketika seseorang hanya fokus pada kuliah semata. Oleh karena itu, cobalah untuk menyarankan anak supaya aktif dalam berorganisasi atau melakukan kegiatan positif lainnya. Dengan begitu, dia pasti akan menemukan teman dan lupa bahwa dirinya sedang jauh dari keluarga.
  • Sesekali, datanglah mengunjungi tempat tinggal anak di perantauan. Anda juga bisa menginap selama beberapa hari dan mengajak si buah hati untuk sekadar jalan-jalan menikmati daerah sekitar.
  • Ingatkan anak untuk terus berhubungan dengan sahabat-sahabat lamanya. Sehingga, bila belum punya teman di lingkungan yang baru, ia masih bisa berbagi dengan berinteraksi dengan orang-orang yang sudah dipercayai sebelumnya. 
  • Semangati anak untuk terus membuka diri tanpa harus mengubah karakternya. 
  • Berikan pertolongan tanpa harus memanjakan. Ingat, anak Anda sudah mahasiswa sehingga tak sepantasnya diperlakukan seperti anak kecil. walau begitu, Anda tetap perlu mendengarkan keluh kesahnya. Biarkan ia mengeluarkan pendapat dan menentukan apa yang mesti dilakukan untuk menemukan sahabat. Setelah itu, barulah Anda memberikan respons. 
  • Meski sibuk kuliah dan berorganisasi, ingatkan anak Anda untuk tetap rajin beribadah dan melakukan hobi tanpa melibatkan orang lain untuk melepas segala penat. 

Kesepian bisa dirasakan oleh siapa saja, tak terkecuali mahasiswa. Apalagi, jika mahasiswa tersebut tinggal di perantauan alias jauh dari keluarga di rumah. Jadi, Anda sebagai orang tua mesti bisa memahami agar nantinya bisa memberikan bantuan jika dirasa benar-benar perlu. Hal terpenting yang harus selalu dilakukan, tetaplah memberikan semangat dan jaga selalu komunikasi. 

(NB/ RVS)

1 Komentar