Sukses

Bahaya Infeksi Menular Seksual pada Ibu Hamil

Waspada, infeksi menular seksual (IMS) yang dialami ibu hamil bisa mengancam keselamatan diri dan janin di dalam kandungannya.

Infeksi menular seksual alias IMS adalah penyakit yang berpindah dari satu orang ke orang lainnya melalui hubungan seksual. Proses penularan penyakit ini bisa terjadi akibat adanya aktivitas seksual melalui mulut, anus, penis maupun vagina.

Bisa dikatakan, IMS merupakan penyakit serius yang dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi.

Jika terjadi pada ibu hamil, penyakit ini bisa mengancam keselamatan ibu maupun janin dalam kandungan.

Berikut beberapa contoh IMS pada ibu hamil dan pengaruhnya terhadap janin:

1. HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah jenis virus yang dapat menular melalui melalui hubungan seksual atau bertukar jarum suntik dengan penderita HIV.

Selain itu, jika Anda memiliki luka di kulit dan luka tersebut terpapar cairan tubuh penderita HIV, maka Anda juga sangat berisiko untuk tertular penyakit tersebut.

Calon bayi dari ibu penderita HIV juga berisiko mengalami penyakit yang sama. Ini karena HIV dapat menular melalui plasenta (semasa hamil), proses persalinan, juga melalui ASI.

Artikel Lainnya: Cara Mencegah HIV Menular ke Bayi dengan Orang Tua Positif HIV

1 dari 4 halaman

2. Gonore

Gonore  adalah infeksi menular seksual yang terjadi akibat paparan bakteri Neisseria gonorrhoea.

Jika penyakit ini terjadi pada ibu hamil, terjadinya keputihan berbau, rasa terbakar sewaktu berkemih, atau nyeri perut tak bisa dihindari.

Tak hanya itu, bahaya IMS gonore yang tak ditangani dengan baik adalah risiko kegugurankelahiran prematur, kehamilan di luar kandungan, dan gangguan kesuburan di masa mendatang.

Sementara itu, bayi yang lahir dari ibu dengan gonore sangat berisiko untuk mengalami kebutaan, infeksi sendi, dan infeksi darah. Semua kondisi tersebut sangat mungkin mengancam nyawa.

3. Klamidia

Infeksi klamidia (chlamydia) yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis sangat berbahaya jika dialami oleh ibu hamil.

Penyakit ini bisa menyebabkan terjadinya keputihan abnormal, sering buang air kecil dan terasa nyeri, sakit perut, hingga perdarahan.

Bila tidak segera diobati, klamidia dapat memicu terjadinya komplikasi berat, seperti:

  • Peradangan rongga panggul.
  • Kecacatan pada bayi.
  • Gangguan kesuburan.
  • Kehamilan di luar kandungan.
  • Kelahiran prematur.
  • Pecah ketuban dini.
  • Berat badan bayi lahir rendah.
  • Pneumonia.
  • Kematian bayi.

Artikel Lainnya: Mengenal Klamidia, Penyakit yang Bisa Sebabkan Mandul pada Wanita

2 dari 4 halaman

4. Sifilis

Sifilis adalah jenis infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat dengan mudah menular pada calon bayi jika dialami oleh ibu hamil.

Infeksi sifilis pada janin dapat dimulai sejak usia kehamilan 14 minggu, dan risiko semakin meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan.

Bahaya IMS pada ibu hamil membuat bayi berisiko tinggi untuk lahir secara prematur dan mengalami masalah organ tubuh. 

Bahkan, sekitar 40% wanita hamil yang mengalami sifilis dan tidak diobati dapat berakhir pada kematian bayi.

5. Bakterial Vaginosis

Bakterial vaginosis adalah jenis infeksi vagina yang paling sering terjadi pada wanita yang sudah aktif secara seksual. Penyebabnya, yaitu paparan bakteri Gardnerella vaginalis, Mobiluncus, Mycoplasma hominis, dan Bacteroides.

Beberapa kasus bakterial vaginosis menyebabkan vagina berbau amis, terutama saat berhubungan seksual.

Jika IMS ini terjadi pada ibu hamil, risiko berbagai kondisi berikut bisa meningkat:

  • Infeksi cairan ketuban.
  • Infeksi pada masa nifas.
  • Radang panggul.
  • Kelahiran prematur.
  • Kontraksi prematur.

Artikel Lainnya: Terinfeksi Penyakit Menular Seksual dari Dudukan Kloset, Mungkinkah?

3 dari 4 halaman

6. Herpes Genitalis

Herpes genitalis adalah infeksi pada area genital yang disebabkan oleh virus Herpes simplex. Gejalanya berupa timbulnya lenting pada area genital, yang umumnya didahului dengan rasa terbakar dan gatal.

Bila dialami oleh ibu hamil, herpes genitalis perlu segera diatasi. Pasalnya, virus penyebab penyakit ini dapat masuk ke sirkulasi janin melalui plasenta. Jika hal tersebut terjadi, kerusakan organ hingga kematian pada janin tak bisa dihindari.

Faktanya, angka kematian janin akibat herpes genitalis mencapai 60%. Sementara itu, bayi yang mampu bertahan hidup setelah terinfeksi penyakit tersebut menderita cacat neurologis atau memiliki kelainan berupa:

  • Mikrosefali.
  • Hidrosefali.
  • Hepatitis.
  • Infeksi pada mata.

7. Trikomoniasis

Salah satu IMS yang bisa terjadi pada ibu hamil adalah trikomoniasis. Trikomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis, dan dapat tidak bergejala.

Kendati demikian, kondisi ini bisa juga menimbulkan gejala, seperti keputihan yang tidak normal, gatal dan iritasi pada kelamin, juga nyeri saat berkemih atau berhubungan.

Bahaya IMS trikomoniasis bagi janin adalah risiko ketuban pecah dini, persalinan prematur, juga berat badan lahir yang rendah.

Mengingat berbagai macam bahaya IMS, ibu hamil dapat melakukan langkah-langkah pencegahan berikut:

  • Saat sedang hamil, pastikan memiliki pasangan seksual yang monogami.
  • Jika ragu akan kesehatan seksual pasangan, gunakan kondom saat berhubungan intim.
  • Lakukan skrining IMS saat Anda hamil, sehingga jika tertular dapat cepat diobati.
  • Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda jika ada keluhan yang mirip dengan gejala IMS.

Itulah jenis-jenis IMS yang bisa terjadi pada ibu hamil, serta bahaya penyakit menular seksual pada ibu hamil.

Jika Anda merasa mengalami gejala yang mengarah pada salah satu IMS, jangan ragu untuk periksakan kondisi ke dokter. Ajak serta pasangan Anda untuk diperiksa, agar infeksi menular seksual di waktu mendatang bisa benar-benar dicegah.

Dapatkan informasi kesehatan lainnya dengan membaca artikel di aplikasi Klikdokter.

[WA]

0 Komentar

Belum ada komentar