Sukses

Kapan Waktu yang Tepat Ajarkan Anak untuk Puasa?

Mengajarkan anak untuk puasa tak boleh asal. Ketahui kapan waktu anak siap berpuasa.

Klikdokter.com, Jakarta Bulan puasa sudah di depan mata. Terkadang, sebagai orang tua Anda kebingungan untuk memastikan kapan waktu yang tepat untuk mulai mengajarkan anak berpuasa. Jangan sampai salah langkah. Bisa-bisa, anak kapok untuk berpuasa lagi di keesokan harinya.

Puasa dan pertumbuhan anak

Sebagai orang tua yang menjalankan ibadah puasa, pastinya Anda menginginkan sang buah hati juga mengenal ibadah puasa sejak dini. Namun, Anda juga harus memperhatikan kesiapan fisik dan mental anak.

Orang tua sebaiknya tidak memaksakan kehendak ketika memang kondisi fisik dan mental anak belum siap untuk menjalankan puasa. Sebab, hal ini dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

Di Indonesia, mengajarkan anak untuk berpuasa sejak dini merupakan hal yang lumrah. Biasanya, orang tua mulai mengenalkan puasa pada anak dengan cara menjalankan puasa setengah hari. Bila anak sudah terbiasa berpuasa setengah hari, orang tua akan lanjut mengajarkannya berpuasa satu hari penuh.

Anda pun boleh mencoba menerapkan teknik tersebut. Tapi ingat, pastikan anak sudah siap untuk menjalankannya.

Waktu yang tepat mengajarkan anak berpuasa

Sebenarnya, anak berusia 5 tahun atau lebih sudah layak untuk diperkenalkan pada ibadah puasa. Namun, pada tahap awal pengenalan puasa, yakni saat anak berusia antara 5-7 tahun, sebaiknya mulailah mengajarkan anak untuk berpuasa selama 3-4 jam dalam sehari terlebih dahulu atau dengan menunda waktu sarapan anak.

Pada tahap berikutnya, saat anak berusia 7-10 tahun, Anda bisa mulai mengajarkan anak untuk puasa setengah hari. Perhatikan adanya tanda dehidrasi seperti lemas, pucat atau selalu mengantuk.

Bila tanda-tanda tersebut di atas tidak ada, maka setelah anak berusia 10 tahun, Anda bisa menganggap anak sudah siap berpuasa sehari penuh.

Agar proses memperkenalkan puasa kepada anak berjalan mulus, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan, seperti:

  • Jika anak berusia lebih muda dari 10 tahun, tampak pucat, lemas dan tidak bertenaga saat berpuasa, ada baiknya pertimbangkan waktu puasa yang tidak penuh atau setengah hari saja dulu.
  • Orang tua sebaiknya jangan melupakan fakta bahwa anak umur 5-10 tahun sedang dalam masa pertumbuhan. Artinya, mereka sangat membutuhkan asupan gizi seimbang dan waktu istirahat yang cukup.
  • Jadikan kegiatan puasa sebagai momen melatih agar anak terbiasa dengan aktivitas ibadah. Namun, sesuaikan aturan atau kebijakan dalam penerapannya dengan usia, serta kondisi fisik dan psikologis anak.
1 dari 2 halaman

Tips agar anak tetap fit selama berpuasa

Dalam proses mengenalkan ibadah puasa, tentunya Anda sebagai orang tua membutuhkan kiat tertentu agar anak tetap fit selama berpuasa. Nah, berikut ini adalah beberapa tips yang bisa Anda ikuti:

  • Penuhi kebutuhan kalori harian anak

Usahakan cukupi kebutuhan kalori buah hati Anda saat sahur dan berbuka puasa. Anak yang berusia 5-10 tahun, setidaknya membutuhkan kalori sekitar 1200-1600 kalori per hari. Jumlah ini disesuaikan dengan aktivitas dan jenis kegiatan anak.

Selain itu, pilihlah asupan yang kaya serat seperti sayuran atau buah-buahan serta memiliki indeks glikemik rendah, untuk mempertahankan kadar gula darah anak stabil lebih lama.

  • Beri tambahan suplemen khusus anak

Sebagai asupan untuk daya tahan tubuh anak, beri juga anak asupan vitamin untuk kesehatan dan kecerdasan anak yang kini telah tersedia dalam berbagai rasa buah, misalnya raspberry dan jeruk.

Selain itu, pilihlah yang tidak mengandung gula dan menggunakan pemanis alami, sehingga tidak merusak gigi. Dan jangan lupa, pertimbangkan untuk memberikan suplemen yang mengandung omega-3 yang dapat membantu menjaga kesehatan tubuh anak selama berpuasa.

  • Batasi kegiatan yang membutuhkan aktivitas tinggi

Aktivitas yang cukup tinggi bisa menyebabkan anak lemas dan mudah haus. Sebisa mungkin, batasi jenis aktivitas seperti ini. Anda dapat menggantinya dengan mengajak anak bermain puzzle, menggambar, atau aktivitas lain yang tidak membutuhkan banyak gerak.

  • Biarkan anak tidur sejenak setelah sahur

Waktu tidur yang cukup dapat membantu anak Anda menjalani puasa dengan semangat. Usahakan agar buah hati Anda tidur setidaknya 8-10 jam pada malam hari, sehingga selama puasa ia terbebas dari badan lemas dan tetap bersemangat.

  • Penuhi asupan cairan saat sahur dan berbuka

Usahakanlah selalu sajikan menu makanan berkuah seperti sup untuk menambah asupan cairan. Beri pengertian kepada anak untuk meminum air lebih banyak, karena jika tidak dilakukan mereka akan kehausan disiang hari ketika puasa.

  • Atur menu yang tepat untuk sahur dan berbuka

Saat waktu berbuka tiba, berikan anak makanan manis dengan porsi yang tepat agar glukosa yang berkurang saat puasa bisa terpenuhi. Hindari makanan cepat saji, gorengan, makanan tinggi gula, serta makanan olahan –terutama yang mengandung tepung.

Selain itu, makanan pedas atau minuman bersoda juga sebaiknya tidak diberikan baik sahur maupun berbuka puasa. Makanan dan minuman tersebut dapat meningkatkan kadar asam lambung, sehingga anak rentan terkena mag.

Saat sahur, sebaiknya Anda tidak menyajikan menu makanan yang terlalu asin dan mengandung bumbu penyedap rasa. Hal tersebut dapat membuat anak mudah haus saat berpuasa nantinya.

Mengajarkan anak puasa memang bukan hal yang mudah. Namun, penting bagi Anda untuk memastikan anak sudah benar-benar siap secara mental dan fisik untuk berpuasa. Dalam hal ini, diperlukan keterlibatan aktif orang tua untuk lebih jeli dalam menetapkan waktu yang tepat untuk memulai dan memantau pelaksanaannya. Dengan demikian, anak pun dapat menjalani puasa tanpa rasa tertekan.

[NP/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar