Sukses

Penyakit Lupus Bisa Pengaruhi Kesuburan?

Mungkin Anda pernah dengar kasak-kusuk bahwa penyakit lupus bisa pengaruhi kesuburan. Dari sisi medis, apakah ini benar?

Klikdokter.com, Jakarta Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang tubuh secara keseluruhan. Pada penyakit yang disebut sebagai systemic lupus erythematous ini, yang terjadi adalah sistem kekebalan tubuh menyerang bagian tubuh yang sehat. Hingga kini, penyebab penyakit ini belum diketahui pasti. Banyak orang yang menganggap lupus bisa memengaruhi kesuburan. Mari cek fakta medisnya lewat artikel ini.

Meski bisa dialami baik pria maupun wanita, namun berdasarkan data lupus lebih sering menyerang wanita terutama di usia produktif. Beberapa faktor risiko lainya yang bisa meningkatkan seseorang terkena penyakit autoimun adalah:

  • Genetik dalam keluarga.
  • Faktor lingkungan seperti paparan kristal silika, sinar ultraviolet, penggunaan obat-obatan tertentu, beberapa jenis makanan, kurabg istirahat, aktivitas melelahkan, sering mengalami infeksi, stres, maupun kebiasaan merokok.

Manifestasi lupus pada tiap penderita bisa bervariasi. Secara umum, penyakit ini menyebabkan timbulnya:

  • Ruam merah, terutama di pipi dan batang hidung yang dikenal dengan butterfly rash atau malar rash.
  • Peradangan pada sendi. Umumnya di tangan dan kaki, tapi bisa juga berpindah-pindah dan sering dirasakan pada pagi hari.
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Anemia
  • Demam
  • Perdarahan abnormal
  • Masalah pada jantung dan ginjal
  • Adanya keluhan depresi
  • Kelahan yang mengganggu kualitas hidup
1 dari 2 halaman

Bagaimana penyakit lupus bisa pengaruhi kesuburan

Gangguan kesuburan bisa ditemukan pada penderita lupus wanita yang masih dalam usia produktif. Pasien bisa mengalami amenorea (terhentinya haid secara abnormal) hingga menoragia (haid dengan pendarahan yang berlebihan).

Gangguan menstruasi pada penyakit lupus dikaitkan dengan perjalanan penyakit itu sendiri, yang mana terjadi peradangan pada tubuh.

Selain itu, obat-obatan untuk meringankan gejala seperti cyclophosphamide (CYC), yang bersifat gonadotoksik dan meningkatkan risiko kegagalan pembuahan sel telur. Penggunaan steroid dosis tinggi juga memberikan efek samping seperti gangguan menstruasi dan menurunkan libido.

Terdiagnosis lupus, apakah wanita tetap bisa hamil?

Jika Anda terdiagnosis lupus dan ingin merencanakan kehamilan, sebaiknya konsultasi dengan tenaga medis profesional. Dengan melakukan terapi yang sesuai yang dikombinasikan dengan konseling persiapan kehamilan, diharapkan pasien lupus tetap bisa hamil secara sehat dan aman.

Perlu diketahui, wanita penderita lupus yang sedang hamil punya risiko mengalami preeklamsia lebih tinggi selama kehamilannya.

Oleh karena itu, pemeriksaan rutin kehamilan tidak boleh sampai absen demi kesehatan ibu dan janin.

Jumlah kasus penyakit lupus

Sebagai catatan, penderita salah satu penyakit tidak menular ini tersebar di seluruh negara di berbagai belahan dunia, dengan prevalensi yang berbeda-beda. Berdasarkan data dari The Lupus Foundation of America, setidaknya terdapat 1,5 juta kasus penyakit lupus di Amerika Serikat dan 5 juta kasus tersebar di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, data pasien lupus belum bisa diketahui secara pasti, karena masih ada banyak orang yang tidak tahu gejalanya. Namun, berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online tahun 2016, tercatat ada 2.166 pasien yang dirawat inap akibat penyakit yang diderita oleh Selena Gomez ini. Sebanyak 550 pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun 2014, yang mana kasusnya hanya tercatat sebanyak 1.169 di rumah sakit.

Ya, jadi penyakit lupus bisa pengaruhi kesuburan penderita, khususnya wanita yang masih dalam usia produktif. Apakah itu menjadikan pasien wanita tak bisa punya keturunan? Tidak juga. Dengan berkonsultasi pada ahli dan terapi yang sesuai, pasien masih memiliki harapan untuk bisa menimang buah hati.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar