Sukses

Benarkah KB Bisa Turunkan Risiko Kanker Serviks?

Penggunaan KB disinyalir mampu menurunkan risiko kanker serviks, yang merupakan kanker terbanyak ketiga di seluruh dunia. Apa kata medis?

Klikdokter.com, Jakarta Kanker serviks merupakan keganasan yang ditemukan pada organ reproduksi wanita, yaitu mulut rahim. Jenis keganasan ini tergolong sering terjadi, dan umumnya disebabkan oleh adanya infeksi HPV (Human Papillomavirus).

Saat HPV menginfeksi, tubuh akan bereaksi dengan mengirim sel di sistem imun untuk membasmi virus tersebut. Jika gagal, infeksi akan berlanjut sehingga berisiko menimbulkan kanker serviks. Kurang lebih satu dari sepuluh wanita yang terinfeksi HPV akan mengalami kanker serviks di kemudian hari.

Infeksi HPV itu sendiri menyebar melalui kontak langsung dengan kulit, mukosa, atau sekresi mukosa pada orang yang sebelumnya sudah terkena infeksi. Sering kali, proses penyebaran tersebut terjadi akibat perilaku seks tidak sehat.

Mencegah kanker serviks dengan KB

Hal yang paling sering melatari terjadinya kanker serviks adalah infeksi HPV. Oleh karena itu, KB ― sebagai salah satu metode kontrasepsi ― disinyalir mampu mencegah penularan virus tersebut, sehingga risiko kanker serviks bisa diturunkan. Untuk diketahui, KB merupakan suatu metode kontrasepsi yang terbagi menjadi beberapa jenis. Mulai dari kondom, pil KB, IUD (Intrauterine Device), dan lainnya.

Terkait penggunaan KB untuk mencegah kanker serviks, salah satu yang dipertimbagkan dalam hal tersebut adalah kondom. Disebutkan bahwa kondom lateks, selain mencegah kehamilan, juga menjadi penghalang bagi seseorang untuk terkena infeksi HPV. Namun, untuk mendapat manfaat tersebut, kondom harus digunakan dengan baik dan benar.

Penggunaan kondom secara baik dan benar adalah dengan mengenakan yang baru sebelum melakukan aktivitas seksual penetratif, baik melalui vagina, anal, ataupun oral. Selanjutnya, kondom dipakai pada penis yang sedang ereksi, dengan memberikan ruang pada ujung kondom untuk mengumpulkan air mani. Setelah melakukan aktivitas seksual, kondom perlu segera dilepas saat penis masih ereksi.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, penggunaan kondom secara baik dan benar hanya melindungi area yang tertutup olehnya. Ini berarti bahwa area yang tidak tertutup oleh kondom tetap berisiko terkena infeksi HPV. Karena pada dasarnya, manfaat kondom dalam melindungi terjadinya infeksi HPV bergantung pada lokasi tubuh yang terkena infeksi.

Selain kondom, ada pula metode KB lain yang disebut mampu menurunkan risiko kanker serviks. Metode KB ini dikenal dengan sebutan IUD alias AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). Studi menemukan, wanita yang menggunakan IUD mamiliki angka kejadian kanker serviks lebih rendah 30% dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakannya. Alasan dari penemuan itu memang masih dipelajari. Namun, diperkirakan bahwa AKDR membantu melawan infeksi HPV sehingga menurunkan risiko munculnya kanker serviks. Penggunaan IUD akan memicu respons dari sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat melawan infeksi HPV. Selain itu, penggunaan IUD juga dapat memicu sistem imun jangka panjang akibat reaksi terhadap komponen yang ada di dalamnya, dimana hal tersebut juga dapat menargetkan HPV.

Berbanding terbalik dengan jenis KB yang telah disebutkan, penggunaan metode KB dengan pil alias pil KB malah ditemukan dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Hal ini disebabkan karena sel di serviks menjadi lebih rentan terhadap infeksi persisten dengan HPV risiko tinggi, yang menyebabkan kanker serviks di kemudian hari.

Kesimpulan yang bisa ditarik, penggunaan KB memang mampu mencegah penularan HPV, yang pada akhirnya menurunkan risiko terjadinya kanker serviks. Akan tetapi, manfaat tersebut hanya bisa didapatkan dengan penggunaan KB jenis kondom dan IUD atau AKDR secara tepat. Sedangkan untuk penggunaan pil KB, risiko kanker serviks malah bisa meningkat.

Terlepas dari itu, langkah terbaik yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan risiko kanker serviks adalah dengan melakukan vaksin HPV supaya infeksi virus tersebut bisa benar-benar dicegah. Selain itu, lakukan juga perilaku deteksi dini, misalnya dengan menjalani pemeriksaan pap smear secara berkala.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar