Sukses

Anak Laki-laki juga Perlu Vaksin HPV?

Vaksin HPV biasa diberikan kepada anak perempuan untuk mencegah kanker serviks. Ternyata, anak laki-laki juga butuh vaksin ini. Untuk apa?

Klikdokter.com, Jakarta Peningkatan kesadaran vaksin HPV pada anak perempuan penting untuk mencegah kanker serviks di kemudian hari. Indonesia sendiri sudah mulai menggalakkan vaksin HPV untuk anak usia sekolah dasar (9-13 tahun). Bahkan, di DKI Jakarta, siswi kelas 5 SD berhak mendapatkan vaksin HPV secara cuma-cuma. Mungkin inilah kenapa banyak yang menganggap vaksin ini hanya diperlukan anak perempuan. Padahal, anak laki-laki juga harus mendapatkan vaksin tersebut.

Alasan kenapa anak laki-laki juga butuh vaksin HPV

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter, vaksin HPV sebenarnya tak cuma diperuntukkan bagi perempuan, tetapi juga laki-laki.

“Ini karena infeksi virus HPV tak hanya menyebabkan kanker serviks, melainkan juga kanker anus, mulut, tenggorokan, penis, hingga penyakit menular seksual kondiloma akuminata,” kata dr. Resthie menjelaskan.

Tak hanya itu, seperti dilansir di CNN, pentingnya vaksin HPV untuk laki-laki juga didasarkan fakta bahwa sekalipun perempuanlah yang terjangkit kanker serviks, tapi faktanya laki-laki juga berpotensi membawa virus tersebut dan menyebarkannya lewat kontak seksual.

Bahkan, pimpinan American Cancer Society mengatakan, di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), vaksin HPV sudah mulai diberikan pada anak laki-laki berusia 11-12 tahun sesuai rekomendasi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC). Sedangkan, untuk anak perempuan, vaksin HPV diberikan sebanyak dua kali dengan jarak 6-12 bulan.

Remaja laki-laki yang diberikan vaksin HPV akan terlindungi dari infeksi virus HPV hingga 90 persen seumur hidupnya. Efek samping yang berarti setelah mendapatkan vaksin ini pun tidak ada. Kalaupun ada, efek sampingnya hanya berupa bengkak di lokasi suntikan, demam ringan, atau sakit kepala di hari pertama hingga hari kelima setelah pemberian vaksin.

Berbagai jenis infeksi virus HPV pada pria

Dilansir dari Very Well Health yang bersumber dari data CDC, sekitar 79 juta pria sudah terinfeksi virus HPV, tapi tidak semuanya menyebarkan kanker. Beberapa di antaranya menimbulkan kutil kelamin, daging tumbuh di penis, skrotum, testis, anus, pangkal, atau paha.

Kutil kelamin ini dapat berkembang menjadi lesi tunggal atau mengelompok dalam pertumbuhan yang menyerupai kembang kol. Selain kutil kelamin, virus HPV pada pria dapat membuat mereka terkena kanker penis, kanker tenggorokan, kanker mulut, hingga kanker lidah orofaringeal.

Menurut CDC, usia ideal bagi anak perempuan dan laki-laki untuk menerima vaksin HPV adalah 11 atau 12 tahun. Dalam pelaksaanannya, vaksin yang baru diperkenalkan sejak tahun 2006 ini mendapat banyak hambatan di lapangan. Tak hanya soal kesadaran dan pengetahuan, tapi tak sedikit orang tua yang merasa aneh, khawatir nantinya vaksin ini menjadi alasan bagi remaja untuk bisa leluasa melakukan seks. Kalau soal ini, mungkin pola asuh anak bisa lebih diperhatikan. Percayalah, vaksin akan lebih efektif didapat saat usia anak-anak ketimbang mendapatkan vaksin saat sudah dewasa dan aktif berhubungan seksual. Sebab, saat usia menginjak belasan tahun, sistem imunitas tubuh yang “bertemu” dengan vaksin akan menghasilkan respons kekebalan yang jauh lebih kuat.

Sama seperti pemberian vaksin pada umumnya, anak laki-laki tidak boleh divaksin HPV saat sedang sakit. Agar benar-benar aman, dapatkan vaksin di rumah sakit terpercaya dengan tenaga medis profesional. Sehingga, bila ada efek samping yang tidak diinginkan, misalnya alergi, anak bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Vakin HPV adalah salah satu cara pencegahan paling efektif agar perempuan terlindungi dari kanker serviks. Pemberiannya pun sudah bisa dilakukan sejak usia anak-anak. Tak hanya perempuan, nyatanya anak laki-laki juga sama-sama membutuhkan vaksin HPV. Tak hanya karena laki-laki juga bisa berkontribusi dalam penyebaran virus, tapi vaksin ini juga dapat mencegah berbagai infeksi menular seksual dan kanker tertentu. Untuk mengimbanginya, bekali juga anak edukasi seks, sehingga mereka tahu apa saja risiko dari seks yang tidak aman dan tidak bertanggung jawab.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar