Sukses

Pernikahan Dini Picu Kanker Serviks?

Di Indonesia, kasus kanker serviks masih terbilang tinggi. Katanya, salah satu pemicunya adalah pernikahan dini. Benarkah?

Klikdokter.com, Jakarta Masih tingginya pernikahan yang dilakukan mereka yang berusia sangat belia (bahkan masih usia anak-anak) menimbulkan keresahan serta pro dan kontra di masyarakat, khususnya perkotaan. Pernikahan dini diketahui memiliki banyak dampak negatif. Dikutip dari berbagai sumber, risikonya antara lain rentan perceraian hingga terputusnya akses pendidikan. Bagi perempuan, terdapat risiko menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan risiko tinggi kematian saat melahirkan. Tak hanya itu, katanya pernikahan dini juga bisa picu kanker serviks.

Sekilas mengenai pernikahan dini di Indonesia

Baru-baru ini, publik dikagetkan dengan pernikahan Asnur Azis (16) dan Diva Almagvira (14), remaja di bawah umur dari Parepare, Sulawesi Selatan yang viral di media sosial. Dikatakan juga bahwa Ketua KUA Kecamatan Bacukiki, Amir Said, mendatangi pihak keluarga, yang ternyata mempelai ada di sana. Amir mengaku tak setuju, tapi ia tak bisa berbuat banyak karena pernikahan dilangsungkan di luar kota Parepare, di luar jangkauan yurisdiksinya.

Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2015, setiap jam ada 16 anak perempuan di Indonesia yang menikah sebelum berusia 18 tahun. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar ketujuh di dunia yang menyumbangkan angka pernikahan usia anak, seperti dikutip dari daftar 20 negara dengan angka pernikahan tertinggi yang dirilis Girls not Bride tahun 2017.

Resah terhadap fenomena ini, Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya menyatakan batas pernikahan anak perempuan 16 tahun adalah inskonstitusional pada bulan Desember tahun 2018 silam. Bagi beberapa kalangan, putusan tersebut cukup mengejutkan, mengingat pada tahun 2015 MK pernah menolak batas usia minimal perempuan untuk menikah dari 16 tahun menjadi 18 tahun, karena dianggap bukan jaminan bagi perempuan untuk mengurangi perceraian, kesehatan, serta masalah sosial.

Pasca putusan, MK memerintahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk merevisi UU Perkawinan (spesifiknya pasal 7 UU 1/1974) paling lama sejak putusan MK tersebut. Ini merupakan salah satu langkah untuk mencegah perkawinan dini di kalangan anak-anak Indonesia. Kini bola ada di tangan DPR. Namun, kemungkinan ini akan terganjal Pemilu, sehingga bisa jadi revisi UU Perkawinan ini baru bisa dikerjakan DPR periode 2019-2024.

1 dari 3 halaman

Pernikahan dini dan risiko kanker serviks

Dari sisi kesehatan, pernikahan dini – spesifiknya berhubungan seks pada usia yang terlampau muda – bagi perempuan bisa meningkatkan risiko terkena kanker serviks.

Kanker serviks merupakan kanker yang paling mematikan bagi wanita di seluruh dunia. Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, benar adanya bahwa berhubungan seksual di usia yang terlalu muda (di bawah 18 tahun) bisa meningkatkan kemungkinan seseorang terkena masalah kesehatan organ intim di kemudian hari, tak terkecuali kanker serviks.

“Ya, khususnya pada wanita, karena sistem reproduksinya belum berkembang sempurna sehingga rentan mengalami kondisi itu. Apalagi bila dilakukan di bawah usia pubertas, risiko terkena infeksi menular seksual (IMS) atau kanker jadi makin besar,” jelas dr. Nadia.

Sementara itu, dilansir dari media Inggris The Telegraph, dr. Silvia Francheschi yang memimpin penelitian tentang berhubungan seksual di usia muda dan risiko kanker serviks mengeluarkan pernyataan. Katanya, risiko kanker serviks lebih tinggi pada wanita yang melakukan hubungan seksual pertama mereka di usia 20 tahun ketimbang mereka yang melakukannya di usia 25 tahun. Menurutnya, wanita yang berhubungan seksual terlalu muda memberi virus HPV lebih banyak waktu untuk mengembangkan diri menjadi kanker mematikan.

Dengan melakukan hubungan seksual di bawah usia 20 tahun, berarti ada juga kemungkinan perempuan hamil dan melahirkan pada usia muda. Faktanya, usia wanita melahirkan bayi pertamanya juga menjadi faktor penting terkait risiko kanker serviks.

Francheschi juga mengatakan, umumnya pernikahan dini terjadi wilayah-wilayah yang kekurangan secara ekonomi, sehingga pernikahan dianggap sebagai solusi dari sulitnya hidup. Karena fakta lapangan tersebut, dr. Lesley Walker dari Cancer Research Inggris menyarankan pentingnya melakukan vaksin HPV sebelum berhubungan seksual, khususnya di kalangan perempuan yang tinggal di wilayah berpendapatan rendah.

2 dari 3 halaman

Lindungi diri dari kanker serviks

Kanker serviks diperkirakan menjadi penyebab dari 270.000 kematian tiap tahunnya. Sebanyak 85 persen terjadi di negara berkembang. Yang lebih seram lagi, kanker serviks bisa menyerang tanpa menampakkan gejala yang berarti, sehingga ketika terdeteksi sudah berada dalam stadium lanjut.

Menurut dr. Atika dari KlikDokter, infeksi kuman HPV yang berubah menjadi kanker serviks sesungguhnya hanya sebagian kecil. Karena pada dasarnya, infeksi dapat dilawan oleh imunitas tubuh.

“Faktor-faktor yang membuat infeksi itu menjadi kanker adalah tipe infeksi, durasi infeksi, daya tahan tubuh yang rendah, merokok, dan defisiensi vitamin.” kata dr. Atika.

Nah, agar Anda terhindar dari infeksi yang dapat berujung menjadi kanker, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni:

  • Mendapatkan vaksinasi HPV. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), pemberian vaksin ini merupakan cara yang sangat ampuh untuk mengurangi risiko terkena kanker serviks.
  • Rutin skrining kanker dengan pap smear. Dengan melakukan skrining, gambaran pra kanker dapat ditemukan lebih awal dan dicegah perkembangannya menjadi kanker. Pap smear direkomendasikan untuk dilakukan setiap 3 tahun sejak wanita berusia 21 tahun.
  • Hindari gonta-ganti pasangan seksual.
  • Hindari merokok. Sebab, orang yang merokok memiliki risiko yang besar untuk terkena kanker apa pun, termasuk kanker serviks.

Pernikahan dini memang bisa memicu risiko kanker serviks di kemudian hari, akibat sistem reproduksi wanita yang belum berkembang sempurna. Sebagai langkah pencegahan, wanita juga perlu melindungi juga diri dengan vaksin HPV dan pap smear sebagai langkah deteksi dini.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar