Sukses

Benci Pekerjaan Anda? Ini 9 Efek Buruknya pada Kesehatan

Pulang dari kantor Anda stres, kelelahan, dan tak termotivasi? Mungkin Anda benci pekerjaan Anda. Kenali efek buruknya pada kesehatan.

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang pasti pernah merasakan kesialan atau hari yang buruk dalam pekerjaannya. Namun, jika Anda membenci pekerjaan Anda saat ini, waspadalah jika hari buruk atau kesialan berlangsung berhari-hari, merasa tiada hari tanpa stres, hingga memengaruhi kesehatan tubuh Anda. Ya, jika Anda terus mempertahankannya, bisa-bisa pekerjaan yang toksik meninggalkan efek buruk pada kesehatan Anda.

Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang benci pada pekerjaan. Misalnya karena bidang kerjanya tak sesuai, gaji terlalu kecil, atasan diktator, suasana kerja tidak kondusif, rekan kerja saling menjatuhkan, perundungan, dan masih banyak lagi. Apa pun alasannya, ketidaksukaan terhadap pekerjaan bisa mengakibatkan stres.

Pekerjaan yang toksik rentan mengakibatkan munculnya gangguan kesehatan. Tubuh Anda mungkin lebih tahu bahwa pekerjaan Anda tersebut adalah biang kerok dari gejala stres yang Anda rasakan, lalu mengirimkan peringatan bahwa kondisi Anda tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Berikut ini adalah bukti bahwa stres akibat pekerjaan yang Anda benci bisa menggerogoti kesehatan Anda.

  1. Sering sakit kepala

Otot akan menegang untuk menjaga tubuh dari cedera. Menurut American Psychological Association, ketika Anda melihat tempat kerja sebagai “zona berbahaya”, itu membuat otot tubuh tegang. Ketegangan kronis di leher, bahu, dan kepala bisa dikaitkan dengan migren dan sakit kepala tipe tegang.

“Stres menciptakan gejala fisiologis, dan itu bermanifestasi sebagai rasa sakit,” kata psikolog klinis asal Amerika Serikat, Monique Reynolds, dari Center for Anxiety and Behavior Change seperti dikutip di Huffington Post.

Hal ini juga dibenarkan oleh dr. Fiona Amelia, MPH, dari KlikDokter. Dikatakannya, sakit kepala yang utamanya dipicu oleh stres adalah sakit kepala tipe tegang (tension-type headache). Pemicu lainnya adalah kurang istirahat, postur tubuh yang buruk, kecemasan, kelelahan, lapar, dan kadar zat besi yang rendah.

Ciri khas dari sakit kepala tipe tegang adalah sakit kepala yang terasa seperti ditekan atau diikat.

“Sering terjadi pada orang dewasa, biasanya nyeri dirasakan di belakang kepala, serta dapat menjalar ke leher dan bahu. Para pakar berpendapat bahwa emosi yang memuncak, tekanan, atau stres memicu kontraksi otot-otot wajah, leher, dan kulit kepala yang sebelumnya menjadi lebih sensitif terhadap rangsang nyeri,” jelas dr. Fiona.

Ciri lain sakit kepala tipe tegang yakni nyeri kerap muncul pada siang atau sore hari setelah beraktivitas, tidak membaik setelah istirahat, dan bikin sulit fokus. Sakit kepala jenis ini juga bisa menyebabkan Anda lebih sensitif terhadap cahaya atau suara, meski demikian kasus ini jarang terjadi.

1 dari 5 halaman

Selanjutnya

  1. Nyeri otot

Terperangkap dalam pekerjaan yang dibenci mungkin rasanya seperti bertarung melawan harimau liar di meja kerja. Kerja di bawah “ancaman” seperti ini bisa membuat otak kebanjiran adrenalin dan hormon stres lainnya.

“Bertahan pada pekerjaan yang dibenci membuat sistem saraf terus-terusan gelisah,” kata Monique. “Ini karena Anda terus mengantisipasi dan siap bereaksi terhadap bos atau rekan kerja yang tak menyenangkan,” lanjutnya.

Jika Anda sering mengetik keyboard keras-keras, memukul meja, membalas email dengan bahu dan rahang tegang, mendengarkan kritikan dari atasan atau rekan kerja sambil mengepalkan rangan—bisa jadi itu adalah tanda-tanda pekerjaan Anda berdampak pada kesehatan.

Kepada KlikDokter, dr. Rio Aditya menjelaskan bahwa tubuh akan memberikan respons dengan mengeluarkan hormon kortisol saat sedang stres atau banyak pikiran. Kadar kortisol yang berlebihan ini membuat tubuh lebih sensitif terhadap nyeri, mencetuskan proses peradangan, dan menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam tubuh.

“Radikal bebas yang bersemayam di dalam tubuh dapat merusak sel-sel otot, mempercepat penuaan sel, dan merusak jaringan-jaringan tubuh lainnya,” ungkap dr. Rio.

Tak hanya nyeri otot, studi pun membuktikan bahwa stres dalam jangka waktu panjang dapat mencetuskan nyeri pinggang, nyeri panggul, fibromialgia, dan nyeri pada sendi tulang rahang.

  1. Sulit tidur

Banyak orang yang melaporkan tak bisa tidur karena pikiran yang masih berpacu atau tak bisa terus tertidur. Mereka terbangun tengah malam memikirkan tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan di kantor.

Sulit tidur selama beberapa malam memang bukan masalah besar. Namun, jika ini menjadi sebuah pola, ini mungkin pertanda bahwa stres pekerjaan mulai “meracuni” tubuh. Kurangnya waktu tidur dan rendahnya kualitas tidur telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan fisik, mental, dan emosional. Dalam jangka pendek, kurang tidur dapat meningkatkan emosi negatif seperti ansietas, kegelisahan, dan rasa sedih. Selain itu, hal ini juga bisa menurunkan berbagai emosi positif seperti kebahagiaan, antusiasme, dan rasa gembira.

2 dari 5 halaman

Selanjutnya (2)

  1. Sering sakit

Menurut penelitian yang dipublikasikan di “The Malaysian Journal of Medical Sciences” tahun 2008, stres kronis dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh, membuat Anda jadi lebih rentan terhadap penyakit. Hal ini juga diiyakan oleh dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter.

“Stres menstimulasi sistem imun Anda. Orang yang mengalami stres akan lebih sering terkena virus, seperti virus influenza atau common cold. Stres juga dapat menyebabkan lamanya pemulihan dari penyakit atau cedera,” jelasnya.

  1. Kehilangan minat seks dan gangguan sistem reproduksi

Jika Anda sering pulang dengan membawa banyak pekerjaan rumah, hubungan Anda dan pasangan bisa dipertaruhkan. Dilansir dari laman American Psychological Association, saat wanita harus menangani beberapa hal sekaligus, misalnya stres pekerjaan, kewajiban pribadi, mengurus anak, atau mengelola keuangan, ini bisa menurunkan gairah seksual. Ditambahkan oleh dr. Theresia pada wanita, stres berkepanjangan bisa menyebabkan siklus haid terganggu, durasinya memanjang, atau nyeri yang dirasakan lebih hebat.

Sedangkan pada pria, jika stres dibiarkan terus-menerus, kadar testosteron akan menurun. Ini akan memengaruhi produksi sperma dan bisa sebabkan impotensi. Tak hanya itu, stres juga bisa membuat uretra prostat dan testis lebih rentan terkena infeksi.

  1. Kondisi mental memburuk

Monique menyebut, peningkatan stres dapat memperburuk masalah kesehatan mental yang sudah ada.

“Seseorang yang pada dasarnya sudah mudah khawatir, di lingkungan kerja yang toksik kekhawatiran itu tak jarang akan memperparah hingga melewati ambang klinis,” ucap Monique.

Jika Anda merasa sepertinya Anda selalu salah di mata atasan, kesehatan mental Anda menjadi taruhannya. Sebuah analisis pada 279 studi tahun 2012 di “The Malaysian Journal of Medical Sciences” tahun 2008 mengaitkan persepsi ketidakadilan organisasi atau perusahaan dengan keluhan kesehatan karyawan seperti makan berlebihan dan depresi.

E. Kevin Kelloway, Ketua Penelitian Kanada di Psikologi Kesehatan Kerja, Universitas St. Mary, Kanada, mengatakan bahwa perlakuan yang tidak adil di tempat kerja bisa menyebabkan stres berlebih. Ketidakadilan rentan menjadi penyebab stres yang sangat “beracun”, karena menyerang jati diri Anda.

3 dari 5 halaman

Selanjutnya (3)

  1. Lelah terus-terusan

Ini merupakan kelelahan yang tak bisa diobati dengan tidur siang atau istirahat pada akhir pekan. Rasa lelah yang berlebih, misalnya pada pekerja yang sudah mengalami stres berat atau depresi, bisa jadi disebabkan oleh perasaan sedih, putus asa, dan tidak berdaya. Nyeri emosional yang kronis memang bisa "menyedot" energi Anda. Anda menjadi cepat lelah. Bahkan, untuk bangun dari tempat tidur saja rasanya seperti tak punya tenaga.

  1. Perut tak bersahabat

Dijelaskan oleh Kelloway, gangguan pencernaan, konstipasi, dan perut kembung bisa dikaitkan dengan stres. Ini karena stres bisa berdampak pada  apa yang dicerna usus dan juga dapat mengubah bakteri di usus, yang pada gilirannya bisa memengaruhi mood Anda.

“Saya pernah mengalami sakit perut tiap hari Minggu sore. Bukan gejalanya, tapi waktu terjadinya yang mengingatkan saya akan hubungan dengan pekerjaan. Semua gejala hilang ketika saya berhenti kerja dan melanjutkan hidup,” aku Kelloway.

Selain itu, dr. Theresia menambahkan bahwa saat stres, lever menghasilkan glukosa darah untuk meningkatkan energi. Gula darah yang tidak terpakai akan diserap kembali oleh tubuh. Jika Anda stres berkepanjangan, maka tubuh tidak mampu lagi menyimpan glukosa yang berlebih, sehingga Anda mungkin akan mengalami peningkatan risiko penyakit diabetes tipe 2.

Peningkatan kadar hormon, pernapasan, dan detak jantung dapat memperburuk sistem pencernaan.

“Anda mungkin akan mengalami refluks asam lambung. Stres memang tidak menyebabkan luka pada lambung, tetapi dapat memicu luka yang telah Anda alami untuk kembali aktif. Gejala yang timbul meliputi mual, muntah, atau sakit perut. Selain itu, stres dapat memengaruhi pergerakan makanan di dalam usus, sehingga memicu diare atau konstipasi,” terangnya.

  1. Perubahan nafsu makan

Nafsu makan berhubungan dengan otak. Dilansir dari laman Harvard Health Publising, di bawah tekanan akut, respons fight-or-flight melepaskan adrenalin, memberi tahu tubuh untuk menekan pencernaan agar fokus pada “penyelamatan diri” dari bahaya yang dirasakan.

Di bawah tekanan jangka panjang, kelenjar adrenalin akan melepaskan dan membangun kortisol, hormon yang bisa meningkatkan rasa lapar. Tak hanya itu, laporan dari Harvard juga menyebut bahwa makanan manis bisa menumpulkan respons emosi yang berkaitan dengan stres. Itulah kenapa meski banyak yang menganggapnya sebagai comfort food (termasuk juga makanan yang tinggi lemak), tapi kebiasaan makanan manis tergolong tak sehat dan harus dihindari.

Waspadai juga emotional eating—konsumsi makanan kesukaan dalam jumlah banyak saat menghadapi situasi sulit. Dikatakan oleh dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc, MSc, dari KlikDokter, kondisi tertekan bisa menyebabkan pelepasan beberapa hormon stres dalam tubuh.

“Dalam jangka pendek, stres dapat menurunkan nafsu makan akibat pelepasan hormon epinefrin oleh kelenjar adrenal tubuh. Namun, bila terus berlangsung, stres menyebabkan pelepasan hormon kortisol,” jelasnya.

Ciri dari emotional eating adalah mengonsumsi makanan pada saat stres. Selain itu, orang tersebut juga umumnya akan mengonsumsi makanan dalam jumlah yang relatif banyak meski dirinya tidak merasa lapar.

4 dari 5 halaman

Sebaiknya apa yang harus dilakukan?

Apa pun keputusan Anda, awali dengan beristirahat. Anda bisa mengambil cuti selama beberapa hari untuk melindungi Anda dari lingkungan kerja yang toksik.

“Ketika Anda tidak memberikan sistem saraf kesempatan untuk relaks dan melakukan pengaturan ulang, ini bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang,” ungkap Monique.

Anda bisa berkumpul dengan sahabat, meditasi, melakukan hobi yang sudah lama Anda tinggalkan, atau berolahraga untuk membantu mengimbangi gejala stres yang sudah muncul.

Setelah beristirahat, cobalah untuk mengubah kerangka berpikir Anda. Salah satu prinsip dari terapi perilaku kognitif adalah bagaimana berpikir unutk mengubah apa yang Anda rasakan.

“Tak semua orang bisa berhenti dan langsung dapat pekerjaan lain. Namun, Anda bisa fokus pada situasi yang bisa Anda kontrol,” kata Monique.

Turut diingatkan juga oleh dr. Sara Elise Wijono, M.Res, juga dari KlikDokter. Ada tanda-tanda pekerjaan Anda berdampak buruk bagi kesehatan. Ini meliputi waktu kerja yang panjang, pekerjaan yang tidak memberi kepuasan, performa kerja buruk, membuat Anda tidak aktif dalam jangka waktu lama, tipe atasan yang buruk, hubungan dengan rekan kerja tidak harmonis, serta lingkungan pekerjaan yang tidak sehat.

“Jika semuanya Anda alami, segera lakukan sesuatu untuk mengubahnya. Jika dibiarkan lama, ancaman kesehatan menanti,” pungkasnya.

Diskusikan permasalahan Anda dengan orang-orang terdekat dan minta masukan. Jika sudah mencoba untuk berubah tapi lingkungan kerja masih juga toksik dan Anda masih membenci pekerjaan Anda, lebih baik tinggalkan. Pada saat ini, yang penting bukan lagi mengatasi gejala stres yang dirasakan, tapi mengidentifikasi masalah yang mendasarinya. Jika masih juga dipertahankan, bisa-bisa efek buruknya pada kesehatan akan terus terjadi. Kondisi fisik perlahan terkikis, kondisi mental pun bisa makin terpuruk.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar