Sukses

Kenali Makrosomia, Hamil dengan Bayi yang Terlalu Besar

Bayi yang masih di dalam kandungan berpotensi mengalami kelebihan bobot. Kondisi ini disebut dengan makrosomia.

Klikdokter.com, Jakarta Ternyata, anak yang masih di dalam kandungan ibunya berpotensi mengalami kelebihan bobot. Namun, hal tersebut bukan disebut sebagai obesitas, melainkan fetal macrosomia. Menurut dr. Fiona Amelia MPH dari KlikDokter, makrosomia itu merupakan kondisi saat berat janin mencapai 4.000–4.500 gram. Bahkan, ada juga mencapai berat 5.000 gram atau lebih.

Apa penyebabnya?

Melahirkan melewati hari perkiraan lahir, misalnya bayi belum juga lahir di usia kehamilan 40 minggu, akan memperbesar risiko terjadinya makrosomia. dr. Fiona mengatakan, semakin lama suatu kehamilan, semakin besar pula risiko janin menjadi obesitas akibat pertumbuhan janin yang tidak terhenti.

“Kondisi makrosomia juga bisa terjadi bila sang ibu sebelumnya mengalami kenaikan berat badan terlalu besar selama hamil, menderita diabetes, berusia lebih dari 35 tahun atau kurang dari 17 tahun, serta memiliki riwayat melahirkan bayi besar,” jelas dr. Fiona.

Etnis dan jenis kelamin memengaruhi?

Pada kasus yang jarang terjadi, makrosomia dapat disebabkan oleh kelainan genetik yang membuat janin tumbuh lebih cepat dari usia kehamilan yang seharusnya. Dilansir Very Well Family, ada faktor lain yang meninggikan risiko terjadinya makrosomia, yakni Anda mengandung anak laki-laki. Anak laki-laki biasanya memiliki bobot tubuh yang lebih berat daripada anak perempuan.

Bila Anda keturunan Hispanik atau kulit putih, etnisitas Anda juga dapat berdampak pada ukuran bayi. Ibu Kaukasia dan Hispanik cenderung memiliki bayi yang lebih besar ketimbang ibu dari latar belakang etnis lain. Bila Anda atau pasangan berasal dari keluarga bayi besar, Anda pun dapat mewariskan gen itu kepada bayi yang tengah dikandung.

1 dari 2 halaman

Apa saja risiko yang ditimbulkan?

Dikutip dari Verywell Family, berikut beragam risiko yang bisa terjadi jika janin mengalami makrosomia:

  • Ibu akan mengalami persalinan yang sulit. Bayi bisa kesulitan saat melewati jalan lahir dan bahkan tersangkut.
  • Bayi berpotensi cedera saat lahir, khususnya bila ibu melahirkan secara normal. “Cedera yang paling sering dialami adalah distosia bahu. Kepala bayi sudah keluar, tetapi bahunya terjebak di dalam tubuh ibu. Pada bayi, distosia bahu paling sering menyebabkan patah tulang selangka hingga cedera saraf yang memengaruhi area lengan,” dr. Fiona menambahkan.
  • Ibu mengalami perdarahan hebat saat bersalin akibat robekan rahim dan cedera vagina luas sehingga membutuhkan banyak jahitan.
  • Janin makrosomia juga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan setelah lahir, misalnya sindrom metabolik di masa kanak-kanak. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular di masa mendatang.

Bagaimana cara mencegahnya?

Semuanya tentu bergantung dengan Anda sebagai ibunya. Bila Anda tidak menginginkan janin tumbuh terlampau besar, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, yaitu:

  • Selalu awasi kenaikan berat badan selama hamil. Kenaikan berat badan yang normal saat hamil adalah 11–16 kg. Bila lebih dari itu, maka Anda perlu menerapkan pola makan yang lebih sehat dan beraktivitas fisik (jalan cepat, berenang, yoga, bersepeda) sebanyak 150 menit per minggu.  

“Hamil bukan berarti Anda makan untuk dua orang. Makanlah seperti bisa dengan komposisi gizi yang seimbang,” dr. Fiona menegaskan. Dan bila kenaikan terus saja melaju melebihi batas normal, sebaiknya segera periksakan kondisi tersebut ke dokter.

  • Kendalikan gula darah Anda bila sebelumnya Anda mengalami diabetes. Itu merupakan cara terbaik untuk mencegah berbagai komplikasi kehamilan.  
  • Rutinlah memeriksakan kondisi Anda dan kehamilan ke dokter kandungan serta  ahli gizi. Bila perlu, temuilah ahli endokrin dan perinatologis.  

Buanglah jauh-jauh pikiran bahwa bobot berlebih itu menandakan bahwa bayi Anda sehat. Sebab, tak sedikit yang berpikir bahwa semakin besar kenaikan bobot tubuh (baik diri sendiri maupun bayi dikandung) semakin sehat kondisi yang dihasilkan. Padahal, tidak begitu. Yang paling baik adalah menjaga berat badan si ibu dan janinnya di angka yang ideal, tidak terlalu berat dan tidak kekurangan. Dengan begitu, bayi Anda akan terhindar dari makrosomia.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar