Sukses

Kulit dan Jari Kebas, Gejala Penyakit Kusta?

Tiba-tiba saja kulit dan jari Anda mengalami kebas. Ada yang bilang ini pertanda penyakit kusta. Cek di sini faktanya.

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit kusta, atau dikenal juga dengan lepra, merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini menyerang kulit, sistem saraf perifer, serta selaput lendir. Karena itu, gejala kusta bisa meliputi perubahan pada kulit, gangguan saraf, serta gangguan pada mata dan saluran napas bagian atas.

Penularan bakteri ini terjadi melalui kontak dengan penderita kusta. Atau bisa juga tertular melalui droplets atau cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara ketika penderita batuk atau bersin.

Ketika bakteri Mycobacterium leprae mencapai saluran pernapasan, ia akan berpindah ke jaringan saraf dan berkembang biak di sana. Bakteri akan berkembang biak dalam waktu 2-3 minggu, lalu membelah dalam waktu 14-21 hari dengan masa inkubasi antara 3-5 tahun. Oleh karena itu, bisa saja orang yang telah terinfeksi bakteri ini baru merasakan gejala setelah beberapa tahun setelahnya.

Mengenali tanda dan gejala kusta

Ciri khas yang membedakan penyakit kusta dengan penyakit kulit lainnya adalah ruam pada kulit disertai kurang rasa atau kebas. Terkadang penderita juga dapat mengalami mati rasa. Inilah yang dapat menyebabkan penderita kusta tidak merasakan nyeri saat luka.

Gejala lain kusta yang dapat Anda temui adalah:

  • Rambut rontok
  • Kerusakan mata yang bisa berujung kebutaan
  • Pembesaran saraf
  • Kelemahan otot sampai kelumpuhan, terutama otot kaki dan tangan
  • Kebotakan pada alis dan bulu mata
  • Mata menjadi kering dan jarang mengedip, serta dapat menimbulkan kebutaan
  • Hilangnya jari jemari
  • Dan sebagainya
1 dari 2 halaman

Faktor risiko & diagnosis kusta

Sejak dahulu kala, kusta dianggap sebagai penyakit kutukan sehingga penderitanya kerap dikucilkan di masyarakat. Padahal penyakit ini murni disebabkan oleh bakteri dan tentunya bisa disembuhkan. Berikut adalah beberapa faktor risiko penyebab kusta:

  • Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa sarung tangan. Hewan perantara tersebut di antaranya adalah armadillo dan simpanse.
  • Bertempat tinggal di kawasan endemik kusta.
  • Memiliki kelainan genetik yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Jika Anda mengalami atau menemukan kerabat dengan keluhan menyerupai kusta, segeralah membawa diri ke dokter. Kebanyakan kasus kusta dapat didiagnosis dengan mudah hanya dengan melihat ruam kulit dan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan penunjang lainnya bertujuan memperkuat diagnosis untuk menemukan bakteri kusta dan mengetahui tipe kusta. Tipe kusta ini akan berpengaruh pada pemilihan obat yang akan diberikan pada pasien. Secara garis besar, tipe kusta dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Paucibacillary.Ada lesi kulit dengan kerokan kulit negatif.
  2. Multibacillary.Ada lesi kulit dengan kerokan kulit postif.

Cara yang ideal untuk mencegah penyebaran kusta adalah dengan diagnosis dini dan pengobatan yang baik pada penderita kusta. Namun, stigma yang terkait dengan kusta justru membuat penyakit ini sulit untuk diberantas.

Menerapkan langkah-langkah berikut kepada setiap orang, termasuk penderita kusta dan keluarga penderita, dapat membantu pencegahan kusta:

  • Memberikan penyuluhan dan dukungan.
  • Memantau kondisi dan gejala kusta.
  • Mendidik penduduk setempat mengenai pencegahan cedera dan pembersihan luka.

Anda tak perlu takut lagi dengan penyakit kusta. Dengan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat, kusta dapat disembuhkan dan penderitanya bisa terhindar dari kecacatan. Penyebarluasan informasi tentang kusta di masyarakat juga sangat penting, agar penderita dapat menjalani hidup dengan baik tanpa stigma sekaligus mencegah penularan kusta kepada orang lain.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar