Sukses

Hoaks Berita Kesehatan, Bagaimana Menyikapinya?

Di masa sekarang, apalagi tengah ramai masa politik, hoaks makin sering bermunculan, termasuk bidang kesehatan. Bagaimana menyikapinya?

Klikdokter.com, Jakarta Hoaks alias berita yang berisi kebohongan sering kali dikemas dengan baik dan menarik, kadang dilengkapi foto, sehingga tampak meyakinkan. Hoaks tak hanya soal politik yang kerap dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan, tapi juga termasuk di bidang kesehatan. Jika tidak waspada dan tidak melakukan verifikasi, Anda akan mudah disesatkan oleh berita palsu tersebut.

Kerugian hoaks seputar kesehatan

Hoaks di bidang kesehatan tentu saja bisa menimbulkan kerugian. Misalnya mendorong Anda untuk membeli produk tertentu yang tak jelas produsennya, yang konsumsinya bisa menimbulkan efek samping. Atau misalnya berita mengenai selang cuci darah yang dipakai puluhan orang yang bisa menakut-nakuti orang, termasuk fitnah bagi siapa pun yang namanya disebut jika berita tersebut tidak benar.

Hoaks sering kali menimbulkan kerugian serius, seperti keterlambatan diagnosis dan penanganan suatu penyakit. Konsumsi produk yang beredar lewat hoaks, yang kandungannya tidak jelas, berpotensi membuat kerja obat yang Anda minum menjadi tidak efektif karena tidak diketahui interaksi antara keduanya. Contoh lainnya, ada pula hoaks seputar vaksin anak, yang pada akhirnya mengakibatkan banyak orang yang tak ingin anaknya divaksin. Ini dapat memunculkan wabah penyakit tertentu yang seharusnya tak terjadi jika anak mendapatkan vaksin tersebut.

Cara mengenali berita bohong

Mengenai penyebaran hoaks, jangan sampai mudah tertipu! Hoaks seputar kesehatan sering kali bertujuan untuk menjual produk tertentu, yang sebetulnya tak memiliki manfaat. Anda perlu waspada jika terdapat suatu produk yang punya klaim bermanfaat untuk mengatasi berbagai kondisi, mulai masalah di ujung kepala hingga ujung kaki. Kemungkinan produk tersebut hanya bohong belaka.

Selain itu, waspada juga jika terdapat kata-kata marketing tertentu. Contohnya “terobosan terbaru”, “kesembuhan secara ajaib”, “hasil instan”, “formula spesial atau rahasia”, dan sebagainya. Jargon-jargon tersebut memang sangat menarik perhatian, tapi sering kali disertakan pada hoaks agar pembacanya percaya. Kata-kata tersebut kerap dipakai untuk menjanjikan hasil untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang tidak terdapat obatnya.

Selanjutnya, produk yang memasarkan hasil pasti tanpa usaha perlu dicurigai. Sebagai contoh, ada jamu atau jus pelangsing yang mengklaim bisa bikin berat badan turun tanpa diet dan berolahraga. Perlu diingat, untuk menurunkan berat badan secara sehat, diperlukan usaha dan disiplin, bukan hanya mengonsumsinya lalu duduk bermalas-malasan. Anda perlu berhati-hati terhadap produk-produk seperti ini.

Cara lainnya yang paling penting adalah dengan memastikan sumber berita. Jangan langsung percaya berita yang Anda dapat dari unggahan di Facebook, atau kiriman lewat WhatsApp. Jika datangnya berita bukan dari portal berita nasional, internasional, atau situs web yang spesialisasinya adalah kesehatan, Anda harus skeptis.

Jika Anda ragu dengan kebenaran berita kesehatan yang Anda baca, pastikan dengan mengecek siapa nama tenaga ahli yang namanya tertera di berita, seperti dokter. Ini dapat membantu Anda mengonfirmasi apakah berita tersebut bohong atau sesuai dengan fakta medis atau keilmuan terkini.

Hal ini juga berlaku jika Anda ingin mengonsumsi produk tertentu sembari menjalani pengobatan. Pastikan dahulu dengan dokter Anda apakah produk tersebut aman dikonsumsi berbarengan dengan obat yang anda minum atau tidak. Sebaiknya jangan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter Anda.

Hal yang tak kalah penting dalam menyikapi hoaks, jangan turut menyebarkan berita seputar kesehatan yang tak jelas kebenarannya. Jika ini dilakukan, apalagi tanpa melakukan pengecekan, tanpa Anda sadari Anda turut berkontribusi dalam menyebarluaskan hoaks dan berpotensi memperdaya orang lain. Dengan berusaha tetap waspada, Anda dapat mengindari berita palsu yang dapat menyesatkan, sehingga Anda turut mengedukasi diri dan orang-orang di lingkungan sekitar. Anda juga dapat mengandalkan KlikDokter untuk mengecek apakah berita kesehatan yang Anda terima bohong atau tidak.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar