Sukses

Mengapa Tifus Bisa Datang Bersamaan dengan DBD?

Sangat tak menyenangkan bila harus dirawat di rumah sakit karena tifus sekaligus DBD. Lantas, mengapa keduanya bisa datang bersamaan?

Klikdokter.com, Jakarta Tak jarang Anda mendapati seseorang menderita sakit DBD (demam berdarah dengue) dan tifus sekaligus pada waktu bersamaan atau berdekatan. Dua penyakit tersebut menjadi penyakit yang kerap menginfeksi masyarakat, khususnya di musim hujan. Padahal, penyebab kedua penyakit tersebut berbeda.

Tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella, sedangkan DBD ditularkan oleh nyamuk pembawa virus dengue. Lalu, mengapa seseorang bisa terkena keduanya sekaligus meski penyebabnya berbeda?

Mengenal tifus dan DBD

Tifus merupakan infeksi yang terjadi pada usus halus manusia dan disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Meski asam lambung sebenarnya dapat membunuh kuman, kuman Salmonella kebal terhadap pertahanan asam lambung. Karena itulah, dalam jumlah tertentu seseorang akan terkena infeksi. Bakteri Salmonella biasanya didapat dari makanan tidak higienis.

Tak cuma dari makanan yang kurang higienis, tangan yang kotor pun—terutama yang jarang mencuci tangan—bisa menjadi pemicunya. Semakin Anda kelelahan, makan tidak teratur, dan berujung pada menurunnya daya tahan tubuh, semakin besar peluang Anda tertular penyakit tersebut. Kalau sudah terkena penyakit ini, biasanya Anda akan disarankan untuk bedrest.Bobot tubuh Anda juga akan berkurang sebab ada banyak pantangan makanan agar usus tidak terluka kembali.

Sementara itu, DBD merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk pembawa virus Dengue. Gejala DBD yang umumnya timbul adalah demam tinggi, sakit kepala, nyeri sendi, muncul ruam-ruam di kulit, dan nyeri di belakang mata. Nah, salah satu ciri yang sangat khas dari DBD adalah menurunnya kadar trombosit.

Hal yang berbahaya dari DBD adalah adanya kebocoran pada dinding pembuluh darah, sehingga salah satu komponen darah (plasma) keluar dari pembuluh darah. Kebocoran itu menyebabkan pasien menjadi lemah dan dapat menyebabkan gejala sesak napas karena rongga paru terisi cairan, perut membesar, hingga mengalami syok.

Sebenarnya, tak semua penderita DBD mesti dirawat inap di rumah sakit. Akan tetapi, menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid. dari KlikDokter, jika penderitanya sudah mengalami lemas yang parah, muntah berulang, nyeri perut hebat, mimisan yang sukar berhenti, dan muntah darah, sebaiknya segera bawa ke rumah sakit.

1 dari 2 halaman

Mengapa keduanya bisa datang berbarengan?

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, tifus dan DBD memang dua penyakit berbeda yang sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali. Meski keduanya tidak berkaitan karena penyebabnya berbeda, bukan berarti seseorang tidak bisa terinfeksi keduanya dalam waktu yang berdekatan.

“Sebenarnya bukan berbarengan. Biasanya, orang tersebut menderita salah satunya dulu. Nah, ketika daya tahan tubuhnya semakin menurun akibat salah satu penyakit, barulah dia tertular penyakit selanjutnya dalam jarak waktu yang dekat,” tutur dr. Dyah Novita.

Ditambahkan oleh dr. Dyah, pada umumnya, orang akan terserang DBD dulu, karena itulah yang paling membuat sistem kekebalan tubuh menjadi buruk.

Selain itu, seseorang yang terkena DBD biasanya akan banyak mengonsumsi makanan dan cairan supaya trombositnya naik. Hal tersebut dapat meninggikan risiko tertular bakteri Salmonella dari makanan yang dikonsumsi.

“Tapi perlu diketahui juga, pada dasarnya orang Indonesia memiliki bakteri Salmonella di sistem pencernaannya, cuma tidak terlalu banyak. Apalagi orang Indonesia termasuk orang yang gemar jajan dan jarang menjaga kebersihan. Ketika kecapekan atau kondisi badan drop, barulah bakteri itu menjadi aktif,” dr. Dyah Novita menambahkan.

Oleh karena itu, tetap jaga kebersihan tangan dan makanan yang Anda konsumsi saat sedang terkena DBD. Bila tidak, sakit tifus bisa saja menyerang Anda tidak lama kemudian. Cara paling sederhana yang dapat dilakukan adalah mencuci tangan dan makan makanan higienis. Hal ini juga berlaku bagi kerabat yang menjaga Anda selama sakit. Dengan cara ini, risiko untuk terkena penyakit lanjutan saat sakit DBD, terutama tifus, bisa diminimalkan.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar