Sukses

Indro Warkop, Kanker Paru, dan Pentingnya Dukungan Keluarga

Sepeninggal sang istri akibat kanker, Indro Warkop aktif membagikan kisah bagaimana keluarganya melawan kanker paru stadium lanjut.

Klikdokter.com, Jakarta Indro Warkop masih tampak tegap di usianya yang ke-60 tahun. Siang itu, ia terlihat antusias menjadi salah satu narasumber dalam seminar bertema kanker paru di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, akhir November lalu. Sepeninggal sang istri, Nita Octobijanthy yang meninggal karena kanker paru pada awal Oktober lalu, kini pria bernama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro itu lebih sering membantu sebanyak mungkin orang yang sedang bergumul dengan kanker.

Kepada Klikdokter, pelawak senior ini berbagi kisahnya kala mendampingi istri berjuang melawan kanker paru stadium akhir, hingga akhirnya berpulang menghadap Sang Kuasa pada 9 Oktober 2018.

“Pada tanggal 10 Agustus 2017, istri saya dideteksi ada kanker media sinus stadium 4. Dari hasil rontgen dan CT scan, massanya kurang lebih 8 cm,” ucap Indro membuka obrolannya.

Sempat salah duga

Ingatan Indro seolah kembali jauh ke masa ketika pertama kali istrinya jatuh sakit. Pada awalnya, Indro mengaku bahwa ia dan keluarga sempat salah menduga sakit yang diderita Nita, sang istri.

Awalnya, dia membawa sang istri ke dokter THT karena batuk tak kunjung sembuh, bahkan semakin parah. Istrinya sempat mendapatkan tindakan di sana.

“Dibesarkan lubang hidungnya. Dan itu memang berpengaruh. Sekitar seminggu dua minggu batuknya berkurang,” tutur Indro.

Hanya dua minggu reda, setelah itu batuk Nita pun semakin parah. Akibat batuk tiada henti, Nita mengalami sakit kram perut.

Pada akhirnya, seorang ahli jantung yang juga sahabat Indro, menyarankan agar dirinya bisa memeriksa Nita secara keseluruhan. Saat berada di laboratorium, wanita itu pun mendadak batuk-batuk hebat. Saking parahnya, seluruh badan Nita sampai keram. Ia pun langsung dilarikan ke UGD.

“Akhirnya diperiksa dan ketahuanlah setelah dirontgen ada ‘massa’ di paru,” tutur Indro. Dari kondisi yang tampak, dokter paru yang saat itu memeriksa langsung tahu bahwa Nita adalah perokok.  

1 dari 3 halaman

Pentingnya dukungan keluarga bagi penderita kanker

Pria yang juga akrab disapa dengan sebutan Om Indro ini lantas berkisah saat pertama kali ia tahu sang istri mengidap kanker. Saat itu ia sedang dalam perjalanan untuk promo sebuah film. Sedang menyetir dan sendirian, Indro kaget betul saat sang anak menghubunginya via telepon.

“Tiba-tiba anak saya menelepon bilang, ‘Pa, mami didiagnosis kanker’. Saya langsung telepon produser minta izin saya enggak terusin promo,” kata Indro

Perasaan Indro dan keluarga saat itu sangat kacau, bahkan dia menyebutnya sebagai ‘kiamat’. Indro sekeluarga bahkan sempat terpuruk dalam kesedihan. Kondisi itu berlangsung sekitar seminggu. Dan setelahnya, Indro merasa harus bangkit.

Bagi Indro, kanker adalah derita keluarga, bukan hanya sakit perorangan. Keluarganya saat itu kompak memandang bahwa kanker paru stadium 4 yang diderita sang ibu adalah sakit keluarga dan harus ditanggung bersama. Bagi Indro di situlah peran keluarga sangat besar.

“Ketika salah seorang dari keluarga kita sakit kanker, kita harus ada di situ. Kita harus menemani dia. Kita bahkan harus menjadi dia,” tutur Indro dengan nada serius.

Dia menjelaskan, kadang-kadang orang hanya bisa menyarankan si penderita untuk minum obat, untuk tidur, untuk istirahat saat dia sedang merasa amat sangat kesakitan.

“Tapi kita enggak ngerasain (sakitnya) dia. Jangankan makan obat, masuk air setetes saja kadang bagi dia sakitnya bukan main,” kata Indro. Menurutnya, para anggota keluarga harus bisa mengerti keadaan penderita kanker, bahkan seakan berada di posisinya.

Lalu, bagaimana cara Indro menerapkan ini sebagai sakitnya keluarga? Dia dan keluarganya selalu berada di samping Nita sepanjang wanita itu menjalani pengobatan. Kecuali saat ada pekerjaan, Indro mengaku dirinya selalu menyediakan waktu untuk menemani istrinya menjalani pengobatan.

Kehadiran Indro di sisi sang istri sekaligus menjadi “obat”. Itu karena Nita tak jarang dilanda rasa takut akan kematian. Indro selalu menekankan pada Nita bahwa ini cuma sakit kanker. Dan bukan kanker yang membuat seseorang meninggal, melainkan takdir Tuhan.

“Setiap ada temuan baru saat diperiksa, dia bilang pada saya, ‘Saya takut’. Lalu saya tenangkan dia, ‘Saya juga takut’. Tapi saya bilang lagi, ‘Insyaallah kalau sama-sama kita tidak takut’,” tutur Indro.

2 dari 3 halaman

Bangkit dan melanjutkan hidup

Bagi Indro ketika seseorang dinyatakan sakit kanker, jangan selalu berpikir mengenai kematian. Itu pula yang pernah disampaikan Indro kepada istrinya saat itu. Kenyamanan yang dirasakan sang istri berada di sisi keluarga, menurut Indro, terlihat di saat-saat terakhir istrinya.

Ketika itu istrinya tidak mau masuk ICU, meski kondisinya sudah layak untuk masuk ICU. “Karena dia bergantung pada kami keluarganya. Dia merasa obat terbesarnya adalah anak dan cucunya, suaminya. Dia sendiri yang ngomong begitu,” Indro menjelaskan.

Beberapa bulan sepeninggal Nita Octobijanthy, Indro dan keluarga sudah bangkit. Kini, Indro aktif membagikan kisahnya pada masyarakat agar lebih sadar dan waspada terhadap kanker, tak hanya kanker paru.

“Ini semacam janji saya. Kebetulan yang bisa ngobrol dan ngomong (di depan banyak orang) adalah saya dan anak saya nomor 2 yang kebetulan manajer saya. Jadi ini yang kami lakukan, mengedukasi sebanyak mungkin masyarakat terkait kanker,” tuturnya.

Mantan perokok berat

Indro sendiri lalu bercerita bahwa dirinya juga dulu adalah perokok berat. Ia mulai merokok sejak sekitar tahun 1969,  hingga akhirnya berhenti pada tahun 1998.

“Saya merokoknya enggak kira-kira,” kata Indro.

Ia mengaku dulu bahkan bisa merokok sampai empat bungkus rokok dengan filter dan satu bungkus rokok tanpa filter dalam sehari.

Sekitar tahun 1998, Indro memutuskan berhenti merokok lantaran melihat anaknya yang masih berusia 5 tahun memegang rokok.

“Dia minta dipotret sambil bergaya merokok. Dia bilang ‘ini kayak papah, nih’. Saya pikir, wah ini bakalan merokok juga nih nanti. Sejak itu saya berhenti,” kenang Indro. Kini, Indro menyesali kebiasaannya merokok itu.

“Saya merasa kebodohan terbesar saya dalam hidup adalah merokok. Karena ternyata merokok sama sekali enggak ada gunanya untuk tubuh,” ujar Indro.

Terkait bagaimana caranya berhenti merokok, Indro tidak punya trik atau kiat khusus. “Ya berhenti saja. Setop,” jawabnya singkat.

Baginya, kalau sudah ada niat kuat dari dalam hati, berhenti merokok bukanlah hal mustahil. Selain itu, kondisi kanker paru yang merenggut istrinya, membuat Indro berharap masyarakat dapat melakukan deteksi dini kanker, sebelum telanjur mencapai stadium lanjut.

Selain itu, bagi keluarga penderita kanker, Indro Warkop ingin memberikan kekuatan dan dukungan. Menurut Indro yang pernah mendampingi istrinya yang menderita kanker paru, dukungan keluarga adalah motor utama penggerak semangat sekaligus obat paling berharga yang dapat diberikan kepada penderita kanker.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar