Sukses

Virtual Tumour, Teknologi VR Baru untuk Cek Sel Kanker

Dunia kedokteran punya teknologi VR baru untuk melihat detail sel kanker. Seperti apa cara kerjanya untuk pengobatan kanker di masa depan?

Klikdokter.com, Jakarta Anda mungkin setuju bahwa pengobatan kanker sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Semakin banyak metode atau teknologi terbaru yang bisa mendeteksi dan menyelami sel kanker pada tubuh manusia, semakin cepat pula ditemukannya cara efektif untuk mengobati penyakit kronis tersebut.

Hal itu rupanya sudah diamini para ilmuwan dari Cambridge Institute. Mereka berhasil membuat metode baru untuk melihat sel kanker secara 3D – berupa virtual tumour - dengan cara penggunaan virtual reality (VR).

Dilansir dari BBC, dengan menggunakan virtual tumour, sampel tumor yang diambil dari pasien dapat dipelajari secara detail dari semua sudut. Sehingga, sel tumor dapat dipetakan dengan lebih jelas.

Para peneliti mengatakan, hal itu akan meningkatkan pemahaman para ilmuwan dan dokter mengenai kanker dan membantu mereka dalam mencari perawatan baru yang efektif.

Proyek penelitian virtual tumour ini merupakan bagian dari skema penelitian internasional. Atau lebih tepatnya, virtual tumour adalah bagian dari Grand Challenge Award Cancer Research UK Cambridge Institute (CRUK). Sehingga, jika proyek ini sudah sukses dipatenkan, manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia.

Cara kerja virtual tumour

Sembari menunggu metode tersebut diterapkan di Indonesia, mungkin Anda ingin mengetahui bagaimana cara kerja dari virtual tumour.

Pertama, para peneliti mulai dengan sepotong biopsi jaringan kanker payudara setebal 1 mm. Dalam jaringan kanker payudara setebal 1mm itu, terdapat 100.000 sel. Kemudian, potongan itu diiris, dipindai (di-scan), kemudian diwarnai untuk menunjukkan karakteristik molekul dan DNA-nya.

Nah,dalam laboratorium, sistem VR tersebut mampu menganalisis sel tumor secara 3D. Bahkan, Director of CRUK Cambridge Institute yang bernama Prof. Greg Hannon mengungkapkan kepada BBC, belum pernah ada pemeriksaan geografi tumor hingga sedetail ini. Itulah mengapa, virtual tumour ini dinilai merupakan cara baru dalam memandang kanker dan patut diacungi jempol.

Sementara itu, di dalam laboratorium, jaringan manusia yang sangat kecil dapat ditampilkan dalam ukuran lebih besar hingga beberapa meter untuk diteliti secara rinci. Prof. Hannon juga mengatakan, dengan menggunakan virtual tumour, para dokter jadi bisa mengetahui di mana titik penyebaran kanker dan melihat sel-sel kanker yang paling ganas.

Tak cuma itu, metode canggih tersebut bisa membantu Anda memahami bagaimana sel-sel kanker berinteraksi satu sama lain, termasuk dengan jaringan sehat. Jika para ilmuwan dan dokter bisa melihat cara kerja sel kanker merusak jaringan sehat secara detail, akan lebih mudah bagi mereka untuk menghentikan pergerakan tersebut dan bisa mengembangkan terapi baru yang lebih sesuai.

Kesimpulannya, penemuan virtual tumour ini sangat membantu dunia kedokteran dalam mengurus “dunia kanker”. Pasalnya, selama ini para dokter hanya menggunakan versi 2D yang sebenarnya kurang bisa memperlihatkan bagaimana realita kondisi dari jaringan, sel, dan penyebaran kanker di tubuh manusia. Alhasil, pendeteksian serta pengobatan kanker hanya berkutat di situ-situ saja.

Dengan teknologi VR 3D ini, diharapkan ahli medis bisa membuat memeriksa sel kanker secara lebih secara rinci dari berbagai sudut. Hal itu turut memengaruhi rekomendasi terapi kanker pada pasien. Maka, berdoa saja, ya, semoga ahli medis di Indonesia segera bisa menggunakan metode virtual tumour untuk mendeteksi kanker dan para pasien kanker menjadi punya harapan hidup yang lebih tinggi.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar